
Zeo sangat senang. Dia berhasil mengatakannya dengan lancar setelah berlatih berulang-ulang.
Bara memberikan reaksi berupa kedinginan. Dia pun melepaskan tangan Zeo dari tubuhnya. “Terima kasih. Padahal murid-murid lain banyak yang malah membenci saya,” balas Bara bertingkah bodoh.
Mulut Zeo menganga. Bara menyalah-artikan perkatakaannya.
“Enggak gitu, Pak. Maksud saya, saya cinta Bapak. Saya mau Bapak jadi pacar saya!” tegas Zeo.
Tatapan Bara menjadi sinis. “Apa kamu pikir sekolah itu taman bermain?” tanya Bara.
“Apa maksud Bapak?” tanya Zeo tidak mengerti.
“Kenapa kamu selalu bermain-main? Apa kamu pikir hubungan guru dan murid adalah lelucon?” Bara menambahkan pertanyaannya.
Zeo masih tidak mengerti. Zeo mengungkapkan perasaannya dengan serius setelah berlatih berkali-kali. Jadi di mana letak lelucon itu?
“Maksud saya, saya menolak cinta kamu. Saya enggak mau jadi pacar kamu,” tegas Bara.
Bara melangkah pergi, tetapi Zeo menghadang jalannya dengan membuka kedua tangannya selebar mungkin.
“Kenapa, Pak?” Padahal Zeo mengira Bara juga menyukainya.
__ADS_1
“Apa perlu ada alasan?” balas Bara.
“Iyalah. Saya enggak bisa ditolak gitu aja.”
“Ada banyak alasannya. Salah satunya karena kita adalah guru dan murid. Gimana guru dan murid bisa pacaran?”
“Bukannya Bapak yang bilang kalo kita juga manusia? Sama-sama manusia yang bisa melakukan apa pun seperti manusia lainnya.”
Bara kehabisan kata-kata. Seharusnya dia tidak mengatakan itu kapan hari. Karena tidak mampu menjawab, dia pun menyingkirkan Zeo dari jalannya. “Sekarang saya tahu kenapa kamu sangat bodoh. Kurangi koleksi novelmu,” katanya sebelum pergi.
Zeo bahkan benci membaca. Bagaimana mungkin Zeo sudi mengoleksi benda bernama novel itu?
“Pak!” teriak Zeo berusaha menghentikan Bara. Namun, Bara tidak menoleh sama sekali.
Sial!
***
Saat membuka pintu, Bara menjadi pusat perhatian para guru. Padahal mereka begitu tak acuhnya tadi.
“Ada apa, Pak Bara?”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ngomongin apa?”
Belum sempat menjawab satu pun, para guru itu melontarkan pertanyaan masing-masing satu.
“Bukan apa-apa. Cuma protes aja karena PR-nya hilang,” jawab Bara berbohong. Dia juga tersenyum tipis. Kemudian melangkah ke kursinya.
“Jangan dipercaya, Pak. Bukan PR-nya yang hilang, tapi ingatannya,” sahut seorang guru.
“Apa enggak akalnya?” sahut guru lain bercanda.
Ruang guru yang sepi itu pun seketika menjadi riuh. Semua orang tertawa, kecuali Bara. Tatapannya menghadap ke komputer, tetapi pikirannya tengah terbang ke beberapa menit lalu. Hampir saja tekadnya goyah karena suasana yang Zeo ciptakan. Bara bahkan menyentuh tangan Zeo saat perempuan itu memeluknya. Seketika dia teringat perkataan Satria. Dia pun melemparkan tangan Zeo.
***
Meski berkali-kali memasuki perpustakaan, Zeo masih tak percaya kalau tempat itu adalah perpustakaan. Tempat itu selalu sepi karena Satria selalu belajar di tempat itu. Tidak ada yang berani ke sana, kecuali Zeo saja.
Zeo pergi ke perpustakaan untuk mencari benda yang disebut novel. Dia kesulitan untuk menemukannya. Terlalu banyak buku di sana. Untungnya Satria mau mengurangi waktu belajarnya untuk menolong Zeo. Laki-laki itu tiba-tiba datang dan bersandar di depan rak.
“Baru pertama kali, ya, cari buku?” Itu adalah ejekan, tetapi juga kebenaran.
__ADS_1
Zeo melirik sinis. “Enggak usah ganggu gue kalo enggak punya niat bantu.”