
“Sini ….” Pak Doki menepuk bagian sofa di sampingnya. “Kalian duduk aja di sini.”
Zeo dan Bara merasa tidak yakin. Awalnya mereka berdebat dengan tatapan. Akhirnya mereka pun duduk berdampingan di samping Pak Doki, dengan Bara berada di tengah-tengah.
Pak Doki menepuk pelan punggung Bara. Mencoba membangun keakraban dengan menantunya. “Sebenarnya aku kecewa karena pernikahan kalian. Gara-gara kalian aku enggak jadi punya menantu anak orang kaya. Apalagi kamu …” Pak Doki mencubit pipi Bara dengan gemas. “… Kamu itu udah kayak adikku sendiri.”
Bukannya menolong Bara dari siksaan ayahnya, Zeo malah tertawa. Seolah mensyukuri nasib sialnya Bara.
Setelah puas, Pak Doki malah memeluk Bara penuh kasih sayang.
“Tapi, karena kamu adalah orang pilihan yang anak kami sukai, mau bagaimana lagi, kami juga harus menerimamu dengan tangan yang terbuka lebar.”
Bara tersenyum. Dia tersanjung akan kebijakan ayah mertuanya. Dia merasa beruntung bisa berada di tengah-tengah keluarga ini.
“Oh, ya. Abang enggak ke sini, Pak?” tanya Zeo. Sebenarnya dia khawatir akan tatapan dingin Hendri saat melihat dirinya nanti.
“Enggak tahu. Udah beberapa hari ini dia enggak pernah ke sini. Kira-kira ada apa ya sama abangmu?” Pak Doki jadi ikut keheranan.
Zeo menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa, dia tidak merasa yakin akan keadaan kakaknya saat ini.
Sepertinya Hendri tidak akan baik-baik saja setelah mengetahui kebenaran yang diungkapkan oleh Zeo.
-oOo-
Benar. Seperti dugaan Zeo: Hendri memang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Karena semenjak Kirana berada di rumah orang tuanya bersama Putra, Hendri sendirian di rumah sampai dirinya tidak terurus. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk mengurus diri sendiri. Dia terlalu disibukkan oleh penyesalan yang menyiksa dirinya.
Tok tok tok! terdengar suara ketukan pintu depan.
__ADS_1
Hendri masih diam, tidak mau beranjak. Fokus melihat lantai berwarna putih yang terinjak oleh kakinya. Dia masih duduk di atas sofa.
Tok tok tok! ketukan itu terdengar lagi.
Setelah waktu berlalu lama, akhirnya tidak terdengar suara ketukan pintu lagi. Akan tetapi, Hendri mulai tertarik pada suara derap kaki yang mendekat. Akhirnya kepala Hendri terangkat. Bayangan seseorang mendekat.
“Kamu ada di sini, tho. Kenapa aku ketuk pintu enggak dibuka?” protes pemilik bayangan itu.
“Kirana …,” ucap Hendri menyebut nama pemilik bayangan itu, yang tak lain adalah istrinya.
Kini seorang perempuan berambut pendek yang mengenakan setelan rok kuning dan kaus putih, telah berdiri di hadapan Hendri dengan wajah keheranan.
“Kamu baik-baik aja, Yah? Kenapa wajahmu kelihatan pucat sekarang?” tanya Kirana yang kini menjadi khawatir.
Hendri tidak menjawab. Dia malah bangun dan langsung berhambur memeluk Kirana. Berusaha menarik napas lega setelah ada seseorang yang mampu menopang dirinya yang lemah ini.
Bukannya menjawab, Hendri malah bergumam, “Maafkan aku … maafkan aku ….”
Kirana menjadi semakin keheranan. “Apa yang terjadi?” tanyanya.
Hendri masih tidak menjawab. Dia tetap pada gumamannya, “Maafkan aku … maafkan aku ….”
Kirana menjadi muak dengan tingkah Hendri yang aneh ini. Dia langsung melepaskan pelukannya. “Kamu ini kenapa, sih, Yah?” sentaknya.
Seketika mulut Kirana terbuka saking terperangah. Penampilan Hendri semakin menyedihkan saja, ditambah air mata yang mulai bergulir di wajahnya. Hati Kirana langsung luruh. Seolah-olah mampu memahami perasaan Hendri saat ini.
“Maafkan aku … karena menyembunyikan sesuatu darimu …,” aku Hendri.
__ADS_1
Alis kanan Kirana terangkat. “Menyembunyikan apa maksudmu?” tanyanya semakin penasaran.
“Kumohon jangan bertanya, karena aku tidak akan bisa menjawabnya,” timpal Hendri.
Kirana menghela napas lalu mengembuskannya. Entah apa yang suaminya sembunyikan saat ini. Dia hanya tahu kalau suaminya tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Kirana pun mendorong punggung suaminya sehingga kembali memeluk dirinya.
“Tak apa … asal jangan tinggalkan aku …,” timpal Kirana.
“Aku tidak akan meninggalkanmu …,” tutur Hendri setuju.
“Aku janji ….”
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗