Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
113. Kemarahan Zeo


__ADS_3

“Terus biarin laki-laki berengsek itu gelisah sendirian? Berjuang tanpa ujung?” cecar Satria.


Tiwi mengernyitkan dahinya. “Laki-laki berengsek? Apa maksud lo Pak Bara?” tanya Tiwi.


Satria melemparkan lirikannya ke arah lain. “Gue enggak tertarik buat nyebut nama laki-laki itu,” jawabnya.


“Lo sendiri enggak suka sama Pak Bara. Kenapa lo malah belain dia?” tanya Tiwi.


“Gue enggak belain dia!” tegas Satria, “gue malah belain Zeo.”


Tiwi mengernyitkan dahi. Tidak mengerti maksud perkataan Satria.


“Gue enggak mau Zeo sampai kayak gue. Gara-gara enggak tahu cerita sebenarnya, cuma bisa berprasangka buruk. Terus merasa marah dan benci. Apa orang yang hidup seperti itu bakal bisa bahagia?” jelas Satria.


“Jadi, lo sendiri udah dapat penjelasan?” tanya Tiwi.


“Iya,” jawab Satria. Meski enggan mengakui.


“Terus apa keputusan lo?” tanya Tiwi lagi.


“Gue—“


Sebelum Satria menyelesaikan kalimatnya, pandangannya tertarik pada seorang laki-laki yang keluar dari rumahnya tanpa melepaskan wajah lesunya.


“Pak Bara ngapain keluar?” tanya Tiwi keheranan.


“Apa mereka udah selesai ngobrol? Kenapa cepat banget?” timpal Satria.

__ADS_1


Bara mengangkat kepalanya. Menemukan Satria dan Tiwi tak jauh darinya, dia mengukir senyum tipis. Kemudia berjalan mendekati mereka berdua.


“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Tiwi.


“Kayaknya Zeo butuh waktu untuk berpikir dulu,” jawab Bara.


“Kalo gitu aku pulang dulu, ya. Tolong jaga Zeo baik-baik,” pinta Bara. Kemudian dia melanjutkan langkahnya untuk pergi dari area rumah mewah ini.


Selepas kepergian Bara, Tiwi dan Satria saling menoleh. Masing-masing tatapan mereka menampilkan ekspresi keheranan.


“Apa yang kira-kira terjadi? Kenapa Zeo enggak ikut keluar?” tanya Satria.


Tiwi menanggapi pertanyaan itu dengan mengedikkan dahinya. Kemudian mereka sama-sama melangkah cepat untuk menemui Zeo.


Langkah mereka berhenti di depan pintu. Mereka terperangah saat pintu itu dibuka dari dalam.


Zeo keluar dari sana dengan menggeret sebuah koper, yang sebelumnya dia bawa kemari dari Bali.


“Ze. Mau ke mana lo?” tanya Tiwi.


“Apa yang lo lakuin?” imbuh Satria.


Zeo manaikkan tatapannya, begitu tejam seolah pedang. Bibirnya mengerucut. Ekspresi wajahnya menampilkan ketidaksukaan. Tidak perlu ditanya, Zeo benar-benar kecewa.


“Gue mau pergi,” tutur Zeo.


“Tapi, kenapa? Lo, kan, enggak punya tempat tujuan lain lagi,” sahut Tiwi. Dia bergerak untuk menarik masuk ke kamar koper Zeo. “Enggak, Ze. Sebaiknya lo di sini aja.”

__ADS_1


Zeo langsung menangkis tangan Tiwi sehingga terlepas dari kopernya.


“Percuma aja gue di sini. Gue pengen aman di sini, tapi kalian semua malah bikin gue enggak nyaman,” sindir Zeo.


Tiwi menunduk. Meski Satria yang bertindak, malah dirinya yang merasa menyesal.


“Gue lakuin ini demi kebaikan kalian berdua. Seenggaknya, sebelum lo marah, lo harus tahu apa yang enggak lo ketahui,” jelas Satria.


“Iya. Gue tahu itu! Gue tahu kalo gue harusnya dengerin penjelasan itu. Tapi enggak sekarang. Gue perlu waktu buat bikin diri gue tenang. Iya, kalo penjelasannya sesuai sama harapan gue. Kalo penjelasannya malah sesuai sama pikiran gue, apa lo pikir gue bakal baik-baik aja?” sindir Zeo.


Satria pun terdiam. Apa yang Zeo katakan memang benar. Kali ini, Satria mengaku kalau dia telah ceroboh.


Merasa tidak perlu ada yang dikatakan lagi, Zeo menarik kopernya. Dia hendak melangkah, tetapi Satria malah menahan kopernya.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2