Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
58. Di Hari Pernikahan


__ADS_3

“Apa maksudmu Zeo?” tebak Bara.


Satria hampir saja tertawa. Dia kagum akan tebakan Bara yang tidak melesat sedikit pun.


“Sepertinya Anda benar-benar sudah menguntit saya,” sindir Satria.


Menguntit? Apa itu yang penting sekarang?


“Aku turut bahagia asal kamu bahagia. Tapi kalian masih sangat kecil. Apa ada masalah mendesak?” tanya Bara khawatir. Keputusan ini tidak seperti Satria yang tegas dan dewasa. Lalu Zeo ….


Bukannya perempuan itu selama ini hanya mengejar Bara?


Kenapa begitu tiba-tiba?


“Kalau Anda turut bahagia untuk kebahagiaan saya, lalu kenapa dulu Anda malah membuat saya dan ibu saya menderita?” sindir Satria.


Tatapan Bara menurun. Dia merasa malu akan dirinya sendiri.


Satria membuang muka ke samping. Dia muak melihat wajah Bara yang penuh penyesalan. Begitu menjijikkan!


“Lagi pula masalah apa yang bisa menimpa saya? Masalah dalam hidup saya hanya satu, yaitu Anda. Dengan kepergian Anda, maka masalah saya sudah berakhir,” tutur Satria.


“Baiklah. Aku akan pergi,” timpal Bara. Akhirnya dia membulatkan keputusannya. Kemudian dia mendongak. Dia sungguh-sungguh memiliki harapan. “Tapi, biarkan aku mengunjungi pernikahanmu dan memberikanmu hadiah terakhir.”


“Tidak menghancurkan kebahagiaanku dengan menunjukkan wajahmu adalah hadiah terakhir yang paling kuharapkan. Jadi pergilah di hari itu juga tanpa meninggalkan jejak kakimu di aula pernikahanku!” tegas Satria.


-oOo-

__ADS_1


Satria dan Zeo bersama-sama mencoba gaun pernikahan mereka yang sudah diatur oleh Andi. Namun, Andi tidak ikut hari ini karena Satria ingin berdua saja dengan Zeo.


Satria mencoba lebih dulu pakaian pernikahannya. Setelah puas, kini giliran Zeo yang memakai.


Zeo memandang dirinya di depan cermin. Dia tidak menyangka bisa mengenakan gaun secantik ini dan secepat ini. Dirinya yang cantik menjadi sangat cantik. Bak seorang putri menjadi seorang dewi. Meski begitu, Zeo tidak senang sama sekali. Tatapannya menjadi sayu. Tiba-tiba dua tangan melingkar di perutnya. Lalu dagu Satria bertengger di atas pundaknya.


“Tersenyumlah,” kata Satria.


Zeo mencoba tersenyum. Namun, dia tidak kuat sama sekali. Senyum itu langsung turun. Kini matanya malah berkaca-kaca. Satria langsung melepaskan pelukannya.


“Ada apa denganmu?” tanya Satria khawatir.


“Aku enggak tahu harus berbuat apa,” jawab Zeo.


“Apa maksudmu? Kita hanya perlu menikah dan kamu bertanggung jawablah layaknya seorang istri.”


“Apa kamu yakin kita akan bahagia?”


“Maksudku, aku tidak pernah mencintaimu. Kamu mendapatkanku tapi tidak dengan cintaku. Lalu anak ini … dia bahkan tidak tahu siapa ayahnya sebenarnya.”


“Kita akan bahagia! Kita pasti akan bahagia! Anak ini hanya perlu aku yang menjadi ayah kandungnya. Aku akan tetap bahagia selama kamu bersamaku. Dan kamu akan mencintaiku seiring waktu.”


“Kamu benar. Sekalipun sekarang kita enggak bahagia, kita harus bahagia! Lagipula kita benar-benar akan menikah.”


Zeo menatap dirinya lagi. Gaun sudah ada, tanggal pernikahan sudah disiapkan, bahkan aulanya sedang dalam penataan. Bagaimana mungkin pernikahan ini takkan terjadi?


***

__ADS_1


Hari pernikahan pun tiba. Aula sangat rapi dengan bunga-bunga bermekaran di sekitar. Tamu undangan belum datang, tetapi tempat itu sudah ramai dengan para pelayan dan anggota keluarga.


Satria duduk di atas pelaminan sendirian, sembari menunggu tamu dan perempuan yang seharusnya ada di sampingnya. Dari sana dia melihat senyum semringah dari para keluarga. Zeo benar, bagaimana mungkin pernikahan ini takkan terjadi sedangkan undangan sudah tersebar, keluarga sudah memberikan restu, dan pelaminan di depan mata?


-oOo-


Aula pernikahan sudah penuh dengan para tamu undangan. Para orang kaya yang paling banyak di sana. Sedangkan teman-teman satu sekolah tak ada satu pun. Toh, ini pesta pernikahan bukan pesta ulang tahun.


Satria masih duduk di atas pelaminannya sejak tadi tak bergerak sedikit pun. Sedangkan pihak keluarga mulai kebingungan.


“Apa kamu menemukan Zeo?”


“Di mana Zeo?”


“Kenapa tidak ada?”


Mereka saling melemparkan pertanyaan satu sama lain.


Satria tidak bisa diam lagi melihat kebingungan itu. Dia pun turun dari pelaminan dan mendekati mereka semua.


“Zeo enggak akan ke sini,” jawabnya dengan tenang.


Pihak keluarga terkejut mendengarnya. Mereka lebih terkejut saat melihat Satria tidak terkejut sedikit pun.


“Apa maksudmu? Kenapa dia enggak ke sini? Bukankah hari ini hari pernikahannya?” tanya Doki kebingungan.


“Hari ini memang hari pernikahannya. Makanya dia tidak ada di sini. Karena dia harus besama calon suaminya.”

__ADS_1


-oOo-


Spam komen 'apa maksudnya'😂😂


__ADS_2