Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
118. Permintaan Bara


__ADS_3

Pagi semua 🤗🤗🤗


Moga enggak bosen-bosen, ya 😉 biar authornya makin semangat buat jadi gila...


btw, emang ada ya, org yang suka jadi gila 🤔


pokoknya gitu aja deh 😁😁


Cuz ....


💃💃💃


“Memangnya ke mana dia? Apa nanti malam dia akan kembali ke sini?” Bara malah menyalah-artikan perkataan Satria.


“Dia udah enggak di sini, berarti dia udah enggak tinggal di sini,” jelas Satria.


Bara diam mengatur pernapasannya sendiri. Berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat terkejut. Setelah dia berhasil, dia bertanya, “Lalu di mana Zeo tinggal sekarang?”


“Di rumah orang tuanya,” jawab Satria.


“Kalo gitu aku harus ke sana sekarang!” tegas Bara. Dia berbalik dan mulai melangkah.


Satria terkejut melihat tindakan Bara yang ceroboh seperti ini. Ini tidak seperti Bara yang biasanya. Dia bergegas mengejar Bara, lalu menghentikan langkah Bara dengan memegang lengannya.


Ah, sial! Apa yang kamu lakukan ini, Satria?


Untuk pertama kalinya Satria menyentuh anggota tubuh Bara. Apa sebegitu runyamnya pikiran Satria? Dia, kan, masih bisa menghadang.


“Jangan!” seru Satria melarang.

__ADS_1


Bara menoleh. Di wajahnya dipenuhi oleh tanda tanya.


“Tapi aku harus terus meminta maaf sama dia,” jelas Bara.


“Ternyata Anda tidak berubah sama sekali, ya?” tuduh Satria.


Padahal ini sudah enam tahun berlalu. Satria bisa berubah, Tiwi juga, bahkan Satria bisa melihat itu di diri Zeo. Namun, Bara tidak. Laki-laki itu terus saja mengganggu orang hanya untuk mendapatkan maaf. Dulu dia melakukannya kepada Satria, sekarang ke Zeo. Apa dia tidak tahu betapa mengganggunya itu?


“Apa maksudmu?” sahut Bara.


“Berikan waktu buat Zeo,” tutur Satria, “seenggaknya sampai dia merasa tenang dan siap buat ketemu Anda.”


“Emangnya dia bakal mau ketemu aku?” Bara malah bertanya.


“Asal Anda enggak nikah sama perempuan lain lagi, pasti dia mau, kok,” sindir Satria.


Bara menurunkan tatapannya ke arah tangan Satria yang belum terlepas. Satria mengikuti arah padang Bara. Dia sendiri terkejut akan tindakannya. Dia pun melepaskan tangannya.


“Aku enggak bilang apa-apa,” jelas Bara.


“Kalo gitu saya lega,” timpal Satria.


Satria membuang pandangannya menjauh. Dia berusaha menenangkan dirinya. Sebenarnya, karena menyentuh Bara, dia jadi merasa tidak nyaman.


“Terus aku harus gimana?” rengek Bara.


Satria menoleh. Dahinya berkerut dan mulutnya terbuka. Dia terperangah atas apa yang dia lihat ini. Apa benar Baralah yang merengek dan bersikap manja ini?


Satria tidak salah lihat,kan?

__ADS_1


“Kenapa Anda jadi tanya saya?” sahut Satria merasa sebal.


“Karena aku enggak tahu harus gimana,” timpal Bara.


“Kenapa harus ke saya? Orang yang jadi suaminya Zeo itu, kan Anda. Kalo bukan gara-gara Anda, mungkin saya masih bisa jadi suaminya Zeo dan akan jawab pertanyaan Anda,” sindir Satria.


Bara menunduk. Sindiran itu membuatnya merasa bersalah. Tak lama, dia mendongak dengan ekspresi wajah memelas.


“Tolong bantu aku,” pinta Bara.


Ah, sial! Satria, kan, paling tidak tegaan dengan ekspresi wajah seperti itu!


“Ya udah!” timpal Satria dengan tidak ikhlas.


Kedua sudut bibir di wajah Bara menaik. Melukiskan garis pelangi berwarna merah. Dia sangat senang mendengar itu.


“Kalo gitu ayo masuk ke rumah dulu. Nanti jelasin apa yang udah terjadi di antara kalian. Jangan ada satu pun yang terlewat apa lagi rahasia-rahasiaan. Kalau ada sedikit aja yang kurang, aku enggak bakal mau bantu,” ancam Satria.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2