Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
131. Titik Terang 4


__ADS_3

Setelah dirinya merasa lebih tenang, Satria melirik ke arah Hendri. Sepertinya tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Kini malah Satria yang memegang tangan Tiwi.


“Ayo!” seru Satria. Dia menarik Tiwi sehingga perempuan itu terpaksa terbangun dan mengikuti langkahnya.


“Ze. Gue sama Satria balik dulu, ya!” pamit Tiwi dengan berteriak-teriak karena tergesa-gesa mengikuti langkah Satria yang seakan berlari.


Sesampainya di samping mobil, Satria langsung membukakan pintu Tiwi dan memaksa agar perempuan itu segera masuk. Setelah Tiwi masuk, Satria pun menutup pintu lalu memutar langkahnya dan masuk ke kursi pengendara. Tanpa melontarkan sepatah dua patah lagi, Satria langsung menyalakan mesin mobilnya.


Mobil hitam itu melesat membelah jalan raya yang begitu gelap karena lampu tak ramai berdiri di samping jalan. Hanya ada beberapa, itu pun tak seberapa cerah.


Sebenarnya perjalanan dari rumah Zeo ke rumah Satria sangat lama. Maklum, orang tua Zeo tinggal di desa sedangkan Satria tinggal di kota. Selama itu, Tiwi tidak melepaskan lirikannya dari Satria. Rasa kantuknya lenyap tertimpa kekhawatiran. Ingin mengatakan sesuatu sekarang juga, tetapi Satria bahkan tidak terlihat baik-baik saja saat ini. Perkataannya mungkin hanya semakin memberatkan hati Satria. Apalagi mereka sedang berada di dalam mobil melaju. Akan sangat tidak baik kalau konsentrasi berkendara Satria sampai terganggu.


Setelah sekian lama, akhirnya mobil itu berhenti di tengah halaman depan kediaman Satria. Satria menarik kunci mobilnya. Kemudian bergegas membuka pintu untuk pergi. Namun, Tiwi lebih cepat menahan tangannya. “Tunggu!” serunya.


Satria mengembalikan pantatnya ke kursi. Dia melihat Tiwi dengan alis kanan yang terangkat. “Kenapa?” tanyanya ketus. Ini tidak seperti Satria biasanya.


Tiwi menggerakkan tangannya. Dia menyentuh sisi pipi Satria.


“Awh!” jerit Satria meringis. Rupanya yang Tiwi sentuh adalah memar.


Sebenarnya tidak ada lampu yang mengisi mobil. Namun, terangnya lampu yang berasal dari teras rumah Satria berhasil menyingkirkan kegelapan di dalam mobil. Itulah kenapa Tiwi bisa menemukan memar itu.

__ADS_1


“Tuh, kan, sakit,” ujar Tiwi merasa prihatin.


Satria menurunkan tangan Tiwi. Kemudian memalingkan wajahnya. Dia benar-benar merasa malu karena Tiwi melihatnya dengan keadaan seperti ini.


“Gue enggak papa. Gini aja, kok …,” timpal Satria angkuh.


Tiwi menunduk. Tatapannya menjadi sayu. Dia sungguh merasa bersalah.


“Ini semua gara-gara saya,” tutur Tiwi dengan intonasi suaranya yang lemah.


“Iya. Ini semua gara-gara lo. Baru nyadar lo?” sindir Satria.


Akhirnya Satria menoleh. Dia terperangah mendengar perkataan Tiwi baru saja. Setelah apa yang Hendri lakukan kepadanya, perempuan itu masih membelanya ….


“Jadi, maksud lo, di sini gue yang salah?” tukas Satria.


Tiwi mengangkat kepalanya. Dia mengeluarkan ekspresi terkejut dari wajahnya. “Enggak gitu. Di sini malah saya yang salah. Saya udah ngecewain Bang Hendri dan Zeo, tapi saya malah biarin Tuan jerumusin diri buat bela saya,” jelas Tiwi.


Satria semakin terperangah. Sedangkan hatinya merasa tersinggung. “Jadi, cuma itu ucapan yang bisa lo kasih ke gue?”


Tiwi mengernyitkan dahi. “Apa maksud Tuan?” tanyanya tidak mengerti.

__ADS_1


Satria sudah muak. Entahlah. Sepertinya percuma saja berbicara dengan Tiwi. Dia pun keluar dari mobil tanpa membalas perkataan Tiwi.


Kini Tiwi tertinggal sendiri dengan keheranannya. Memangnya apa yang salah dengan ucapannya?


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2