Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
123. Pertemuan Kesekian Kali


__ADS_3

Tiwi kembali ke tempat ini. Di mana dia merasa terluka terakhir kali. Lagi-lagi Tiwi mengembuskan napas berat. Tatapannya menjadi sayu saat melihat punggung seorang laki-laki di atas kursi taman. Sedangkan tubuhnya bergemetar. Takut-takut kalau sesuatu yang tidak dia harapkan telah terjadi. Maksudnya, tentang kebenaran Joffy yang bukanlah anaknya.


Tiwi teringat akan perkataan Satria kemarin. Itulah yang membuatnya merasa lebih baik. Tiwi yakin kalau mempercayai Satria adalah langkah terbaiknya saat ini. Dia pun melanjutkan langkahnya, lalu langsung duduk di samping laki-laki itu.


“Bang Hendri,” sapa Tiwi.


Laki-laki yang dia sebut namanya itu menoleh. Namun, ekspresi yang memantul di bola matanya masih tak berubah, penuh ketidaksukaan.


“Zeo udah pulang,” tutur Hendri tanpa membalas sapaan Tiwi.


Tiwi tidak menoleh. Dia tetap menunduk. Lagi pula dia tidak merasa terkejut.


Hendri mengangkat sudut bibir kirinya. “Udah aku duga …,” katanya.


Akhirnya Tiwi menoleh. Di wajahnya dipenuhi tanda tanya. “Kenapa, Bang?” tanyanya.


“Kepergian Zeo pasti ada hubungannya sama kamu,” tuduh Hendri.


“Kayaknya kemarin-kemarin aku udah bilang kalo aku enggak tahu apa-apa soal Zeo dan ke mana dia pergi!” tegas Tiwi.


“Terus kenapa Zeo bisa tiba-tiba pulang?” tanya Hendri.

__ADS_1


Tiwi mengernyitkan dahinya. “Bukannya itu yang Bang Hendri mau? Kenapa sekarang malah bertanya?” timpal Tiwi.


“Sebagai seorang kakak, tentunya aku sangat senang akan kepulangan adikku. Memang itu yang aku mau dari dulu. Tapi, yang bikin aku jadi semakin curiga, kenapa aku harus ancam kamu dulu biar adikku pulang? Kalo kamu beneran enggak tahu apa-apa soal adikku, itu enggak mungkin terjadi,” tuduh Hendri.


“Itu cuma kebetulan, Bang. Cuma kebetulan aja, waktu Abang ketemu aku, eh, Zeonya udah mau pulang. Apa lagi ini udah enam tahun juga,” bela Tiwi.


“Justru karena udah enam tahun itu …. Kalo dia udah enggak pernah pulang, kenapa tiba-tiba pulang? Enam tahun itu waktu yang lama. Kalo dia udah cukup sama kehidupannya di sana, ngapain harus pulang?” sindir Hendri.


Tiwi terperangah. “Kok aku jadi serba salah, ya, Bang? Zeo enggak pulang, Abang ancam aku. Sekarang Zeo pulang, Abang masih nyalahin aku.”


“Karena emang aslinya kamu yang salah,” tukas Hendri.


“Entah apa maksudmu ngelakuin semua ini,” imbuh Hendri dengan gumaman.


Dahi Tiwi mengernyit. “Maksud? Maksud apa yang Abang maksudkan?” tanya Tiwi.


“Seharusnya kamu yang tahu niatmu lebih dari aku,” timpal Hendri.


“Sekarang niat. Sebenarnya apa, sih, yang Abang maksudkan?” Tiwi semakin tidak mengerti ke mana alur pembicaraan ini pergi. Dia hanya tahu kalau Hendri telah banyak menyalahpahami dirinya.


“Kamu masih suka, kan, sama aku,” lagi-lagi Hendri menuduh.

__ADS_1


“Ha?” Mulut Tiwi menganga. Lelucon macam apa ini?


Ini bahkan bukan drama. Apa Hendri pikir enam tahun bukanlah waktu yang cukup untuk memendam masa lalu?


“Aku enggak peduli sama perasaan sukamu ke aku, tapi pendam itu baik-baik. Enggak usah berulah. Bukannya kita sendiri yang sepakat kalau masa lalu kita sekadar kesenangan saat remaja? Sesuatu yang enggak seharusnya dipikirin berlebihan,” jelas Hendri.


“Iya. Aku ngaku kalo aku pernah suka sama Abang meski kita udah putus. Tapi apa hubungannya antara rasa sukaku sama Zeo?” tanya Tiwi.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2