Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
25. Titah Menyebalkan


__ADS_3

Satria tidak bisa tinggal diam. Dia pun bergegas memasuki tempat itu dan menghadang langkah Zeo yang tengah bekerja.


“L-l-lo ….” Siapapun tahu kalau Zeo terkejut. Matanya membulat sempurna. “Lo … kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Zeo.


“Seharusnya gue yang tanya itu ke lo: kenapa lo bisa ada di sini dan bukannya di rumah sakit?” Satria membalikkan pertanyaannya.


“Gu-gu-gue ….” Ah, sial! Zeo tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi. Makanya dia tidak pernah mencoba memikirkan alasan untuk menjawabnya. Kini dia kebingungan. “Gu-gue … sebenarnya tantenya Tiwi udah keluar dari rumah sakit.”


Sialan-sialan-sialan! Zeo mengumpati dirinya sendiri di dalam hati. Entah untuk apa dia terus membohongi Satria.


Seketika Satria menarik tangan Zeo dan membawa perempuan itu keluar dari rumah makan. Cengkeraman Satria sangat kuat sehingga Zeo tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti langkah cepat laki-laki itu. Zeo berusaha memberontak untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman itu. Tangannya baru terlepas saat Satria akhirnya melepaskannya di tempat parkir.


“Apa yang lo lakuin?! Gue harus kerja!” tegas Zeo. Dia pun berbalik untuk kembali ke rumah makan.


Satria pun memegang tangan Zeo lagi. Kini Satria tidak akan melepaskannya.


“Sat, lepasin, kok!” seru Zeo. Dia kembali memberontak.

__ADS_1


“Siapa nama tantenya Tiwi?” tanya Satria memancing kebohongan Zeo.


“Apa pentingnya, sih?! Dia kan udah keluar dari rumah sakit.” Zeo menolak menjawab.


“Terus kenapa Tiwi malah bilang kalo nyokapnya anak tunggal dan bokapnya cuma punya dua kakak laki-laki? Lalu dari mana asal tantenya Tiwi ini?”


Tertangkap basah sudah. Mengelak tidak akan memberikan kebaikan apa pun. Zeo hanya akan semakin tersudut.


“Akhirnya lo tahu kalo gue bohong.” Zeo pun membuang muka. Dia merasa malu menunjukkan wajahnya.


“Tapi kenapa lo bohong ke gue!” sentak Satria.


“Itu enggak penting.” Akhirnya Zeo memilih jawaban itu.


“Kalo enggak penting ngapain lo bohongin gue? Apa lo mempermainkan gue?” Satria semakin memojokkan Zeo.


Zeo menarik tangannya sekuat-kuatnya. “Iya,” jawabnya setelah tangannya terlepas. Kemudian bergegas kembali ke restoran, tetapi Satria berhasil menghadang jalannya.

__ADS_1


“Lo enggak bisa abaiin gue gitu aja, dong!” seru Satria.


Zeo mengeratkan tangannya. Merasa gemas karena ingin mencakar-cakar laki-laki di hadapannya ini. Namun, dia mengurungkan cakaran itu. Zeo memilih berbalik dan berlari cepat meninggalkan Satria. Terpaksa dia pulang dengan menaiki taksi.


Ah, sial! Zeo bahkan belum mendapatkan gajinya, tetapi sudah mengeluarkan uang lebih banyak.


Sesampainya di rumah, Zeo memasuki kamar dengan wajah masamnya. Lagi-lagi Tiwilah penyebabnya. Dia pun berteriak-teriak menyebut nama Tiwi, tetapi perempuan itu tidak ada di sana.


Kamar sempit itu terlihat berbeda dari biasanya: berantakan. Padahal Tiwi merapikannya setiap pagi. Sepulang Zeo sekolah pun tidak ada yang berubah. Zeo memutuskan untuk meredakan amarahnya dengan merapikan tempat itu. Saat merapikan bantal, Zeo menemukan sesuatu terjatuh dari dalam sana. Itu adalah selembar foto. Zeo pun berjongkok untuk mengambil foto itu.


Itu adalah foto pernikahan Hendri, kakak laki-laki Zeo dua bulan yang lalu. Zeo menjadi heran. Tidak mungkin Zeo membawanya kemari karena Zeo sangat membenci kakaknya itu. Apalagi bantal itu tidak dibawa Zeo dari rumah, melainkan fasilitas di kos-annya. Seketika Zeo membelalak. Dia menemukan sebuah dugaan.


.


.


.

__ADS_1


Selalu like dan koment🤗Maaf, baru bisa up dikit. Tak usahain besok atau lusa up 5 bab sekaligus😁


__ADS_2