
Selalu like dan komen 🤗
Cuz ....
💃💃💃
Salju di Rusia begitu dingin. Orang-orang menjadi enggan untuk keluar dari rumah. Hanya asap yang berasal dari tungku yang berani bercumbu dengan dinginnya udara di musim salju. Sialnya, tidak ada asap yang akan keluar dari rumah Zeo. Itulah kenapa, dengan terpaksa Baralah yang harus keluar dari rumah.
Semua ini karena istrinya yang bodoh itu! Kalau bukan karena Zeo tidak memastikan cadangan kayu bakarnya dengan baik, mereka tidak akan kehabisan seperti ini.
Ah, dasar Zeo sialan! Untung saja Bara Cinta. Kalau tidak ….
Setelah mengumpulkan kayunya, Bara mulai mengangkutnya ke dalam rumah. Di angkutan kayu terakhir, tiba-tiba Zeo bertingkah berbeda. Dia meminta kayu itu biar dirinya yang menyimpannya ke dalam rumah. Sedangkan Bara disuruhnya untuk duduk saja di atas sofa.
Bara menurut begitu saja. Meski dia keheranan, dia yakin Zeo tidak akan memakannya di sana.
Tak lama, Zeo kembali. Dia pun duduk di atas sofa di samping Bara.
“Ada apa?” tanya Bara.
“Kita harus kembali ke rumah,” jawab Zeo.
“Ini, kan, rumah kita,” koreksi Bara.
“Maksudku, rumahmu di Indonesia. Kita harus kembali ke Indonesia,” jelas Zeo.
__ADS_1
“Tapi kenapa? Bukannya keluargamu baik-baik aja?” Bara mengernyitkan dahinya.
“Karena aku udah kabarin keluargaku kalau aku bakal balik ke Indonesia,” tutur Zeo.
Bara langsung mendelik. “Kenapa kamu baru bilang sekarang?” protesnya.
“Karena kalau aku bilang sebelumnya, kamu enggak bakal bolehin aku. Kamu pasti larang aku. Weeek ….” Zeo memeletkan lidahnya. Benar-benar mengejek Bara sebagai kepala rumah tangga.
Ah, sialan! Memang … Zeo itu hanya bisa membuat ulah saja.
“Aku enggak mau!” tolak Bara. Dia membalikkan tubuhnya sehingga hanya punggungnya yang menyapa Zeo. Sedangkan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Apa kamu enggak mau ketemu sama anakmu? Emangnya kamu enggak kangen?” tanya Zeo.
“Maksudnya Satria,” jelas Zeo.
“Bilang aja kamu yang kangen,” tuduh Bara.
Zeo malah berdengus merasa geli. Jadi, Pak Baranya ini merasa cemburu?
Zeo pun melingkarkan tangannya ke tubuh Bara. Dia memeluk laki-laki itu erat-erat. Sedangkan kepala Zeo bertengger di atas pundak Bara. Mulutnya tepat berada di samping telinga Bara.
“Maksudnya, kamu itu cemburu?” tuduh Zeo dengan suara berbisik.
“Aku hanya mengatakan kebenaran,” elak Bara.
__ADS_1
“Benarkah?” Zeo ragu tentang itu.
Bara tak lagi menyahut.
“Kamu benar,” tutur Zeo memilih mengikuti alur permainan.
“Aku emang kangen sama Satria,” jelas Zeo.
Bara langsung melepaskan tangan Zeo dari tubuhnya. Kemudian dia memberikan jarak antara dirinya dan Zeo, lalu berbalik sehingga menghadap Zeo.
“Kamu, kok, gitu, sih?” protes Bara.
“Emangnya apa yang salah? Toh, aku kangen sama anakku sendiri,” bela Zeo.
“Tapi anakmu itu udah dewasa. Apa lagi dia laki-laki.” Bara semakin menunjukkan kecemburuannya sendiri.
Cemburu pada anak sendiri?
Perasaan macam apa ini?
“Meski begitu, anak tetaplah anak dan orang tua tetaplah orang tua. Anak tetap menjadi anak-anak bagi orang tua dan orang tua tetap menjadi orang dewasa bagi anak. Hubungan ini enggak akan bisa berubah sampai kapan pun. Karena yang namanya mantan anak atau mantan orang tua itu enggak ada,” jelas Zeo.
“Tapi, dia, kan, anak tirimu,” protes Bara.
“Dan dia anak kandungmu,” Zeo menambahkan.
__ADS_1