
Satria tidak lagi menyahut. Sedangkan Tiwi langsung berbalik dan melangkahkan kakinya. Saat baru saja dia membuka pintu, tiba-tiba Tiwi teringat oleh sesuatu. Dia pun menoleh ke Satria lagi.
“Oh, ya, Tuan …,” panggil Tiwi.
Satria seketika menoleh. Ekspresi terkejut melekat erat di wajahnya. “Ada apa?” sahutnya.
“Terima kasih,” ujar Tiwi. Dia bahkan melebarkan kedua sudut bibirnya. Memamerkan betapa manisnya bibir itu. Kemudian benar-benar pergi setelah menutup pintu.
Kini Satria bebas melakukan apa saja. Dia bebas meloncat-loncat, bahkan memukul-pukul udara yang tak bersalah. Entah apa saja kata-kata yang telah menggerakkan bibirnya.
Tiba-tiba seluruh gerakan kacau Satria berhenti. Bola matanya membundar sempurna. Dia berhasil melupakan ingatan yang terlupakan.
Satria bergegas melangkah keluar dari kamarnya. Kini dia berjalan menuju kamar Tiwi. Saking paniknya, dia sampai melupakan penyesalannya beberapa hari lalu. Lagi-lagi dia membuka pintu kamar Tiwi tanpa permisi.
“Wi—“
“WAAAH …!”
Brak! Satria langsung menutup pintu itu kembali.
Ah, sial! Lagi-lagi Satria harus merutuki dirinya sendiri. Dia begitu terburu-buru sampai bertindak ceroboh yang jarang sekali dia lakukan.
Akhirnya Satria hanya berdiri bersandar dinding sambil menunggu Tiwi—sampai perempuan itu selesai mengganti pakaiannya.
Tak lama, Tiwi keluar. Ekspresi di wajahnya penuh ketakutan. Padahal dia tahu benar kalau Satria tidak sengaja.
Oh, Satria. Sampai kapan kamu benar-benar akan merubah kebiasaan burukmu ini?
__ADS_1
“A-ada apa?” tanya Tiwi.
Satria pun bangun. Dia memisahkan punggungnya dari dinding dan melangkah sehingga berdiri tepat di hadapan Tiwi.
“Ma-maafin gue soal tadi,” ujar Satria.
“Iya. Tapi tolong, jangan lakuin lagi, Tuan,” timpal Tiwi.
Satria menatap Tiwi lekat-lekat. Entah kenapa, mendengar Tiwi menyebutnya tuan lagi, membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah ada jarak yang sangat jauh di antara mereka. Bukannya memang harus begitu, ya?
Satria tidak mempermasalahkan soal panggilan itu dulu. Ada yang lebih penting dari itu.
“Jadi, kapan kita mau ketemu sama Zeo?” tanya Satria.
Seketika bola mata Tiwi membelalak. Ah, sial! Dia terlalu terlarut dalam kesedihannya sampai melupakan itu.
“Ya, bergegas pergi buat ketemu Zeo sekarang,” timpal Satria.
“Kalau gitu, ayo!” seru Tiwi. Tanpa sadar, dia malah melangkah setelah menarik tangan Satria. Namun, Satria malah tidak menggerakkan kakinya.
Tiwi keheranan pada langkahnya yang menjadi berat. Dia pun menoleh. “Apa yang terjadi?” tanya Tiwi.
“Apa lo mau ke rumah Zeo terus-terusan jalan kaki?” sindir Satria.
Tiwi mengernyitkan dahinya. Sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Satria.
“Gue mau ambil kunci mobil dulu,” jelas Satria. Untung saja dia pintar dan baik dalam membaca ekspresi wajah seseorang.
__ADS_1
“Oh, ya udah, ambil,” timpal Tiwi.
Satria melirik ke bawah. Pandangan Tiwi pun mengikuti arah lirikan itu. Seketika dia terperanjat. Dia pun melepaskan tangannya.
“Oh oh … maaf,” ujarnya.
Satria hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian melangkah pergi.
Sedangkan Tiwi yang masih diam di tempat, kini memukuli kepalanya dari kedua sisi. Dia merutuki tindakannya baru saja.
Oh, Tiwi … sudah lama kamu tidak bertindak ceroboh. Kenapa sekarang lagi?
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗