
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Ini sudah tengah malam. Hendri melihat jarum jam masih menunjuk angka satu. Namun, seseorang malah mengetuk pintunya berulang-ulang.
“Siapa yang bertamu malam-malam?” tanyanya keheranan.
Hendri melihat istrinya yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia tidak tega membangunkan perempuan yang sangat ia sayangi itu. Ia memilih bangun untuk membuka pintu sendiri.
“Tiwi?” Hendri terkejut mendapati Tiwi sendirian di depan pintu. “Nga-ngapain kamu ada di sini?”
“Ka-kak ….” Tiwi ragu mengatakan sesuatu.
“Kamu baik-baik aja, kan?” Hendri jadi khawatir. Tiwi tidak terlihat baik-baik saja dengan koper penuh di belakangnya.
“Bantuin aku …,” akhirnya Tiwi merengek. Entah bagaimana, akhirnya tempat ini yang menjadi tujuannya.
-oOo-
Keheranan Zeo datang silih berganti. Setelah kepergian Tiwi meninggalkan Putri di rumahnya, tiba-tiba Satria datang dengan wajah masam.
“Ada apa?” tanya Zeo. Saat itu, ia hanya sendirian di rumah. Karena seluruh keluarganya pada pergi ke ladang.
“Bantuin gue,” pinta Satria.
“Apaan?”
“Bantu temuin Tiwi.”
__ADS_1
Dahi Zeo berkerut. Satria tidak salah bertanya kepadanya, kan?
“Emangnya Tiwi ke mana?” tanya Zeo.
“Kalau gue tahu gue enggak bakal tanya ke lo,” timpal Satria.
Zeo mengembuskan napasnya. Kini dia yang salah.
“Maksud gue, emangnya lo enggak tahu ke mana Tiwi pergi? Bukannya dia udah pergi dari rumah lo? Masak lo enggak tahu?”
“Dia enggak pamit apa-apa sama gue,” aku Satria murung.
“Maksud lo, Tiwi kabur?”
Satria menganggukkan kepala. “Kayaknya iya.”
“Tapi kok bisa? Bukannya kalian mau menikah?”
“Apa kalian sempat ada masalah?” tanya Zeo.
Satria menggelengkan kepala. “Dia tiba-tiba pergi dengan ninggalin gue duit setas penuh buat bayar utangnya.”
“Duit setas penuh? Lo ngaco, ya?”
“Kalau lo enggak percaya, ayo ke rumah. Tasnya masih belum gue sentuh lagi.”
“Tapi dari mana Tiwi dapat duit sebanyak itu?”
Satria tertegun. Ia tidak terpikirkan ini sebelumnya.
“Lo bener …. Dari mana Tiwi dapat duit sebanyak itu?”
“Kalau gitu, lo cari dulu dari mana duit itu. Mungkin aja kita bisa dapat tahu di mana Tiwi sekarang. Dan gue bakal tanya ke temen-temen kita. Barangkali mereka tahu sesuatu.”
__ADS_1
Satria setuju. Kemudian bangun untuk memulai kerja kerasnya.
Zeo termenung di tempat. Sebenarnya Tiwi tidak memiliki banyak teman. Ia bahkan tidak yakin kalau Tiwi memiliki teman selain dirinya. Tiwi kan sudah lama pergi dari tempat tinggalnya.
Hanya ada satu orang yang berada di pikiran Zeo. Namun, itu tidak mungkin, kan?
-oOo-Hari ini Satria menjumpai pamannya. Tidak biasanya Satria mengajak Andi lebih dulu makan bersama.
Meski sebenarnya sangat sibuk, Andi menerima ajakan Satria dengan tangan terbuka. Ia memang merindukan masa-masa bersama keponakan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
“Om …,” panggil Satria di sela-sela makan.
Andi mengangkat kepala. Dengan mulutnya yang masih mengunyah.
“Kenapa Om lakuin itu?”
Andi mengangkat alis kanannya. “Apa?”
“Memberikan uang banyak sama Tiwi.”
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1