Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
63. Berpisah


__ADS_3

Kembali di hari pernikahan ….


Usai memberikan jawaban yang tidak memuaskan kepada para keluarga, Satria malah pergi. Terserah mereka mau percaya atau tidak, yang penting Satria sudah menjelaskan.


Satria keluar dari aula itu, sama seperti udara yang memberatkan hatinya. Dia berharap, dengan keluar dari tempat itu, dia akan merasa lebih ringan.


Satria memang terluka. Namun, dia merasa lebih lega. Setidaknya luka ini tidak akan berkepanjangan, seperti jika dia tetap memaksa menikahi Zeo—setelah tahu seluruh kebenaran ini. Bagaimana Satria bisa bahagia jika janin yang akan menjadi anaknya adalah anak ayahnya? Orang yang paling dia benci dalam hidupnya!


Lagi pula apa ini?


Anakku adalah adikku ….


Ini bukan FTV, apa ini sinetron?


Satria ingin sekali menertawai alur cerita dalam hidupnya ini. Tepat seperti lelucon: begitu lucu untuk didengar. Namun, bagaimana Satria bisa tertawa saat ini? Dia bahkan tidak bisa tersenyum untuk sementara waktu.


Bara meninggalkan Zeo demi kebahagiaan Satria. Bara tahu benar kalau hubungannya dengan Zeo, takkan menjadi kabar baik bagi Satria. Bagaimana Satria bisa hidup dengan baik saat orang yang dicintainya, malah menjadi ibu tirinya?


Lalu Zeo, dia menikahi Satria demi kebahagiaan Bara. Membiarkan Bara hidup dalam pernikahannya, tanpa tahu penderitaan yang tengah Zeo perjuangkan.


Benarkah semua ini adalah pengorbanan?

__ADS_1


Mereka berdua menganggapnya begitu.


Namun, tidak ….


Itu salah!


Bagaimana itu bisa disebut pengorbanan sedangkan akhir keduanya akan membuat Satria menjadi orang yang paling tersiksa?


Itu bukan pengorbanan, melainkan keegoisan!


Tidak apa, Satria! Semua ini akan berlalu. Kamu pasti bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Zeo! Kamu masih SMA. Usiamu bahkan belum genap delapan belas tahun. Usiamu masih panjang. Selama melewati waktu-waktu itu, kamu pasti bisa menemukan cinta yang baru lagi: cinta yang akan memperkenalkanmu pada kebahagiaan yang sebenarnya.


-oOo-


Bara menjadi ragu. Dia kebingungan untuk memilih. Kalau seandainya Zeo masih tidur dan Bara mengetuk pintu itu, lalu Zeo terbangun, bagaimana?


… Tapi, kan, Zeo memang harus bangun untuk sarapan!


Kalau Zeo sampai telat makan, dengan bayinya, bagaimana?


Ah, sial! Apa saja kamu pikirkan ini, Bara?

__ADS_1


Bara mengangkat tangannya. Dia hendak mengetuk pintu itu. Terserah kalau Zeo bangunnya karena terkejut. Toh, Bara hanya berniat baik.


Hampir saja tangan Bara bercumbu dengan pintu itu. Namun, tidak jadi karena pintu itu terbuka lebih dulu. Lalu muncullah Zeo dengan dahi yang berkerut.


“Apa yang Bapak lakukan?” tanya Zeo.


“Oh … oh ….” Bara jadi gelagapan.


Kini Zeo malah menaikkan alis kanannya.


“Ah …. Maksudku, ayo sarapan,” akhirnya Bara berhasil menjernihkan suaranya. Kemudian dia menunjuk ke belakang, ke arah meja makan di dekat dapur. “Aku sudah—“


“Maaf, Pak. Tapi saya enggak mood buat makan,” tolak Zeo. Dia terus merasa mual dan berusaha mengelaknya, setidaknya selama ada Bara di dekatnya. Kan, tidak elegan lagi kalau Bara sampai melihat dirinya di posisi itu.


“Makan, kok, nunggu mood. Makan itu harus!” seru Bara mulai kesal.


Baru saja Zeo tidak salah dengar, kan?


Bara benar menaikkan suaranya, kan?


Ah, sial! Rupanya Zeo tidak bisa menerima itu!

__ADS_1


“Ya, biarin!” seru Zeo tidak mau kalah. “Orang yang enggak makan juga saya. Kalau sakit juga saya. Tubuh-tubuh saya. Apa urusannya sama Bapak? Toh, saya bukan istri Bapak,” sindir Zeo.


__ADS_2