Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
24. Kebenaran Yang Terkuak


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Zeo segera mengisi ulang baterai ponselnya. Kemarin dia lupa mengisinya sehingga baterainya habis saat di sekolah.


Iseng-iseng Zeo menghidupkan ponselnya. Barangkali ada seseorang yang mengirimkannya pesan sayang, meski tahu kalau itu tidak mungkin.


Tidak mungkin, tapi akhirnya kesadaran Zeo meloncat setelah membaca pesan dari Satria. Zeo pun langsung menghubungi Satria.


“Lo di mana sekarang?” tanya Zeo. Kemudian dia melirik ke arah jam. Rupanya sudah pukul setengah sepuluh malam.


“Kenapa?”


“Gue udah pulang, Bodoh! Lagian ngapain sih lo ke sana tanpa nunggu kabar dari gue? Hape gue mati dari tadi pagi,” tegur Zeo.


“Tenang aja. Gue udah pulang, kok.”


Zeo bernapas lega.


“Lain kali lo enggak perlu repot-repot. Gue bisa ke sana sendirian. Gue bakal panggil lo kalo gue emang butuh.”


Zeo langsung menutup panggilannya. Satria memang berniat baik kepadanya, tetapi Zeo malah sebal karena itu. Laki-laki itu terlalu ikut campur sampai merepotkan perasaannya. Ah, Zeo menjadi khawatir kalau laki-laki itu menunggunya terlalu lama. Pesan itu dikirim tadi siang, sedangkan Zeo baru membacanya.

__ADS_1


***


Tenang saja. Satria sudah pulang ….


Satria tidak benar-benar pulang. Seperti yang Zeo khawatirkan, Satria menunggu Zeo terlalu lama: dari siang sampai malam. Bahkan Satria baru sampai rumah setelah larut mungkin.


Esoknya Satria hendak mengantar Zeo lagi, tetapi dia kehilangan untuk kedua kalinya. Dia pun menghubungi Zeo, tetapi orang yang mengangkatnya malah Tiwi. Sepertinya ponsel Zeo ketinggalan di rumahnya. Sudah terlanjur, Satria tidak bisa berhenti begitu saja. Dia pun menanyakan sesuatu yang Tiwi bisa menjawabnya.


“Siapa nama tante lo?” tanya Satria. Dia berusaha sehati-hati mungkin menanyakannya.


“Tante? Apa maksud lo?” Tiwi terdengar kebingungan.


“Tantangan macam apa itu?”


“Kalo gue bisa jawab, Zeo bakal nerima cinta gue.”


“Berarti lo udah ditolak, Sat!” jelas Tiwi.


“Apa maksud lo?”

__ADS_1


“Nyokap gue anak tunggal, sedangkan bokap gue cuma punya dua kakak laki-laki.”


Seketika mulut Satria bergetar. Kilat pada bola matanya menjadi tajam. Tangan kirinya mengepal. Tidak perlu diulangi, Satria sudah tahu kalau dirinya telah ditipu Zeo.


“Jadi di mana Zeo sekarang?” tanya Satria. Nada suaranya berbeda, lebih menekan.


“Mau apa lo?!” Suara Tiwi terdengar panik. “Gue tahu lo kecewa banget, tapi itu bukan alasan buat lo berbuat macam-macam ke temen gue.”


“ENGGAK!” sentak Satria. Kemudian Satria menenangkan dirinya untuk beberapa saat. “Gue kan butuh penjelasan. Gue enggak bisa terus berada dalam harapan palsu ini,” katanya dengan intonasi suara yang lebih rendah.


“Ba-baiklah.” Tiwi terdengar ketakutan. “Di-dia sedang bekerja paruh waktu di rumah makan.”


“Kirimin gue alamatnya,” titah Satria.


“Ba-baiklah.”


Satria pun menutup panggilannya. Tak lama, dia menerima pesan Tiwi yang berisi alamat rumah makan tempat Zeo bekerja. Segera dia menaiki motornya dan melajukannya menuju alamat yang tertera.


Meski sebelumnya sudah tahu kalau Zeo bekerja di rumah makan itu, Satria masih terkejut setelah melihat langsung sesampainya dirinya di sana. Perempuan itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat mengantarkan makanan. Beberapa kali sampai diteriaki oleh beberapa orang. Terlalu sibuk sampai tak mampu mengaduh lelah. Entah apa yang membuat orang semuda Zeo bekerja sekeras itu, tetapi Satria tidak terbiasa melihat orang-orang yang disayangnya mendapatkan kehidupan sekeras itu. Satria tidak terbiasa dan itu belum pernah terjadi dalam hidupnya. Sejak kecil dia hidup hanya bersama ibunya di dalam sebuah istana. Ayahnya telah meninggalkan keluarganya sejak masa-masa itu.

__ADS_1


__ADS_2