Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
84. Kabar Tiwi


__ADS_3

Uhuy!!


Babang Satria Balik lagi 🤗🤗🤗


Selalu tinggalkan like dan komen, ya 😁😁


Hobbiku baca komen lho, btw 😉😉


Cuz ....


💃💃💃


“Mulai hari ini, lo udah berhenti dari jabatan lo sebagai kepala pelayan,” tutur Satria tiba-tiba.


“Apa?” pekik Tiwi. Kenapa Satria tiba-tiba bertingkah seenaknya begitu?


“Tapi apa salah saya?” tanya Tiwi.


“Enggak ada,” jawab Satria.


“Terus kenapa Tuan pecat saya?” tuduh Tiwi.


“Gue enggak pernah pecat lo. Gue cuma pindahin jabatan lo doang,” jelas Satria.


Tiwi tidak senang sama sekali. Dipecat masih lebih baik dari pada dia harus bekerja dengan penurunan jabatan.


“Tapi apa salah saya? Apa saya pernah melalaikan tugas saya sebagai kepala pelayan?” tanya Tiwi.


“Enggak. Lo enggak punya salah apa-apa,” tutur Satria.


“Lalu kenapa Anda menurunkan jabatan saya kalau saya enggak punya kesalahan apa-apa?” tanya Tiwi.

__ADS_1


“Karena gue punya pekerjaan lain buat lo,” jawab Satria.


Alis kanan Tiwi terangkat. Sedangkan Satria kini menunjuk Joffy dengan memeluk punggung anak kecil itu.


“Lo harus jaga dia mulai sekarang,” titah Satria.


Akhirnya Tiwi menyadari keberadaan anak kecil itu. Tadinya dia tidak terlalu menyadari.


“Gue bakal kasih lo gaji dua kali lipat, tapi lo harus jaga dia dua puluh empat jam,” jelas Satria.


“Terus aku harus tinggal di kamar ini, gitu? Ogah!” tolak Joffy.


“Ck,” Satria berdecak. “Emangnya kenapa? Kamar ini bagus, kok. Lihat itu, ada temennya juga.” Satria menunjuk Putri yang sedari tadi hanya melihat dari atas ranjang.


“Siapa dia?” tanya Joffy dengan nada berbisik. Dia merasa malu kalau Tiwi sampai mendengarnya.


Satria menunduk sehingga mulutnya berada tepat di depan Joffy. “Enggak tahu. Lo cari tahu sendiri aja,” balasnya ikut berbisik. Kemudian mendorong pelan punggung Joffy. Joffy pun memberanikan diri mendekati anak perempuan itu sampai menaiki ranjang.


“Tapi, saya, kan, juga harus jaga anak saya sendiri,” tutur Tiwi merasa keberatan.


Tiwi menggigit bibirnya sendiri. Dia tengah memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Namun, percuma saja, dia tidak bisa memilih. Satria adalah majikannya sehingga Satria bebas memindahkan tugasnya ke mana-mana. Lagi pula utang Tiwi teramat banyak. Kalau dia memutuskan untuk mengundurkan diri, lalu siapa yang akan membayarkan utangnya?


“Baiklah,” tutur Tiwi dengan berat hati memutuskan.


“Lo tenang aja. Ini enggak bakal lama, kok. Setelah Joni pergi, gue bakal balikin posisi lo kayak semula,” jelas Satria.


“Joni? Namanya Joni?” Kenapa terdengar sayang sekali?


“Entahlah. Itu anak sama namanya sendiri aja lupa. Gimana aku yang baru kenal dia,” timpal Satria merasa putus asa.


“Emangnya dia anaknya siapa?” baru sekarang Tiwi menanyakan itu.

__ADS_1


“Siapa lagi orang yang berani nitipin anaknya ke gue?”


Tiwi mengernyitkan dahi. Dia masih tidak mengerti apa maksud perkataan Satria.


“Zeo,” jelas Satria sebelum Tiwi menanyakan.


Seketika bola mata Tiwi menjadi hidup. “Zeo ke sini?” tanyanya.


“Iya. Tadi,” jawab Satria.


“Terus di mana dia sekarang?” tanya Tiwi antusias. Sudah lama dia merindukan sahabatnya itu.


Dasar perempuan jahat! Bisa-bisanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan pamit. Tiwi hanya tahu dari pembatalan pernikahan waktu itu.


“Udah balik lagi ke Rusia,” tutur Satria.


“Terus ngapain ninggalin anaknya di sini? Kenapa juga buru-buru balik ke luar negeri?” cecar Tiwi.


.


..


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2