
Zeo pun menadahkan tangan kanannya. Kemudian Bara memisahkan kedua kunci itu dan memberikan satunya kepada Zeo.
“Tapi, Pak, ngapain ya, saya kalo kemari?” tanya Zeo.
“Terserah kamu. Yang penting jangan sampai ketahuan apalagi bawa-bawa nama saya,” balas Bara. Kemudian dia pergi ke sebuah bangku panjang yang mengisi tempat itu.
Zeo mengikuti Bara. Dia juga duduk di sana.
“Terus Bapak ngapain kalo ke sini?” tanya Zeo penuh minat.
“Kalau saya … hm ….” Bara diam memikirkan. “Hm … cari angin.”
Zeo menertawakan jawaban itu. “Cuma angin ngapain dicari, Pak? Di pinggir jalan sana banyak. Gratis lagi.”
“Kalo pikiran dan hati kita lagi penuh, adakalanya kita butuh angin buat nerbangin semua itu. Lagipula angin di sini lebih baik dari pada angin di pinggir jalan. Polusi lagi,” balas Bara.
Tiba-tiba Bara menghadap Zeo dan memerhatikannya dengan serius. “Kayak kamu tadi. Sekarang kamu bisa panggil angin buat nerbangin apa pun yang menyesakkan hati dan pikiranmu.”
Wajah berseri Zeo menurun. Dia kembali lesu. Bara mengingatkannya dengan masalah yang sengaja ditinggalkannya lari.
“Masalah apa pun jangan ditinggal lari, percuma, kamu masih ketemu lagi. Hadapi aja. Seberat apa pun tetap hadapi sampai selesai. Jadi kalo kamu ketemu lagi, enggak bakal jadi masalah,” kata Bara menasehati.
__ADS_1
“Tapi saya enggak bisa ngehadapin, Pak. Gimana saya bisa ngehadapin teman baik saya setelah kesalahan yang kakak saya lakukan.”
“Maka bertanggung jawablah atas nama kakakmu.”
“Gimana seorang saya bisa, Pak? Saya kan bikin masalah mulu sana-sini.” Zeo merasa ragu.
“Berusaha. Lagian kalo temanmu emang anggap kamu sebagai teman baiknya, dia bakal cukup dengan itu tanpa harus menautkan kesalahan kakakmu.”
“Tapi, Pak ….”
Tiba-tiba Bara menyandarkan Zeo di atas bahunya. Dia juga mengusap lembut kepala Zeo. “Apa yang kamu butuhin sekarang bukan solusi masalahmu, tapi ketenangan hatimu,” kata Bara.
“Apa kita bisa begini, Pak?” tanya Zeo.
“Apanya?”
“Saya bersandar di bahu Bapak. Saya enggak pernah lihat ada murid yang gini sama gurunya.”
Bara tersenyum simpul. “Kenapa enggak? Selain guru dan murid, kita juga manusia. Kita bisa ngelakuin apa pun yang juga dilakuin manusia lainnya.”
Kini Zeo merasa lebih tenang. Dia pun memutuskan untuk menikmati ketidaktenangan dalam dadanya. Dia bahkan melakukan lebih dari itu, seperti menyatukan tangannya melingkari tubuh Bara.
__ADS_1
Setelah memberikan usapan kepala terakhir, Bara pun menyandarkan kepalanya ke dinding. Kedua orang itu akhirnya tertidur di sana. Mengabaikan angin yang menjadi saksi kisah mereka berdua.
Esok harinya, Bara terbangun karena terik menggelitik matanya. Riuh terdengar samar-samar. Rupanya waktu sekolah telah dimulai. Zeo bahkan lenyap dari pelukannya. Bara tersenyum melihat angin yang mengisi posisi kosong Zeo.
Untunglah Bara tidak memiliki jam pelajaran lebih awal. Dia pun bergegas keluar dari tempat itu dan segera membersihkan dirinya.
Usai mengajar di jam pelajaran terakhir, Bara menemukan sekotak nasi di atas mejanya. Siapa lagi kalau bukan dari Zeo? Dengan mudah Bara menebaknya. Sebuah surat juga menempel di sana.
Terima kasih, Pak, sudah menemani saya sebagai manusia dan mengingatkan saya sebagai manusia. Saya ingin sekali mengakui Bapak sebagai manusia, tapi saya belum berani. Saya akan melatih keberanian saya sampai kita bertemu lagi.
Bara memasukkan kotak makanan itu ke dalam tasnya dengan wajah penuh semringah. Dia akan memakannya nanti sesampainya di rumah. Kotak itu juga membuat hatinya merasa lega.
***
.
.
.
Selalu like dan koment🤗
__ADS_1