
“Tunggu sebentar!” teriak Hendri sembari berjalan ke depan. Entah siapa orang yang terus saja membunyikan bel pintu rumahnya. Sampai-sampai Hendri tidak bisa menyelesaikan acara mandinya.
Hendri membuka pintu itu. Dahinya berkerut. Rupanya Zeolah yang berdiri di depan pintu.
“Ze? Ngapain kamu di sini?” tanya Hendri.
“Apa Abang selalu buka pintu sembarangan kayak gini?” Zeo melirik ke depan.
Pandangan Hendri mengikuti lirikan Zeo yang mendarat ke dada telanjangnya. Seketika Hendri memeluk tubuhnya sendiri.
Ah, sial! Sepanik apa pun, tidak seharusnya kamu ceroboh seperti ini, Hendri! Bahkan jika Zeo adalah adikmu, Zeo sudah dewasa sekarang.
“Tunggu sebentar!” seru Hendri.
Hendri mendorong pintu untuk menutupnya. Akan tetapi, Zeo lebih gesit menahan lalu mendorong dengan kekuatan lebih besar.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Hendri dengan tampang bodohnya.
“Abang enggak bakal nyuruh aku terus berdiri di depan pintu kayak penjaga keamanan, kan?” timpal Zeo.
Ah, sial! Lagi-lagi Hendri ceroboh dalam berpikir.
__ADS_1
Hendri melepaskan tangannya dari pintu. “Ya udah. Masuk. Aku tinggal ke dalam dulu,” tutur Hendri. Dia langsung berbalik dan segera pergi masuk ke dalam rumah.
Zeo berjalan memasuki rumah itu. Akan tetapi, dia tidak langsung duduk. Dia membiarkan pandangannya berkeliaran lebih dulu menjelajahi setiap inci rumah kakaknya ini.
Jujur saja Zeo merasa kagum kepada kakaknya. Kini laki-laki itu menjadi orang sukses. Bisa membangun rumah sendiri di kota, bahkan membangunkan rumah pula untuk orang tuanya.
Di saat seperti ini, rasa menyesal Zeo meletup sedikit-sedikit. Terkadang dia juga ingin lulus sekolah dan bekerja seperti para perempuan karir lainnya. Namun, mau bagaimana lagi, kesalahannya bersama Bara sudah terjadi dan berlalu terlalu lama.
Tidak apa, Zeo. Sekalipun hanya sebagai ibu rumah tangga, setidaknya putramu tidak kekurangan waktu dan pelukan darimu.
Hendri sangat lama di dalam. Entah dia tengah melanjutkan mandi atau malah menonton televisi. Zeo lelah berdiri. Dia pun duduk di atas sofa. Tak lama, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya kembali bersama sebuah nampan berisi teh dan camilan.
Hendri meletakkan nampannya di atas meja. Kemudian dia duduk di atas sofa lain di samping Zeo.
“Lagi nganterin Putra ke rumah mertua. Katanya lagi kangen sama neneknya,” jawab Hendri.
Zeo manggut-manggut sembari memikirkan sesuatu. Mungkinkan ini adalah waktu yang pas?
“Kamu kok ada di sini enggak kasih kabar ke Abang?” tanya Hendri.
“Tadinya aku bukannya mau ke sini, tapi mau ketemu Tiwi,” ujar Zeo.
__ADS_1
“Tiwi?” Dahi Hendri berkerut. “Buat apa lagi kamu ketemu dia?” tanyanya.
“Buat minta maaf,” jawab Zeo.
Minta maaf?
Hendri tidak salah dengar, kan?
Jelas-jelas Tiwilah yang sudah mempermainkan kehidupan Zeo dan keluarganya. Apa otak Zeo sedang bermasalah?
“Emangnya kamu punya salah apa? Dia yang salah aja enggak minta maaf,” sindir Hendri ketus.
“Emang Tiwi kemarin enggak minta maaf?” Zeo menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa, dia tidak yakin tentang itu.
Hendri hanya memalingkan wajahnya. Tiwi malah berkali-kali mengatakan itu, tetapi Hendri hanya enggan mengakui.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗