Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
6. Seorang Laki-laki Dewasa


__ADS_3

Gila-gila-gila. Zeo benar-benar sudah gila. Tidak ada satu pun orang dewasa di pesta itu dan pesta itu benar-benar diisi anak-anak SMA. Karena ulah Tiwi, Zeo terlihat menonjol sendiri. Untungnya dia mengenakan gaun pemberian Satria. Jika dia mengenakan gaun Tiwi, dia mungkin dilupakan kalau dirinya adalah anak tercantik di SMA.


Zeo ingin berbalik dan pulang saja. Namun, dia lebih mengkhawatirkan ancaman Satria. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, tidak ada negoisasi lain lagi. Zeo pun memasuki ruangan dengan menunduk dan menutupi dadanya dengan tas. Untungnya dia mengenakan topeng sehingga tidak ada siapapun yang mengenali dirinya. Zeo pun duduk di sebuah meja setelah mengambil segelas minuman dan meminumnya sedikit.


“Kenapa sendirian?”


Zeo mendongak setelah sebelumnya menghabiskan waktu dengan membuang muka. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap sudah berada di depannya rupanya.


“Oh ….” Zeo kebingungan. Setelah melihat sekelilingnya, dia baru menyadari kalau dia memang sendirian sedangkan yang lain tengah berkumpul bersama beberapa orang. Mungkin karena Zeo masih baru dan tidak memiliki teman.


“Bisa saya duduk di sini?” tanya laki-laki itu sebelum Zeo menjawab.


“I-iya,” jawab Zeo. Kemudian dia membuang muka lagi.


Beberapa saat kemudian, Zeo memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Dia memerhatikan laki-laki yang duduk di hadapannya. Laki-laki itu berbicara formal dengannya. Suaranya juga terdengar matang. Bisa diyakini kalau laki-laki ini adalah laki-laki dewasa. Padahal tidak ada orang dewasa lain selain laki-laki ini. Zeo bahkan tidak melihat orang tua Satria.


“Kenapa kamu terus melihat saya? Apa saya melakukan kesalahan?” tanya laki-laki itu menyadari tingkah Zeo.


“Bukan-bukan.” Zeo mengangkat kedua telapak tangannya. “Di sini saya tidak melihat satu orang dewasa pun selain kamu. Apa kamu salah satu keluarga Satria, Om mungkin?”

__ADS_1


Laki-laki itu tertawa pelan. “Bukankah kamu juga orang dewasa?”


Apa Zeo tidak salah dengar? Laki-laki itu menyebut Zeo sebagai orang dewasa? Apa Zeo benar-benar sudah terlihat seperti orang dewasa? Mungkinkah itu juga yang membuat teman-teman sekolahnya tidak ada yang mendekatinya, justru sebaliknya malah laki-laki ini?


Tiba-tiba Zeo melihat laki-laki itu mengangkat gelas minuman milik Zeo.


“Eh, itu minuman saya,” kata Zeo. Sayangnya, laki-laki itu sudah meminum minumannya sedikit.


Laki-laki itu pun menurunkan gelasnya. “Enggak papa. Kamu bisa ambil punya saya.” Laki-laki itu malah mendorong gelas minuman miliknya yang belum diminum sedikit pun. Kemudian dia melanjutkan tegukannya.


Zeo pun meraih gelas itu dengan ragu-ragu. Dia menjadi gugup. Bukan karena minumannya telah diminum laki-laki itu yang membuatnya merasa berat, tetapi cerita Tiwi tentang ciuman pertamanya yang membuat Zeo teringat. Apa yang terjadi padanya saat ini persis seperti cerita Tiwi. Apa itu berarti ciuman pertamanya telah diambil oleh laki-laki ini? Tepatnya laki-laki asing yang jangankan namanya, wajahnya saja tidak tahu?


“Aku?” Zeo bingung memilih jawaban.


“Saya udah beberapa kali menghadiri pesta yang Satria adakan. Tapi baru kali ini saya lihat orang dewasa lain selain saya,” tambah laki-laki itu.


“Anu … saya juga gurunya Satria … di SMA,” akhirnya Zeo mengatakan kebohongan itu.


“Benarkah?”

__ADS_1


Kini Zeo khawatir jika laki-laki ini sampai tidak mempercayainya, bahkan tahu kalau di SMA Satria tidak ada guru sepertinya.


“Sepertinya kalian cukup dekat sampai Satria mengundangmu,” tambah laki-laki itu.


Ah, Zeo bernapas lega. Kebohongannya tidak terbongkar dengan mudah.


“Iya. Beberapa kali saya menyisihkan waktu saya untuk membantunya belajar di perpustakaan.” Ah, Zeo semakin memperpanjang kebohongannya.


Tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan tangannya. Zeo mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Sebagai sesama orang dewasa, bagaimana kalau kita berdansa,” ajak laki-laki itu.


Zeo menoleh ke sekitarnya. Dia masih ragu-ragu jika seseorang mengenalinya. Karena tidak ada tanda-tanda kedatangan Satria, Zeo pun menerima uluran tangan itu dan keduanya pun berjalan ke tengah-tengah. Lagipula tidak ada yang mengenalinya sebelumnya. Tidak ada yang akan menyangka kalau dirinya yang terlihat dewasa ini sebenarnya hanya anak SMA.


Laki-laki itu langsung menarik punggung Zeo sehingga jarak mereka menjadi sangat dekat. Zeo menjadi semakin gugup. Dia belum pernah berdekatan dengan jarak sedekat ini dengan seorang laki-laki dalam suasana keseriusan. Dia pun menundukkan kepalanya. Tiba-tiba laki-laki itu malah mendorong pelan dagu Zeo sehingga terpaksa Zeo harus mendongak. Kemudian laki-laki itu mengunci Zeo dengan tatapannya. Tatapan itu terasa nyaman. Zeo sampai tidak mampu menurunkan tatapannya.


Sial, sial, dan sialnya Zeo tidak bisa mempertahankan keberuntungan yang diperolehnya. Dia harus menghentikan tariannya, menyembunyikan rasa malu, karena salah satu dari gulungan kaus kakinya jatuh.


***

__ADS_1


__ADS_2