Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
15. Bersembunyi


__ADS_3

Sepertinya Zeo harus mulai memikirkan cara untuk pindah sekolah tanpa diketahui orang tuanya. Jika di sekolah ini Zeo sampai keluar, orang tuanya akan menyuruhnya pulang dan melarangnya ke sekolah untuk selamanya.


“Zeo,” panggil seseorang.


Akhirnya Zeo mengangkat kepalanya setelah sekian lama. Dia menoleh. Rupanya seorang siswi dengan papan nama Ranti Sekar S memanggilnya.


“Oh, iya,” sahut Zeo.


“Pak Bara nyuruh kamu ke ruang guru," kata Ranti.


“Pak Bara itu yang mana?” tanya Zeo.


“Itu lho … yang tadi ngajar di jam pertama."


Bola mata Zeo membelalak seketika. “Aish …. Cowok itu lagi …,” gerutu Zeo.


“Cowok?” Ranti mengulangi kata yang Zeo katakan yang membuatnya ragu. “Kenapa kamu manggil Pak Guru kayak gitu?”


“Oh, … maksud gue Pak. Karena dia masih muda dan tampan, jadi gue belum biasa manggil dia Pak,” dalih Zeo.


“Iya, sih. Andai dia enggak nyebelin, anak-anak lain pasti bakal klepek-klepek sama dia. Udah ganteng, pintar, duda lagi. Kata orang tuh enggak ada yang lebih baik dari pria berpengalaman.” Ranti mulai berbunga-bunga.


“Berpengalaman apanya?” tanya Zeo.


“Ah, lo … bikin gue malu aja, deh." Ranti mulai bersikap malu-malu. "Ya, itu lho … lo pasti tahu maksud—“


“Apa lo bilang?” Tiba-tiba Zeo terpikirkan sesuatu.


“Ah, lo … bikin gue malu aja, deh,” Ranti mengulangi perkataannya dengan ekspresi yang sama.

__ADS_1


“Enggak-enggak. Sebelum itu.”


“Apa, ya?” Ranti melihat ke atas, tengah berpikir. “Ah … enggak ada yang lebih baik dari pria berpengalaman? Apa lo tertarik juga?”


“Enggak. Bukan yang itu. Tapi yang sebelumnya.”


“Apa, sih! Gue enggak tahu. Udah lupa!”


“Yang ada ganteng-gantengnya tadi, lho!”


“Ah! Yang itu … pintar, ganteng, duda lagi. Yang itu, kan?”


“Dia duda?” tanya Zeo.


“Denger-denger, sih, gitu. Tapi enggak tahu juga. Dia ngajar di sini belum lama ini. Mungkin sekitar satu tahun.”


Entah kenapa wajah Zeo menjadi semringah. Memangnya apa yang diharapkannya? Dia bahkan tidak mengharapkan apa pun. Dia hanya senang begitu saja.


“Hai, Pak,” sapa Zeo sambil mengangkat tangan kanannya.


“Oh, ada apa?” sahut Bara yang tengah fokus dengan komputernya.


“Katanya Bapak manggil saya?”


Akhirnya Bara melepaskan pandangannya dari komputer dan beralih menuju Zeo.


“Kamu siapa,” tanyanya.


“Bapak enggak kenal saya?” Zeo menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Kamu siswi yang lari dari kelas tadi, kan?”


“Itu aja? Bapak enggak kenal saya lebih dari ini?”


“Makanya saya tanya. Kamu itu siapa? Jabatan kamu itu apa?”


“Jabatan apa, Pak? Saya murid baru di sini.”


“Kalo gitu saya enggak manggil kamu. Saya manggil ketua kelas tadi.”


Pyung!


Apa saja yang telah Zeo harapkan? Dia begitu kecewa mendengarnya.


“Jadi Bapak enggak manggil saya?” sewot Zeo.


“Kayaknya Ranti salah manggil orang.”


“Aish … sialan!” umpat Zeo.


“Apa kamu bilang?” tanya Bara dengan nada menegur.


“Eh, enggak, Pak. Saya enggak ngapa-ngapain, kok. Saya hanya mengumpat!” Zeo langsung lari terbirit-birit.


Bara langsung berdiri. “KAMU—“ Sayangnya Zeo sudah pergi jauh.


Zeo merasa kesal dan kecewa dengan apa yang menimpanya. Namun, dia puas dengan apa yang didapatkannya: Bara tidak mengenalinya sama sekali. Itu berarti kehidupan sekolahnya tidak akan berubah sedikit pun dan akan berjalan normal seperti biasa.


Setelah Zeo pergi, Bara segera mematikan komputernya. Sebenarnya tidak ada apa pun yang dikerjakannya. Itu hanya sebuah alasan. Kemudian dia tersenyum-senyum sendirian. Sebenarnya orang yang dipanggilnya memang Zeo, bukan ketua kelas.

__ADS_1


***


__ADS_2