
Tiwi terperangah.
“ZE ….”
“Kalo gue bilang ke lo, mungkin lo akan bilang kebenaran ini ke dia. Gue enggak mau! Gue enggak mau ngehancurin kebahagiaan dia!” jelas Zeo.
“Lo salah, Ze! Apa yang gue lakuin ini bukan cinta, tapi keegoisan! Yang gue lakuin ini salah! Jadi jangan tiru gue! Pelase!” larang Tiwi.
“Meski gitu, bukannya enggak ada yang sedih di antara kalian? Kalian sama-sama bahagia dan masih bisa hidup kayak biasanya,” tuduh Zeo.
“Enggak! Gue masih di sini, masih terpuruk sendirian di sini,” elak Tiwi. Suaranya menjadi melemah jika menyangkut betapa sialnya kehidupannya.
“Tapi lo masih bisa jalani hidup seperti biasa. Gue yakin pasti bisa kayak lo,” tuduh Zeo.
“Terus gimana sama bayi lo? Tolong jangan kayak gue, Ze! Karena cinta ini, bukan perasaan lo yang dikorbankan, tapi bayi lo. Meski lo bisa jaga dia, tetap aja dia masih butuh seorang ayah,” pinta Tiwi.
“Apa hanya itu?” tanya Zeo.
“Maksud lo?” Tiwi tidak mengerti mana yang Zeo tanyakan.
“Apa cuma ayah yang bayi ini butuhkan?” jelas Zeo.
“Ze ….”
“Kalo cuma itu, gue bisa kasih ayah ke dia,” tutur Zeo.
“Maksud lo apa, Ze?” Tiwi masih tidak mengerti apa maksud Zeo. Namun, itu membuatnya semakin khawatir. Jangan bilang kalau Zeo akan berbuat nekad untuk mendapatkan seorang ayah.
“Ze, Tolong, jangan ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh lagi …,” pinta Tiwi.
__ADS_1
Sesuatu aneh ….
Apa itu?
Zeo tidak tahu apa yang Tiwi maksudkan, dia hanya tahu kalau dia sedang dalam mode perjuangan.
Zeo tidak menjawab. Dia tidak akan mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada Tiwi. Tiwi takkan setuju, tetapi Zeo sudah gila.
-oOo-
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid langsung berbubaran keluar dari kelas. Begitu pun dengan Satria. Dia akan langsung pulang. Sudah tidak ada lagi seseorang yang bisa ditunggunya dan berusaha untuk dia antarkan.
Semua sudah berlalu dan hanya menyisakan masa lalu.
Keluar dari bangunan sekolah, Satria terperangah. Dia mendapati Zeo tengah berdiri bersandar motornya. Apa yang sedang perempuan itu lakukan di sana?
“Minggir,” usir satria.
Satria hendak mengambil helmnya. Namun, Zeo malah memegangi tangannya.
“Ada yang mau gue bilang sama lo,” tutur Zeo.
Satria melepaskan tangannya dari Zeo. “Apa?” sahutnya.
“Enggak di sini,” tegas Zeo.
“Apa maksud lo?” Satria mengernyitkan dahi.
Zeo tidak menjawab. Dia kembali memegangi tangan Satria. Kemudian melangkah sembari menarik laki-laki itu.
__ADS_1
Satria tidak mengerti apa maksud Zeo. Namun, dia tetap melangkah mengikuti Zeo. Dia sendiri penasaran apa yang sudah membuat Zeo sampai harus menemuinya setelah sekian lama.
“Ze, mau ke mana kita?” tanya Satria.
Zeo masih tidak menjawab. Dia terus fokus pada jalan di depannya. Zeo malah mengajak Satria pergi ke atap sekolah.
“Dapat dari mana lo kunci ini?” tanya Satria keheranan. Dirinya bahkan tak memilikinya.
Zeo juga tidak menjawab. Dia hanya terus menarik Satria. Membiarkan laki-laki itu terus bergelut dalam keheranannya.
Setelah pintu terbuka, Satria langsung dihadapkan dengan kekaguman. Pemandangan yang bisa dilihat dari sini begitu indah. Dia baru menyadari itu meski ini bukan kali pertama dia datang kemari.
Belum selesai Satria menikmati rasa kagumnya, tiba-tiba Zeo mendorong Satria ke arah dinding.
“Ze. A-apa—“
Sebelum Satria menyelesaikan kalimatnya, Zeo langsung memotong dengan melayangkan ciumannya.
-oOo-
Wadaw 😣😣😣
Aku tutup mata aja, deh ....
🙉🙉🙉
Eh, itu telinga 🙄🙄
Bagi komentar positifnya, Kakak 🤗🤗🤗
__ADS_1