
“Oh, ya. Jadi, kamu selama ini tinggal di mana?” tanya Hendri.
“Bukannya aku sering bilang ya, di surat, kalo aku tinggal di Rusia?” jawab Zeo.
“Jadi, kamu benar-benar tinggal di sana?” tanya Hendri tak menyangka. Dalam hati dia merasa lega. Itu berarti adiknya benar-benar baik-baik saja.
“Iyalah. Masak aku ngawang di atasnya?” timpal Zeo.
Tiba-tiba Hendri merangkul pundak Zeo lagi. Begitu dekat sampai Zeo merasa sesak. Hendri bahkan mengusap-usap rambut Zeo penuh kasih sayang dengan tangan satunya.
Ada apa ini? Kenapa Hendri tidak bertingkah biasanya? Apa rindu bisa membuat pikirannya menjadi gila?
“Kamu pasti merasa sangat berat. Abang bangga karena kamu mampu berjuang dan melewati semuanya sendirian. Abang pikir kami itu adik sialan dan anak yang hanya bisa menciptakan masalah buat keluarga. Tapi kamu malah menyelesaikan masalahmu sendirian,” ujar Hendri.
Zeo mengernyitkan dahinya. Apa Hendri tahu sesuatu? Maksudnya, soal kehamilan Zeo?
Tapi bagaimana mungkin?
Orang yang tahu soal kehamilannya, kan, hanya Bara, Satria, Tiwi, dan dokter perempuan itu.
Ah, iya, iya. Ada satu lagi, tapi bukan orang, melainkan Tuhan.
“Masalah apa?” tanya Zeo.
“Masalah pernikahanmu itu,” jawab Hendri
“Abang udah tahu semua?” tanya Zeo.
“Lebih dari semua. Bahkan segalanya,” timpal Hendri.
__ADS_1
Seketika Zeo menjadi gugup. Kalau Hendri sudah tahu soal kehamilannya, bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa mereka tahu juga? Namun, kenapa mereka malah menyambut Zeo dengan senyum dan perasaan bangga?
“Abang tahu dari mana?” tanya Zeo.
“Dari Tiwi sama Satria,” jawab Hendri.
“Abang yakin?” tanya Zeo lagi. Dia masih merasa tidak percaya.
Hendri menganggukkan kepala. “Iya. Mereka sendiri yang bilang ke aku,” jawab Hendri.
Zeo malah tersenyum. Selah kalimat yang Hendri ucapkan baru saja hanyalah lelucon.
“Aaah …. Itu enggak mungkin, lah, Bang,” ujar Zeo berusaha mengelak.
“Kalau kamu enggak percaya sama Abang, tanyain sendiri aja ke mereka. Abang ketemu mereka beberapa hari yang lalu di taman. Dan mereka bilang itu ke Abang tanpa rasa malu sedikit pun,” ujar Hendri meyakinkan.
Apa yang sebenarnya terjadi ini?
Zeo terimpit di antara dua kubu orang terdekatnya yang saling berlawanan.
Selama ini, Zeo selalu merasa kecewa kepada kakaknya. Namun, kini dia mulai memiliki keraguan kepada orang yang paling dia hargai selama ini.
-oOo-
Baru saja Satria keluar dari pintu dan tengah menuruni tangga di depan rumahnya, dia sudah berhenti. Napas yang keluar dari mulutnya bahkan sampai mengeluarkan suara yang keras. Sedangkan jauh di depannya, terlihat sebuah wajah tak asing. Kaki orang itu tengah berjalan mendekati rumahnya.
Padahal ini baru beberapa hari setelah dia kemari, tetapi Bara sudah datang lagi.
“Ada apa?” tanya Satria dengan pandangan membuang ke samping, saat Bara sudah menghentikan langkah tepat di depannya.
__ADS_1
“Aku ingin menemui Zeo,” jawab Bara.
“Anda enggak bisa menemui Zeo di sini,” larang Satria.
“Tolong biarkan aku menemuinya. Seenggaknya—“
“Dia udah enggak di sini,” terang Satria memotong ucapan Bara.
“Ha?” Mulut Bara membuka. Dia terperangah.
Bagaimana itu mungkin?
Bukankah beberapa hari lalu Zeo masih ada di sini?
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1