
Satria menghela napas lalu mengembuskannya. Dia berusaha menjaga dirinya untuk tetap tenang. “Ya udah. Kalau gitu, tolong jaga anaknya, Putri. Jangan biarin dia sampai hilang dari pandangan kalian. Jaga dia baik-baik dan kasih perhatian lebih kayak kalian ke aku,” titah Satria cerewet seperti seorang ayah.
“Baik, Tuan.” Pelayan itu mengangguk.
Satria pun berbalik. Dia bergegas untuk memastikan keadaan Tiwi. Dia pun pergi menuju taman.
Meski hanya dari kejauhan, Satria bisa melihat kalau perempuan yang duduk di atas bangku taman adalah Tiwi. Dia juga bisa mengenali dengan baik kalau laki-laki yang duduk bersama Tiwi adalah Hendri. Namun, untuk apa mereka berdua duduk di sana? Apalagi yang masih harus mereka bicarakan?
Entah kenapa, Satria sangat khawatir dengan hal ini. Dia pun mempercepat langkahnya agar bisa berada di antara mereka berdua. Akan tetapi, langkah itu berhenti tiba-tiba. Bola mata Satria membelalak saat melihat kedua orang itu berpelukan.
Bagaimana itu mungkin?
Satria tidak salah lihat, kan?
Lebih dari pada keanehan itu, Satria menyadari sesuau yang terasa lebih aneh dalam dirinya: rasa tidak nyaman saat melihat keanehan mereka berdua.
Ada apa ini?
Apa urusan Satria dengan mereka berdua?
Kenapa Satria tidak suka melihat kedekatan mereka berdua?
Apa Satria cemburu?
Ha! Itu tidak mungkin!
Memangnya siapa Tiwi bagi Satria?
__ADS_1
-oOo-
Tiwi dan Hendri terlihat baik-baik saja. Sepertinya tidak akan ada pertengkaran yang berakhir dengan tangisan lagi. Malah Satria yang sepertinya tidak baik-baik saja.
Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Satria pun berbalik. Dia mengurungkan niatnya untuk menjadi orang ketiga di antara mereka. Dia memilih pulang saja.
Sesampainya di rumah, Satria malah menemui Putri. Melihat anak kecil itu yang selalu terlihat ceria membuat perasaan Satria merasa lebih tenang.
Tak lama, terlihat Tiwi datang dari luar. Ekspresi di wajahnya biasa saja. Tidak ada tangisan maupun senyuman. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara dirinya dan Hendri.
“Eh, Tuan,” sapa Tiwi.
“Menyebutku tuan lagi,” gumam Satria merasa kesal.
“Apa, Tuan?” tanya Tiwi yang tidak bisa mendengar gumaman Satria dengan jelas.
“Oh ….” Tiwi pun manggut-manggut seolah mengerti. Kemudian mendongakkan kepala. “Lalu ada apa Tuan kemari?” tanya Tiwi.
“Apa gue perlu alasan untuk kemari? Ini, kan, masih bagian dalam rumah gue?” timpal Satria.
Ah, sial! Apa yang sebenarnya kamu lakukan ini, Tiwi? Tiwi merutuki diri sendiri dalam hati.
“Malah lo yang dari mana?” tanya Satria.
Ah, sial! Kenapa kamu peduli tentang itu, Satria?
Kalau Tiwi pergi ke luar rumah, memangnya apa urusannya denganmu?
__ADS_1
“Lihat, tuh, anak lo sampai berkeliaran sendiri,” Satria menambahi sindirian agar Tiwi tidak berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.
“Oh, iya. Tadi saya lagi buang sampah di luar,” dalih Tiwi.
Satria terperangah. Dia merasa tersingung atas kebohongan itu.
Apa Tiwi pikir Satria akan peduli kalau dia benar-benar mengatakan kalau dirinya bertemu Hendri tadi?
Satria berdesah sembari memalingkan wajahnya. Entah sejak kapan Tiwi terasa menyebalkan baginya.
“Gue kasih lo waktu sepuluh menit,” tutur Satria.
“Ha?” Tiwi tidak mengerti apa maksud Satria.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗