Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
119. Langkah Kesekian Kali


__ADS_3

Bara tidak lagi menyahut. Dia sangat puas mendengar jawaban Satria.


Satria langsung berbalik. Dia menaiki tangga untuk kembali ke dalam rumah. Sedangkan Bara turutmelangkah di belakang Satria tanpa menunggu ajakan lagi.


Ini adalah kali kedua Bara memasuki rumah ini. Apa lagi, Satria sendirilah yang mengajaknya. Bukankah ini adalah awal yang baik?


Dari satu kali, dua kali, bukankah bisa menjadi berkali-kali?


Semoga saja kebaikan ini mampu mempengaruhi hubungan Bara dan Satria ke arah yang lebih baik lagi.


-oOo-


Sedari tadi pandangan Zeo terus mengarah ke depan. Tatapannya begitu tajam, seolah-olah bukan bola mata yang mengisi kedua lubang di samping hidung itu, melainkan pedang yang terus terasah setiap kakinya memijakkan tanah.


Tajamnya tatapan itu melemah saat seorang laki-laki dia jumpai tak jauh darinya. Zeo langsung memalingkan wajahnya. Langkahnya pun berhenti. Tidak baik berjalan dengan pandangan yang tidak mengarah ke depan.


“Ze …,” panggil sebuah suara yang sudah beberapa hari ini tak Zeo dengar. Suara yang sebenarnya dia rindukan selama ini, tetapi karena kekecewaan, Zeo masih bertahan dan tetap memendamnya.

__ADS_1


Zeo tak menyahut. Sudah jelas apa yang dia katakan sebelumnya. Sepertinya tidak perlu diulangi lagi. Seharusnya laki-laki itu mengerti.


Mulut laki-laki itu terbuka. Hendak mengulangi panggilannya. Namun, dia urungkan dan malah mengeluarkan suara napas. Kini dadanya terasa lebih ringan. Udara itu telah menyesaki dadanya.


Laki-laki itu memilih mengalah. Dia mengalihkan pandangannya pasrah, tak lagi menatap Zeo.


“Aku kembali dulu,” pamit laki-laki itu. Kemudian mulai melangkahkan kakinya.


Setelah kakinya melangkah cukup jauh, laki-laki itu mengangkat pandangannya. Penyesalan terlukis apik di bola matanya. Meski dia menyerah, sebenarnya dia tidak merasa puas. Ingin sekali merengkuh Zeo saat itu. Mengikatnya erat dalam pelukannya agar tidak terlepas lagi. Akan tetapi, apa yang Satria katakan adalah benar: Zeo membutuhkan waktu.


Semoga saja waktu yang laki-laki itu berikan kepada Zeo memberikan hasil yang menyenangkan.


Tidak, Zeo. Kamu harus bertahan. Kalau kamu mengalah dengan mudah, lalu bagaimana kalau sesuatu yang sama terjadi ke depannya? Apa kamu akan terus menjadi lemah?


Setelah waktu berlalu cukup lama, barulah Zeo menoleh. Rupanya punggung laki-laki itu masih terlihat meski samar-samar. Semakin lama semakin mengecil lalu tertelan oleh kejauhan.


Sayu pun mulai mewarnai bola mata Zeo. Padahal dia masih ingin melihat laki-laki itu lebih lama lagi. Meneriakkan isyarat cinta dalam suaranya yang pelan dan penuh keputus-asaan.

__ADS_1


Cukup lama berlarut dalam perasaan, akhirnya Zeo kembali tersadarkan. Dia teringat kenapa sampai melangkahkan kakinya menuju kediaman Satria. Padahal seharusnya dia tidak begitu cepat datang kemari lagi.


Zeo tidak jadi melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Karena saat memasuki halaman rumah, perhatiannya langsung memusat kepada dua anak yang tengah bermain lompat-lompatan di sana. Sedangkan di dekat kedua anak itu, ada seorang perempuan yang tertawa riah sembari menepuk kedua tangannya, dengan posisi duduk berjongkok.


Alis kanan Zeo terangkat. Dia keheranan melihat keadaan Tiwi sekarang. Dia begitu.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗 bahagia dan semangat, seolah-olah tidak pernah sekarat. Apa orang bisa sembuh secepat ini?


__ADS_2