Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
148. Perasaan Aneh


__ADS_3

“Tuan,” sapa Tiwi sembari menunduk saat Satria berjalan di depannya.


Satria menghentikan langkahnya. Meski Tiwi sudah bersikap kaku seperti itu sejak beberapa hari lalu, Satria masih merasa asing. Seolah sikap sopan Tiwi selama enam tahun yang lalu tak pernah terjadi.


“Tunggu,” panggil Satria tanpa menoleh.


Tiwi pun berlari kecil sehingga berdiri di depan Satria. “Iya, Tuan,” sahutnya.


“Ngapain lo panggil gue Tuan lagi?” tanya Satria.


“Kan, Tuan Satria emang majikan say,” jawab Tiwi dengan ekspresi datar.


Tiwi tidak mungkin, kan, tidak tahu alasan Satria menanyakan itu?


Akan tetapi, kenapa Tiwi bisa bertahan dalam sikap biasanya?


“Wi!” panggil Satria.


“Iya, Tuan,” sahut Tiwi dengan sabarnya.


“Sekarang ….”


Ah, sial! Satria tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kalau dia menyuruh Tiwi bersikap akrab seperti sebelumnya, Satria khawatir pada apa yang akan Tiwi pikirkan tentangnya.


Selain hubungan antara Tuan dan bawahan, memangnya ada hubungan apalagi antara Tiwi dan Satria?


“Enggak jadi,” ujar Satria menyerah.


“Lo bisa pergi sekarang,” usir Satria.


“Baik, Tuan,” timpal Tiwi.

__ADS_1


Tiwi pun berjalan melewati Satria dengan menunduk. Hanya sebentar, Satria langsung menoleh. “Wi!” panggilnya.


Seketika Tiwi menoleh dan berlari kecil mendekati Satria. “Ada apa, Tuan?” tanyanya.


“Lo enggak ada gitu, sesuatu yang mau lo bicarain ke gue?” tanya Satria.


Tiwi diam berpikir sejenak. Kemudian menggelengkan kepala. “Enggak ada, Tuan,” jawabnya.


Satria mengembuskan napasnya seolah tidak rela. “Ya udah. Balik sana!” usir Satria.


“Baik, Tuan.” Tiwi mengangguk dan akhirnya benar-benar pergi.


Kini tertinggal Satria sendiri yang sibuk mengacak-acak rambutnya saking merasa menyesal dan frustasi.


“Oh, tidaaak …. Sebenarnya apa yang kamu harapkan, Satria?!”


-oOo-


Sedari tadi Bara menunduk. Kedua tangannya menggenggam di depan. Untuk pertama kalinya Bara ketakutan menghadap seseorang: siapa lagi kalau bukan ayah mertuanya?


“Jadi, kamu orang yang bikin anakku gagal nikah sama orang kaya?” tanya Pak Doki dengan nada mengintimidasi.


“Iya, Pak,” jawab Bara memberanikan diri.


“Kamu juga yang menikahi anakku setelah itu?” tanya Pak Doki.


“Iya, Pak,” jawab Bara yang masih bertahan.


“Dan kamu juga yang membawa lari anakku ke Rusia?” Pak Doki masih menambahi.


“Iya, Pak.”

__ADS_1


Seketika keadaan menjadi diam. Hanya kecanggungan yang mengisi. Zeo yang sedari tadi berdiri di samping Bara untuk menenangkan suaminya merasakan aura ketidaknyamanan. Dia pun meringis. Berusaha memecahkan kebekuan di antara menantu dan mertua ini.


“He he …. Ayolah, Pak. Jangan galak-galak. Dia kan suamiku, orang tercintanya anakmu,” bela Zeo.


Pak Doki tidak menyahuti Zeo. Zeo jadi tidak tahu harus bagaimana lagi.


“Kenapa kamu bawa lari anakku gitu aja?!” sentak Pak Doki tiba-tiba.


“Pak!” pekik Zeo. Dia semakin ketakutan. Sedangkan Bara langsung mengangkat kepalanya saking terkejut.


“Seharusnya kamu enggak usah balikin dia ke sini,” imbuh Pak Doki. Dia malah tertawa.


Jadi, seluruh kecanggungan tadi hanya candaan?


“Kamu tahu enggak, gara-gara anak sialan ini tinggal di sini selama beberapa hari, beras buat satu bulan malah habis dalam satu minggu,” jelas Pak Doki.


“Paaak …,” rengek Zeo karena ayahnya malah mempermalukan dirinya.


“He … he ….” Meski awalnya terasa kaku, akhirnya Bara malah ikut tertawa. Rupanya mertuanya ini asyik juga.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2