Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
43. Berusaha


__ADS_3

“Tapi saya enggak baik-baik aja!” tegas Bara.


“Kenapa, sih?! Orang cuma pacaran juga!”


“Karena kamu enggak akan bisa kasih apa yang saya butuhkan,” jelas Bara.


“Emang apa sih? Sesusah apa sih? Akan saya kasih, kok, Pak! Enggak ada yang enggak bisa saya kasih kalau itu buat Bapak!” paksa Zeo.


Tiba-tiba Bara memegang pundak Zeo dan mendorongnya ke dinding. Dia mengunci Zeo dengan kedua tangannya. Tatapan Bara menjadi tajam sedangkan wajahnya semakin mendekat. Entah kenapa, Zeo tidak berpikir ini akan jadi sesuatu yang baik-baik saja.


“Pak! Bapak kenapa?” tanya Zeo cemas.


Bara tidak menjawab. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke Zeo. Kemudian kepalanya berbelok ke samping telinga Zeo. “Kenapa kamu ketakutan? Bukannya kamu bakal kasih apa yang saya butuhkan?” tanya Bara dengan suara lirih.


Bara pun melepaskan Zeo. Dia segera bangun. Sedangkan Zeo masih mematung. Dia mengerti benar apa maksud Bara.


“Kamu bukan orang yang saya butuhkan. Jadi berhentilah mengejar saya!” tegas Bara. Kemudian segera pergi.


Zeo masih membeku. Setelah sekian lama, akhirnya pikirannya mencair tertimpa terik mentari. Tatapannya mengarah pada tempat di mana Bara sempat berada.


“Kalo saya enggak bisa kasih apa yang Bapak butuhkan, maka saya akan berusaha membisakannya. Tunggu saja, Pak!” gumamnya.


***

__ADS_1


Sama seperti hari-hari biasanya, Tiwi hanya bisa memandang laptop. Dia tidak memiliki pekerjaan lain lagi selain itu. Mau bagaimana lagi, dia kan sedang mengandung. Dia juga tidak sangat senangnya dengan kesepiannya.


“Wi!” panggil Zeo.


“Iya. Kenapa?” sahut Tiwi tanpa mau mengalihkan perhatiaannya dari layar laptop.


“Beliin sabun, gih! Sabunnya habis,” titah Zeo.


“Beli sendiri sana! Adegan ini lagi asyik-asyiknya, nih!”


“Tapi gue udah lepas baju. Gue males pakek terus copot lagi,” elak Zeo.


Tiwi menoleh sekilas. Rupanya benar. Mau gimana lagi, terpaksa dia menghentikan kegiatannya. Zeo telah berjasa banyak padanya. Sudah sepantasnya dia menuruti Zeo.


Sepeninggal Tiwi, Zeo langsung menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dia mengambil ponsel dan menyambungkannya dengan laptop itu melalui kabel data. Dia berniat mengambil beberapa file dari laptop Tiwi.


Sebelum mengambil, Zeo sempat mencoba menonton film yang tengah Tiwi tonton. Rupanya saat itu bertepatan dengan adegan yang tak seharusnya ditonton anak seusianya.


“Aduh mataku!” jerit Zeo. Dia tidak kuat melihatnya. Dia segera mematikan film itu.


“Aduh! Mataku sakit!” tambah Zeo.


Berbeda dengan beberapa orang, dibanding menikmati, Zeo malah merasa jijik. Dia merasa sangat risih melihatnya dan muak. Dia pun mencoba beralih mencari film lainnya.

__ADS_1


Sebuah folder membuat Zeo keheranan. Folder itu berisi drama Korea dan Jepang. Sepanjang tinggal bersama Tiwi, Zeo belum pernah melihat Tiwi menonton drama-drama ini. Jadi kapan sebenarnya Tiwi menontonnya?


Entahlah. Zeo pun segera mengirimkan beberapa judul dari drama-drama itu. Rupanya keberuntungan tengah menaunginya. Tiwi bahkan tidak sampai memergokinya. Tiwi hanya keheranan kenapa filmnya tiba-tiba menghilang.


“Kayaknya gue salah pencet tadi,” jawab Zeo.


“Tapi ngapain lo pencet-pencet laptop gue?” tanya Tiwi.


“Tadi mau gue matiin biar kapok lo!”


“Emang rese lo ya!”


Zeo hanya meringis dan segera pergi ke kamar mandi.


***


WAJIB DI BACA


LANGSUNG AJA SCROLL BAB DI PALING BAWAH. SOALNYA ADA KEERORAN UNTUK HARI INI. JADI NUNGGU BESOK, ADMINNYA MANGATOON KERJA.


DI PALING POJOK SENDIRI YANG ADA TULISANNYA BAB 44. SERAKAH


KHUSUS HARI MINGGU MUNGKIN HARI SENIN SIANG UDAH MEMBAIK.

__ADS_1


untuk perasaan tidak nyamannya mohon dimaafkan


__ADS_2