Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
9. Alasan


__ADS_3

“LOOO!” teriak Tiwi.


“Kenapa gue yang harus enggak makan sama jajan? Kalau gue harus potong uang kiriman bokap gue, lo yang harusnya enggak makan. Dasar cewek yang enggak tahu terima kasih!” Zeo melemparkan bantalnya lagi, tetapi meleset lagi. Itu membuat Zeo menjadi semakin merasa sebal.


Zeo pun bangun dari ranjang. Dia ingin keluar dan menangkap udara segar. Saat dia membuka pintunya, rupanya seorang tetangga sudah berada di depan pintu itu. Wajah tetangga itu begitu masam. Zeo berusaha tersenyum meski terasa canggung.


“E-eh, Mas. Ada apa?” sapa Zeo.


“Ada apa, lo tanya? Lo yang ada apa!” sentak tetangga itu.


Ah, sial! Zeo bisa menebak kalau dirinya tidak akan baik-baik saja setelah ini.


“Selama ini gue diem aja karena kalian masih baru di sini. Tapi kalian udah kelewatan. Orang yang tinggal di rumah ini bukan cuma kalian aja. Kalau kalian emang mau berisik, jangan di sini, di kuburan sana! Biar enggak sepi-sepi amat,” tegur tetangga itu.


“I-iya, Mas,” jawab Zeo merasa tidak enak hati.


“Oh, ya.” Suara tetangga itu mulai merendah. “Temen lo yang kemarin datang ada di luar sana.” Tetangga itu menunjuk ke arah pintu keluar.


“Temen yang kemarin? Cowok?”


“Banyak tanya banget, sih! Udah, sana temuin!” Tetangga itu pun langsung pergi ke kamarnya.


Bukannya pergi ke luar untuk menemui tamunya itu, Zeo malah masuk ke kamar dan langsung menutup pintunya. Kemudian dia menaiki ranjang dan bersembunyi di balik selimut.


“Ngapain lo?” tanya Tiwi.

__ADS_1


Zeo membuka selimutnya sedikit. Dia mengintip sekitarnya. Karena pintu kamarnya masih tertutup, dia pun membuka selimutnya.


“Ada Satria di luar?”


“Satria siapa?”


“Cowok yang kirimin gue gaun kemarin.”


“Bukannya gaun kemarin dikirim kurir?”


Ah, sial! Zeo keceplosan.


“Maksud gue yang beli gaun itu,” dalih Zeo.


“Dasar, bodoh!” umpat Zeo. “Gue ngumpet karena enggak mau nemuin dia!”


“Yang tenang, dong!” Tiwi membalas sentakkan.


Zeo pun diam. Jika dia meneruskan perdebatan ini, dia tidak akan bisa bersembunyi lagi jika Satria sampai mendengar teriakannya.


“Kalo gitu biar gue aja yang nemuin dia,” usul Tiwi.


Membiarkan Tiwi menemui Satria alih-alih dirinya, sepertinya itu ide yang bagus. Zeo pun menyetujui itu. “Tapi bilang kalo gue enggak ada,” kata Zeo memberikan syarat.


Itu bukan syarat yang sulit. Tiwi pun keluar dari kamar dan pergi menemui Satria. Entah apa yang terjadi di luar sana, Zeo merasa waktu berjalan sangat lambat. Zeo sendiri merasa ketar-ketar di dalam kamarnya. Dia khawatir jika Tiwi melakukan kesalahan dan membuat Zeo berada pada posisi yang lebih menyulitkan.

__ADS_1


Waktu yang lambat itu akhirnya berhenti. Waktu itu mulai berjalan dalam kecepatan normal kembali. Tiwi kembali. Zeo pun membuka selimutnya dan bangun.


“Gimana-gimana?” tanya Zeo penasaran.


“Dia udah pergi.”


“Terus lo ngomong gimana? Dianya bales apa?”


“Gue bilang lo enggak pulang dari semalam dan enggak tahu ke mana. Lo cuma bilang kalo lo enggak bakal pulang kemarin malam. Dia bilang nyuruh lo ngabarin dia kalo lo udah pulang. Terus dia pergi.”


“Apa lo bilang?”


“Haduh, Ze. Gue males ngulanginnya. Panjang.”


“LOOO!” jerit Zeo. “Lo mati hari ini!”


“Apa lagi salah gue!”


“Kenapa lo bilang kalo gue enggak pulang semalem? Gimana kalo dia jadi mikir macam-macam tentang gue.”


“Bagus, dong. Dengan begitu dia enggak bakal nemuin lo lagi.”


Ah, itu benar. Namun, Zeo tetap merasa berat. Sekarang saja posisinya benar-benar buruk, apalagi jika Satria sampai berpikir buruk tentangnya. Ah, dasar Tiwi itu. Dia hanya melakukan apa yang benar baginya tanpa memikirkan bagaimana posisi orang lain.


***

__ADS_1


__ADS_2