
Seorang dokter perempuan melihat Tiwi dengan ekspresi kecut. Tidak seperti biasanya: dia selalu tersenyum saat memberikan kabar ini. Dokter itu sudah menebak apa yang terjadi: sebuah kesialan yang menimpa seorang pasiennya.
“Temanmu telah hamil dengan usia kandungan empat minggu,” kata dokter itu usai mengembuskan napas berat. Meski begitu, napas itu tidak seberat beban yang kini masuk ke dalam hati Tiwi.
Seketika Tiwi mematung. Sekali saja tidak berkedip.
Itu tidak mungkin! Zeo bahkan tidak tertarik berpacaran dengan siapa saja. Apa orang bisa hamil dengan sendirinya? Apa hanya dari nonton drama, orang akan hamil beitu saja?
Tiwi berusaha memaksakan senyumnya. Seolah-olah yang Dokter tadi katakanya sekadar lelucun. “Coba dicek sekali lagi, Bu. Bu Dokter pasti salah periksa. Teman saya bahkan belum menikah,” tuduh Tiwi.
Namun, jawaban dari dokter itu masih sama. Dia yakin dan tak mungkin salah. Dia bahkan sampai menjelaskan lebih rinciya.
Setelah berbincang dengan dokter itu, Tiwi pergi ke tempat di mana Zeo diinapkan. Tadi Tiwi sangat kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Jadi, dia membawa Zeo ke rumah sakit. Entah bagaimana membayarnya. Biar Zeo yang memikirkan. Kalau tidak ada, Tiwi, kan, masih bisa menghutang. Lalu untuk melunasinya, biar Zeo sendiri yang memikirkan.
Sesampainya di kamar, rupanya Zeo sudah bangun meski tubuhnya masih sangat lemah. Tiwi pun duduk di samping Zeo sembari mengeluarkan napas berat dari mulutnya. Dia harus mendapat penjelasan dari Zeo, bahkan dengan keadaan Zeo yang sekarang—sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
“Lo ngapain, sih, bawa gue ke sini?” protes Zeo, bukannya berterima kasih kepada sang pahlawan penyelamat dirinya. “Gue enggak papa, kok. Jadi, ayo kita pulang sekarang.”
Zeo bersiap bangun, tetapi Tiwi malah menghadangnya. Kemudian mendorong Zeo sehingga kembali tertidur.
“Anak siapa itu?” tanya Tiwi dengan tatapan dingin. Berbeda jauh dengan Tiwi biasanya yang selalu menganggap dunia ini sebagai permainan.
Zeo tidak mengerti apa yang Tiwi maksudkan. Dia menoleh ke kanan kiri. Namun, tidak ada satu pun anak kecil di sekitar sini. Jadi, anak siapa yang Tiwi maksudkan?
“Yang mana?” tanya Zeo.
Zeo bangun duduk. Dia menunduk, memerhatikan pusat perhatian Tiwi. Kemudian memegangi perutnya. Dia masih tidak mengerti maksud Tiwi.
“Apa maksud—“ Seketika kedua mata Zeo membelalak. “A-a-apa maksudnya—”
“Lo hamil! Jadi bilang, anak siapa itu?!” seru Tiwi.
__ADS_1
Sudah susah payah Tiwi membangun mode serius, Zeo malah tertawa. “Apa lo bercanda? Emangnya anak siapa yang bisa nyasar ke sini? Emangnya sinetron pardes?”
“ZE! Gue enggak bercanda! Jadi anak siapa itu?!” tanya Tiwi dengan menjerit. Dia sudah merasa sangat frustasi.
“Ja-jadi … aku hamil?”
Memangnya Tiwi tadi bilang apa?
“Ta-tapi gue enggak boleh hamil, nih!” Zeo menoleh ke segala arah di bawah. Dia benar-benar kebingungan. Mulutnya yang membuka tidak segera menutup. Kemudian dia mendongak. “Gu-gue harus gimana, Wiii ….?” kini dia merengek.
“Aish!”
Tiwi bangkit. Dia berjalan ke sana kemari dengan mengacak-acak rambut di kepalanya yang tidak gatal. Zeo yang salah, tetapi Tiwi yang rasanya akan mati berdiri di sini. Tiwi benar-benar kebingungan. Karena akhir dari kehidupan Zeo adalah akhir dari kehidupannya.
Tiwi kembali menghadap Zeo. Dia mengangkat telunjuknya lagi. “Pertama-tama, lo harus bilang soal kandungan ini ke ayahnya!” tegas Tiwi.
__ADS_1