Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
147. Shira Vs Zeo


__ADS_3

Shira mengangkat sudut bibir kirinya. Rupanya Zeo adalah orang yang menarik.


“Bagaimana kamu yakin itu?” tanya Shira.


“Karena aku melihat keyakinan di mata suamiku,” jawab Zeo penuh keyakinan.


“Jangan terlalu percaya diri. Kita tidak sedang berada di dalam drama,” ujar Shira.


“Karena kita tidak sedang berada di dalam drama, makanya aku percaya diri. Hanya di drama seorang perempuan akan mengakui dirinya sebagai selingkuhan, tapi di dunia nyata, mereka akan terus bersembunyi dan menjadi pengecut seumur hidup.” Akhirnya Zeo berhasil menaikkan sudut bibir kirinya. Dia tidak mau kalah dari perempuan licik ini.


“Lalu kenapa kamu sampai marah ke Bara?” tanya Shira.


Zeo mengernyitkan dahi. Dari mana Shira tahu? Bara tidak mungkin menceritakan semuanya, kan?


“Enggak usah serius gitu. Udah ketebak dari cara suamimu ngemis-ngemis ke aku,” ujar Shira seolah menjawab pertanyaan dalam pikiran Zeo.


Zeo menggeleng-gelengkan kepala. Shira benar-benar pandai dalam merendahkan orang lain.


“Mungkin aku terpengaruh untuk sejenak. Tapi itu hanya menjadi alasanku saja. Kenyataannya aku marah bukannya karena ulahmu, tapi aku hanya kecewa sama suamiku. Udah!” tegas Zeo.


Istri mana yang tidak akan kecewa kalau ditinggal tanpa pamit di tengah-tengah tidurnya?


Dua malam lagi: tidak kembalinya.


Tahu-tahunya malah tidur di kamar perempuan lain.


Sebenarnya bukan Shira yang salah, tetapi Bara yang tidak peka.


Shira hanya tertawa menanggapi Zeo. Dia pun menghabiskan jusnya yang tinggal sedikit.


“Aku udah cukup jelasin sama kamu. Sekarang giliranmu. Kamu bisa tanya apa pun ke aku,” tutur Shira usai meletakkan gelasnya ke atas meja.


“Emang ini yang aku tunggu sedari tadi,” timpal Zeo.


“Jadi ….”


“Kenapa kamu melakukan itu pada rumah tanggaku?” tanya Zeo.


“Maksudmu?” Shira tidak mengerti.

__ADS_1


“Berulah di tengah-tengah rumah tanggaku. Melihatmu mau menjelaskan tanpa keberatan, sepertinya kamu bukan perempuan yang ambisius,” jelas Zeo.


Shira kembali tersenyum sinis. Setelah diperhatikan baik-baik, selera Bara bagus juga. Sudah cantik, masih muda, dan cerdas.


Memangnya sejak kapan Zeo menjadi cerdas?


Apa berpisah dengan Bara membuatnya banyak memakan kuningnya telur?


“Apa aku tidak mencintai Bara—begitu maksudmu?” tebak Shira.


Zeo menganggukkan kepala. “Iya. Kalau kamu emang mencintai suamiku, kamu enggak akan menyerah dengan mudah.”


“Aku bukannya menyerah, tapi aku hanya bermain-main. Kebetulan aja permainan ini udah selesai,” timpal Shira.


“Lalu kenapa harus suamiku?” tanya Zeo.


“Entah kenapa, bertemu Bara setelah bertahun-tahun membuatku merasa tertarik,” jawab Shira.


Kini gantian Zeo yang tersenyum sinis. Cukup Shira bermain-main, malah Zeo yang menemukan kemenangan.


“Apa artinya kamu mencintai suamiku?” tuduh Zeo.


“Bisa jadi ketertarikanmu pada suamiku adalah wujud cinta pertamamu,” timpal Zeo.


Shira malah tertawa seolah-olah menutupi api yang meletup-letup dalam hatinya.


“Ucapanmu … seperti membangunkan singa yang tertidur,” tutur Shira.


Shira memang tersenyum, ekspresi di wajahnya seolah dirinya dalam ketenangan. Akan tetapi, tidak dengan api yang terpantul dalam bola matanya.


Ya. Shira mulai tersinggung.


Zeo bangun. “Terserah bahkan jika mulutmu terbuka sangat lebar. Karena aku sangat percaya kalau suamiku tidak akan mengorbankan dagingnya untuk menjadi makananmu,” sindir Zeo.


Zeo melangkah. Beranjak pergi meninggalkan Shira.


Brak! Itu terdengar seperti sesuatu yang dipukul ke meja.


Apa sesuatu itu adalah tangannya Shira?

__ADS_1


Entahlah. Zeo tidak peduli. Dia terus berjalan tanpa menoleh.


Sesampainya di dekat mobil, Zeo melihat Bara tengah melambaikan tangan ke arahnya. Zeo pun melukiskan senyum di wajahnya. Kemudian mempercepat langkahnya.


Setelah memasuki mobil, Zeo langsung mendorong dengan ciumannya sampai kepala Bara menabrak ke pintu.


“Hei, apa yang terjadi?” pekik Bara setelah ciuman itu terlepas.


“Aku hanya rindu padamu,” timpal Zeo. Kemudian dia membaringkan kepalanya di atas dada Bara dan memejamkan matanya.


“Kamu enggak akan tidur seperti ini, kan?” tanya Bara.


“Biarkan aku seperti ini sebentar,” timpal Zeo.


“Bukannya kamu mau memperkenalkan aku pada mertua?” tanya Bara.


“Kita bisa melakukannya besok,” jawab Zeo.


“Bagaimana ini … padahal perutmu akan terisi satu anak lagi,” goda Bara.


“Awh!” jerit Bara karena Zeo mencubit perutnya. Kemudian mereka tertawa bersama. Seolah dunia mereka tak pernah lepas dalam genggaman tangan.


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2