
Sebenarnya Tiwi merasa keberatan. Namun, akhirnya dia malah tertawa. Terus bersikap formal setelah memiliki hubungan seakrab ini memang terasa aneh.
“Apaan, sih, lo!” Akhirnya Tiwi menyerah. Memang lebih nyaman memanggil seperti ini.
“Tapi, sejak kapan lo mulai panggil gue ‘tuan’ kayak gitu?” tanya Satria. Dia masih ingat jelas bagaimana Tiwi kerap bertingkah seenaknya kepadanya. Tentu saja. Tiwi, kan, lebih tua dari Satria.
Tiwi kembali menyelonjorkan kakinya. Tatapannya mengarah ke warna putih terang di atas sana. Seolah melihat kebebasan dirinya.
“Enggak ingat, sih. Setelah kerja itu, gue masih biasa aja kayak gini. Terus gue udah ditegur ama kepala pelayan. Udah, deh. Enggak berani lagi sok akrab,” ujar Tiwi.
“Lo sekarang, kan, udah jadi kepala pelayan. Jadi, enggak ada yang perlu lo takutin. Enggak akan ada kepala pelayan yang bakal negur lo,” timpal Satria.
Tiwi menoleh. Kedua matanya menyipit. Rupanya ada kejanggalan yang belum Satria sadari dari perkataannya.
“Gue udah bukan kepala pelayan lagi, tahu!” tegas Tiwi. Dia kembali menghadapkan pandangannya ke depan. Melihat wajah lugunya Satria membuatnya merasa sebal.
“Oh, iya, ya.” Satria baru mengingat itu.
Ah, Satria! Di mana tanggung jawabmu? Hal sepele begitu saja dilupakan ….
Tiwi menimpali Satria dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi, lo enggak keberatan, kan, gue turunin jabatan?” tanya Satria.
“Gue malah pengen terus kerja kayak gini. Bisa jaga anak sendiri, dapat gaji lagi,” jawab Tiwi.
“Sayangnya semua cuma harapan aja. Karena setelah Zeo ambil anak itu lagi, jabatan lo bakal balik ke semula,” ujar Satria.
“Zeo ….”
__ADS_1
Tiba-tiba Tiwi teringat sesuatu.
Ah, sial! Rupanya bantuan dari Satria malah membuatnya berada di posisi semakin runyam. Satria yang mengatakan kalau Joffy adalah anak mereka berdua. Kalau Hendri sudah tahu bahwa Joffy adalah anak adiknya, bagaimana Tiwi harus menjelaskan?
Lalu Hendri ….
Ah, sial! Tiwi tidak yakin bisa membawa Zeo pulang hanya dalam satu bulan.
-oOo-
Mobil hitam Satria melaju. Gerbang rumahnya pun terbuka tanpa diperintahkan. Meski begitu, mobil Satria tidak lagi berjalan. Ada seseorang yang berhasil menghentikannya.
Dahi Satria berkerut. Dia keheran kaan keberadaan orang itu di sini.
“Ngapain ayah ke sini?” gumamnya.
Tok tok tok! Bara mengetuk jendela mobil Satria.
Meski ogah-ogahan, akhirnya Satria menurunkan kaca jendela mobilnya. Memberikan Bara kesempatan untuk berbicara.
“Ada apa?” tanya Satria dengan dinginnya. Sedangkan pandangannya tidak sedikit pun melihat Bara. Satria hanya memfokuskan diri ke depan.
“Ada yang perlu kubicarakan sama kamu,” tutur Bara.
“Kalau gitu katakan,” timpal Satria.
“Kita enggak bisa membicarakan ini dalam posisi seperti ini,” jelas Bara.
“Kenapa enggak? Tinggal bilang aja, kok,” tutur Satria sinis.
__ADS_1
“Ini menyangkut Zeo,” ujar Bara.
“Lagian dia bukan urusan saya,” timpal Satria.
“Zeo menghilang.”
Satria langsung menoleh. Ekspresi wajahnya menjadi panik. “Apa maksud Anda?” pekiknya.
Bara menunduk. Bola matanya memantulkan ketakutan. “Ini semua salahku,” akunya.
Wajah Satria memerah. Dia bahkan sampai menggertakkan gigi. Entah siapa yang salah, entah bagaimana ceritanya, dia benar-benar marah sekarang.
“Tunggu di halaman, tapi jangan masuk ke rumahku,” titah Satria.
Satria menyalakan lagi mobilnya. Dia melajukan mundur mobil itu ke halaman rumahnya. Di halaman itu, terdapat kursi dan meja berwarna putih. Satria memang menyuruh Bara menunggu. Namun, karena dirinya menggunakan mobil, tentu saja malah dia yang menunggu..
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1