Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
75. Antara Seorang Istri Dan Ibu 2


__ADS_3

Mama Zeo Balik lagi .....


Boleh tinggalkan like dan komen positifnya, kan 😁😁😁


Cuz ....


💃💃💃


Bara mengernyitkan dahinya.


“Aku ingin memiliki hubungan baik dengan Satria, setelah luka apa yang sudah kuberikan padanya di masa lalu. Untuk itu, aku membutuhkanmu untuk menjadi orang tua yang baik untuk Satria,” jelas Zeo.


Bara terperangah mendengar jawaban Zeo. Sejak kapan istrinya yang selalu bersikap kekanakan ini bisa bertingkah sedewasa ini?


Apa dia benar Zeo?


Tangan Bara bergerak untuk menyisihkan sedikit rambut berwarna pirang yang menutupi wajah Zeo. Dia menyisihkan rambut itu ke belakang telinga sehingga kini, kecantikan dari wajah Zeo tampak jelas.


“Apa menjadi istriku aja masih enggak cukup?” tanya Bara dengan tangan kanannya yang masih belum pindah dari pipi Zeo.


“Aku cukup hanya dengan menjadi istrimu. Tapi Satria … selama ini dia hidup tanpa orang tua. Apa kamu pikir kehidupan seperti itu cukup untuknya?” sahut Zeo.


“Apa kamu enggak bisa cukup pikirin dirimu sendiri? Kebahagiaanmu sendiri?” tanya Bara lagi.


Zeo menggelengkan kepalanya. “Enggak,” jawabnya, “Aku hanya bahagia kalau keluargaku juga bahagia. Sejak aku menjadi istrimu, maka aku juga menjadi ibu bagi anakmu. Dan kebahagiaan anakku adalah kebahagiaanku juga.”


“Kamu tahu, caramu yang mampu menjadi dewasa seperti ini membuatku cemburu,” tutur Bara.

__ADS_1


“Kamu enggak perlu cemburu karena aku memberikanmu rasa sayangku yang paling banyak dari yang lainnya,” bela Zeo.


“Benarkah? Bagaimana kamu membuktikan itu?”


Jadi, Bara menantang Zeo?


Apa Bara lupa kalau Zeo adalah perempuan yang tidak takut pada tantangan?


… Begitu pun dahulu, maupun sekarang.


Zeo mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Bara. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan langsung saja meraih bibir Bara. Zeo mencium Bara secara sepihak.


Sejenak Bara terkejut. Dia langsung melepaskan ciuman itu. Tidak membiarkan Zeo menikmati bibirnya seenaknya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Bara.


“Tapi kita enggak bisa ngelakuin di sini. Gimana kalau Ipul sampai lihat?” protes Bara yang merasa khawatir.


Bibir Zeo berubah manyun. Ini juga yang menjadi penyesalannya. Karena hamil dua, dia jadi tidak bisa merasakan betapa indahnya kehidupan sepasang pengantin baru.


“Tapi, kan, Joffy enggak ada di sini,” bela Zeo.


“Kalau dia lewat, bagaimana?” tanya Bara.


“Bodo amat!” seru Zeo.


Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Istrinya ini hanya bisa bekerja dengan baik, hanya sebagai istri. Selain itu, dia sudah payah dalam segala hal: baik sebagai anak atau sebagai ibu. Bara hanya bisa berharap kalau putranya sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk di usia kecilnya.

__ADS_1


“Sayaaang …,” rengek Zeo.


Bara mengabaikan Zeo sejenak. Kemudian menyapu pandangannya ke sekeliling. Setelah merasa kalau di sekitarnya hanya berisi kesepian, Bara kembali menoleh ke Zeo. Langsung saja dia mengangkat tubuh Zeo, sehingga berpindah duduk ke atas pangkuannya.


“Eh, Yang!” pekik Zeo merasa terkejut.


“Apa ya—“


Sebelum Zeo menyelesaikan kalimatnya, Bara sudah menciumi bibirnya.


Zeo bereaksi sama seperti Bara sebelumnya. Dia pun melepaskan bibirnya sehingga ciuman itu tidak terjadi.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zeo.


“Melakukan apa yang kamu inginkan,” jawab Bara.


“Gimana kalau Joffy sampai lihat?” tanya Zeo.


“Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau dia enggak ada di sini?” sahut Bara.


“Kalau dia sampai lewat?”


“Enggak akan!”


Menyadari kalau mereka mengulangi adegan sebelumnya, keduanya merasa geli sendiri, mereka mulai tertawa. Hanya sejenak ….


Zeo kembali mengalungkan tangannya ke belakang leher Bara. Kemudian mulai melanjutkan ciuman yang sudah terhenti dua kali tadi.

__ADS_1


-oOo-


__ADS_2