Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
122. Membawa Joffy Bersama


__ADS_3

Sebelum Tiwi menyelesaikan kalimatnya, Zeo langsung melangkahkan kakinya pergi. Terserah apa yang akan Tiwi katakan, lagi pula Zeo tidak akan meninggalkan putranya di tengah-tengah orang-orang sialan ini.


“Ze. Tunggu, Ze!” teriak Tiwi berusaha menahan Zeo. Namun, Zeo mengabaikan dan terus saja melangkah.


Tiba-tiba Satria sudah berada di belakang Tiwi. Tiwi menoleh saat mendengar suara napas yang nyaring di telinganya.


“Apa yang terjadi?” tanya Satria.


“Si Ze enggak mau ninggalin anaknya lagi ke sini,” jawab Tiwi.


“Terus kenapa enggak lo paksa?” tanya Satria.


“Gimana gue bisa paksa seorang ibu buat ninggalin anaknya di sini. Terus alasannya apa?” Tiwi menanyakan pertanyaan sama seperti yang Zeo katakan sebelumnya.


Ah, sial! Rupanya Satria terlambat melangkahkan kakinya. Dia bahkan belum sempat membuat sebuah rencana.


“Terus kita harus gimana?” tanya Tiwi.


“Ya, kejar Zeo lagi sebelum dia ketemu Hendri dan kasih tahu kalo Joffy ternyata anak kandungnya sendiri,” jawab Satria.


“Seandainya gue ngelakuin itu dan berhasil, terus mau sampai kapan kita sembunyi kayak gini terus? Bang Hendri itu abangnya Zeo. Suatu hari, dia pasti bakal tahu kalau Joffy adalah keponakannya sendiri, bukan anak kita. Harusnya kita bikin rencana yang lebih kuat lagi,” elak Tiwi.


“Apa rencana itu berguna buat kita sekarang? Dalam satu jam, Zeo bakal ketemu Hendri. Kita harus memperlambat waktu, seenggaknya sampai satu minggu,” bela Satria.


Tiwi tidak lagi menyahut. Sebenarnya yang Satria katakan memang ada benarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Satria yang mengisi saku jaketnya berdering. Satria pun menarik benda itu. Dahinya mengernyit saat mulutnya membaca angka-angka yang tidak dia kenal, malah mengisi layar ponselnya. Dia pun mengangkat panggilan itu.


“Halo,” sambut Satria.


Untuk beberapa waktu, Satria terus mendengar dan memberikan jawaban singkat. Setelah semua menjadi jelas, dia menutup panggilan itu dan kembali memasukkannya ke dalam jaket.


“Panggilan tadi dari Hendri,” ujar Satria.


“Tapi, gimana dia bisa tahu nomer ponsel lo?” tanya Tiwi keheranan.


“Gue, kan, enggak pernah ganti nomer dari dulu. Kayaknya dia masih nyimpan nomer gue,” jawab Satria.


“Emang apa katanya?” tanya Tiwi.


“Dia mau ketemu lo … besok,” jawab Satria.


“Enggak mungkinlah. Zeo aja, paling-paling baru satu menit keluar dari gerbang,” elak Satria.


“Tapi, kira-kira apa lagi yang mau dia omongin ke gue?” Tiwi merasa penasaran.


“Gue juga enggak tahu apa itu. Pokoknya lo harus nemuin dia besok,” ujar Satria.


“Ya udah. Kalo gitu gue mau ngejar Zeo dulu sekarang,” tutur Tiwi.


“Eh, enggak usah,” larang Satria.

__ADS_1


“Tapi kenapa?” Zeo semakin keheranan.


“Lo ketemu dia besok aja. Sehabis nemuin Hendri. Kita butuh tahu keadaan yang terjadi dari sudut pandang Hendri,” tutur Satria.


“Kalo Bang Hendri sampai tahu segalanya dari Zeo hari ini, gimana?” tanya Tiwi.


“Kayaknya enggak. Zeo, kan, mau langsung balik ke rumah orang tuanya. Sedangkan menurut perkiraan gue, Hendri pasti tinggal di sekitar tempat ini,” jawab Satria.


Tiwi pun mengurungkan niatnya seperti apa yang Satria sarankan. Lagi pula dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, mempersiapkan diri, dan berpikir.


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2