
Seorang guru laki-laki tengah mengajar di depan kelas. Guru itu berbeda dengan para guru yang selalu tergambar dalam pikiran Zeo: bertubuh gendut, beruban, botak, dan tua. Guru yang berada di depan kelas itu malah bertubuh sangat tinggi, tegap, tampan, dan terlihat tidak begitu tua. Zeo begitu terperangah saat sinar yang mengelilingi laki-laki itu menyambutnya.
Tuk!
“Ah …!” Zeo mengusap keningnya kesakitan karena sebuah spidol membuyarkan lamunannya.
Zeo berjongkok untuk mengambil spidol itu. Kemudian dia menatap guru itu dengan tatapa kesal. Rupanya guru itu sama-sama menyebalkan dengan para guru yang tergambar dalam pikiran Zeo.
Zeo mendekati guru itu untuk menyerahkan spidolnya dan bergegas menuju tempat duduknya.
“Siapa yang menyuruh kamu ke sana?”
Langkah Zeo berhenti, bukan karena ucapan guru itu, melainkan karena suara guru itu yang terdengar tidak asing. Zeo berusaha mengingat-ingat, tetapi dia tidak mendapatkan apa pun.
“Kamu … siswi!” panggil guru itu.
__ADS_1
Zeo semakin yakin pernah mendengar suara ini di suatu tempat. Zeo pun berbalik. Dia memerhatikan guru itu dari atas ke bawah sebaik mungkin. Tiba-tiba bola mata Zeo membelalak. Guru itu adalah laki-laki sama yang berdansa dengan Zeo di pesta ulang tahun Satria!
Sebelumnya Zeo tidak bisa langsung mengenali wajah itu karena lampu jalan yang tidak begitu terang. Kini Zeo yakin benar kalau guru ini dan laki-laki itu adalah orang yang sama. Seketika Zeo langsung berlari keluar dari kelas.
“Hei! Ke mana kamu?!” Terdengar teriakan itu samar-samar. Rupanya Zeo sudah berlari cukup jauh.
Zeo pergi ke perpustakaan. Rupanya pintu sudah dikunci. Padahal beberapa menit lalu Zeo masih berada di dalamnya. Ah, sial! Zeo tidak menemukan tempat persembunyian lain di sini.
“Guru itu enggak mungkin ngejar, kan?” gumam Zeo. Dia menengok ke mendongak ke depannya untuk memastikan.
Deg!
Tiba-tiba Zeo dikejutkan sebuah tangan yang memegang pundaknya dari belakang. Napas Zeo langsung terasa berat. Dia menjadi berketar-ketar. Zeo berharap bisa segera lari. Namun, tangan yang memegang pundaknya ini cukup kuat. Zeo tidak ingin melakukan ini, tetapi dia harus menoleh untuk memastikan siapa yang berada di belakangnya.
“Aish!” Zeo meringis sambil menundukkan kepalanya. Orang itu adalah guru tadi.
__ADS_1
Pelan-pelan Zeo memberanikan diri untuk mendongak. Dia mulai cengar-cengir menyembunyikan wajah bersalahnya. “E-eh … ma-mas ….”
Seketika guru itu mencubit telinganya sehingga Zeo terpaksa bangun dan tergeret langkah guru itu.
“A-a-ah …. Sakit, Mas!” jerit Zeo.
“Dasar, Anak Bandel! Bukannya minta maaf udah telat, malah lari. Nyusahin saya aja!” kata guru itu kesal.
“Aish! Udah ketangkap, saya enggak bakal lari. Saya masih bisa jalan sendiri. Jadi lepasin telinga saya. Sakit, Mas!” protes Zeo.
Bukannya melepaskan telinga Zeo seperti yang Zeo harapkan, guru itu malah semakin menekan cubitannya.
“A-a-a-ish …!”
“Siapa yang kamu panggil Mas itu? Umur saya empat puluh tahun dan umur kamu belum setengah saya. Saya itu seumuran sama om atau bapak kamu. Jadi panggil saya Bapak.”
__ADS_1
“Tapi bapak saya anak tunggal. Jadi saya enggak punya om.”