
Hendri mengembuskan napas beratnya. Dia tidak yakin harus membongkarnya. Namun, dia cukup tercekik oleh rasa bersalahnya.
“Zeo,” akhirnya Hendri menjawab sejujurnya.
Ah, sial! Setelah marah tanpa alasan, berani-berani sekali perempuan itu mengacaukan segalanya. Ingin sekali Tiwi mengumpat sekarang.
“Semua udah terjadi dan enggak ada yang bisa diapa-apain lagi,” timpal Tiwi.
“Tapi kamu harus melewati banyak masa-masa berat gara-gara aku. Seharusnya kamu bilang kebenarannya ke aku. Aku pasti akan kasih tanggung jawab aku ke kamu,” ujar Hendri.
“Iya. Aku emang sempat mengalami masa-masa beratku. Tapi semua udah lewat dan sekarang hidupku udah baik-baik aja. Gara-gara rasa tanggung jawabmu, kamu yang malah akan kesulitan sendiri. Lagi pula sekarang udah enggak ada yang perlu dirubah,” timpal Tiwi.
“Terus penyesalanku?” tanya Hendri.
Tiwi mengerutkan dahinya, sama sekali tidak mengerti. “Apa?”
“Gimana dengan penyesalanku? Apa kamu enggak mau ngerubah ini dan terus membuatku tersiksa karena rasa bersalahku?” tanya Hendri lagi.
“Terus aku harus bantu kamu kayak gimana?” Malah Tiwi ikutan frustasi.
“Menikahlah denganku.”
“Ha?”
Tiwi tidak salah dengar, kan?
“Lalu mau kamu apakan istrimu?” tanya Tiwi.
“Enggak ada yang berubah antara aku dan istriku, hanya kita: antara kamu dan aku ….”
Hendri menghela napasnya lalu mengembuskan. Menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian yang sudah dia bawa dari kemarin malam.
__ADS_1
“Jadilah istri keduaku ….”
-oOo-
Satria tengah menuruni tangga setelah keluar dari rumah. Dia keheranan saat melihat tengah bermain sendirian di halaman. Satria pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Akan tetapi, dia tidak menemukan Tiwi di sana.
Ke mana Tiwi?
Kenapa dia malah membiarkan anaknya berkeliaran sendiri di sana?
Kalau terjadi apa-apa bagaimana?
Satria melangkah cepat mendekati kerumunan para pelayan yang tengah bergosip.
Satria menggeleng-gelengkan kepala. Entah apa yang sebenarnya mereka bicarakan di siang yang buta ini?
“Mbak Tiwi udah punya suami? Mana mungkin?”
“Aku beneran, Mbak. Tadi ada laki-laki yang ngaku jadi suaminya Mbak Tiwi.”
“Aku udah bertahun-tahun kerja di sini. Bahkan aku juga yang bantu Tiwi ngelahirin di sini. Seumur-umur, aku enggak pernah lihat laki-laki itu.”
“Kalau bukan suaminya, lalu siapa laki-laki itu? Mbak Tiwi bahkan ikutan pergi sama dia.”
Apa?
Jadi, Tiwi sedang pergi bersama seorang laki-laki?
Akan tetapi, siapa dia?
Bukannya Tiwi tidak memiliki orang terdekat lain selain Satria dan Zeo?
__ADS_1
“Siapa yang kalian maksudkan?” tanya Satria tiba-tiba.
Seketika acara gosip itu pun pecah. Para pelayan itu membuka kumpulannya sehingga berbaris rapi segaris. Mereka semua sama-sama menunduk hormat.
“Siapa yang kalian bicarakan tadi?” Satria mengulangi pertanyaannya karena belum ada yang mau menyahut.
“Mba-mbak Tiwi, Tuan,” akhirnya salah seorang menyahut, meski gelagapan karena saking takut.
“Apa yang terjadi sama Tiwi? Kenapa aku enggak lihat dia dari tadi?” tanya Satria.
“Dia tadi keluar sama suaminya, Tuan,” jawab pelayan itu.
“Suami apa? Tiwi, kan, enggak punya suami. Semua orang tahu itu,” elak Satria.
Pelayan itu semakin ketakutan. Apalagi nada suara Satria terdengar marah.
“Saya juga enggak tahu, Tuan. Tapi, kata penjaga keamanan, mereka mau pergi ke taman,” bela pelayan itu.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗