Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
141. Pengakuan Rindu 2


__ADS_3

“Kamu tidur di kamar ini dulu,” tutur Bara sembari menunjuk sebuah kamar di belakang Zeo.


“Lagian siapa yang mau tidur sekamar sama kamu,” timpal Zeo sinis. Dia langsung berbalik sehingga menghadap sang pintu, lalu membukanya dan masuk ke dalam sana.


Pintu itu menutup. Zeo bahkan menguncinya. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman hanya berdua saja bersama Bara di rumah yang besar ini. Seolah masa lalu mewarnai kehidupannya di masa kini.


Zeo mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Kemudian mengembuskan napas lega. Sedari tadi Zeo terus merasa sesak gara-gara Bara berada sangat dekat dengannya. Kini dia bisa bernapas bebas di sebuah ruang yang hanya dihuni dirinya seorang.


Zeo merasa puas dengan kamar ini. Meski enam tahun berlalu, belum ada yang berubah. Dulu Zeo memang hanya beberapa hari tinggal di kamar ini, hanya sampai kakinya berdiri bersanding kaki Bara di altar pernikahan. Meski begitu, Zeo merasa seolah sudah tinggal di kamar ini sedari kecil.


Tok tok tok.


Zeo menoleh ke arah pintu. Dia mengernyitkan dahinya. Untuk apa Bara mau menemuinya lagi?


Zeo pun berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


Benar seperti dugaan Zeo. Sudah ada Bara di depan pintu. Dari penampilannya belum ada yang berubah selain jaket yang mungkin sudah laki-laki itu tanggalkan di dalam kamar.


“Ada a—“


Sebelum Zeo menyelesaikan kalimatnya, Bara sudah memotong dengan melayangkan ciuman. Tidak ada momen terbaik selain saat Zeo membuka mulutnya.


Zeo menolak dengan berusaha menutup mulutnya sekuat tenaga. Namun, Bara malah berhasil menguasai bibirnya. Laki-laki itu berjalan ke depan sehingga Zeo terpaksa mundur ke belakang. Kemudian Bara mendorong kakinya ke belakang untuk menutup pintu itu, Brak!


Zeo tidak menyerah. Dia terus berusaha menutup mulutnya sembari mendorong tubuh Bara agar dirinya terlepas. Akhirnya Zeo berhasil membuat Bara terdorong jauh.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?” pekik Zeo. Dia benar-benar kecewa dengan cara Bara yang seperti perampok ini.


“Aku rindu kamu,” ujar Bara.


Zeo memalingkan wajahnya usai meninggalkan lirikan sinis. “Apa peduliku?” sindirnya sinis.


Bara tidak langsung menyahut. Dia kembali mendekati Zeo dan memegang kedua pundak Zeo erat-erat. Dia tak mau terlepas lagi seperti tadi.


“Karena kamu juga rindu padaku,” kata Bara menimpali sindiran Zeo.


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Bara kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Zeo. Kali ini lebih sulit karena Zeo berhasil menutup mulut, bahkan matanya rapat-rapat. Zeo terus berusaha menolak semua ini. Akan tetapi, Bara begitu gigih. Rontaan Zeo tidak berdaya lagi.


Bara menjalankan kakinya terus ke depan. Zeo yang terdorong akhirnya mendarat di atas ranjang. Bara tidak melakukan aksi tambahan. Dia hanya berusaha menelusupkan bibirnya untuk merasakan manisnya bibir yang dia rindukan selama beberapa hari ini.


Hanya sebentar, tiba-tiba Bara melepaskan ciumanya. Zeo menjadi keheranan. Dia pun memberanikan diri membuka matanya.


Rupanya Bara masih tidak bergerak. Dia masih diam dengan posisi berada di atas Zeo. Napasnya terlihat terengah-engah. Apa sebegitu beratnya memperjuangkan sebuah ciuman saja?


“Ke-kenapa berhenti?”


Ah, sial! Kenapa kamu harus menanyakan itu, Zeo? Lalu bagaimana kabar harga dirimu yang sudah kamu tumpuk setinggi gunung semeru itu?


Bara tidak menjawab. Dia malah menarik kedua tangan Zeo dan mengalungkannya di balik lehernya. Kemudian dia menurunkan kepala dan mulai mendaratkan ciumannya dengan gerakan lebih pelan.


Secara perlahan dan menikmatinya dengan nyaman ….

__ADS_1


Begitu pun dengan kegiatan selanjutnya. Setelah puas merasakan manisnya bibir Zeo, bibir Bara beralih menjelajahi pipi, dagu, sampai leher Zeo. Sedangkan tangannya mulai bersikap lancang dengan berusaha membuka kancing baju Zeo satu per satu.


Benteng yang sudah Zeo bangun secara susah payah selama berhari-hari, kini pecah dalam satu malam saja. Bukan ciuman Baralah yang menyerangnya, tetapi kerinduan.


Meski Zeo mengatakan tidak, sebenarnya Zeo sangat merindukan seorang Bara dalam hidupnya.


“Aku juga merindukanmu,” gumam Zeo di sela-sela desahannya.


-oOo-


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2