Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
66. Sebelum Berakhir


__ADS_3

Ini authornya lagi khilaf atau mabuk, ya 🤔 perasaan update mulu dari pagi. Besok bakal bisa update gak, ya? 😬😬😬


Cuz ....


💃💃💃


“Gue bakal balik hari ini,” tutur Tiwi.


“Balik ke mana? Kata Zeo lo, kan, enggak punya rumah,” tukas Satria.


Ah, sialan Zeo itu! Apa dia hanya bergosip saat bersama dengan Satria?


“Gue bisa balik ke kosan,” timpal Tiwi.


“Terus yang bayar kosannya siapa?” tanya Satria.


Tiwi menundukkan kepala. Kini dia telah kehabisan kata-kata.


Satria mengembuskan napasnya. Kemudian merebut koper itu dan mendorong pelan Tiwi agar memberikannya jalan masuk.


“Eh, lo mau apa?” pekik Tiwi.


Satria tidak menjawab. Dia malah membuka lemari di sana dan memasukkan koper itu begitu saja.


“Eh, lo—“

__ADS_1


Saat Satria berbalik, kedua tatapannya langsung bertemu Tiwi. Tiwi mengira jaraknya tadi sudah jauh. Namun, posisi berubahnya Satria rupanya telah mengikis jarak itu.


“Udah. Lo di sini aja,” tutur Satria.


“Enggak usah. Gue bisa hidup sendiri dengan baik-baik aja. Gue enggak butuh simpati lo, lebih tepatnya rasa kasihan,” timpal Tiwi.


“Kalo lo enggak mau gue kasihani, makanya tetep di sini,” paksa Satria.


“Jadi benalu dalam kehidupan lo?” tebak Tiwi.


“Gue enggak mau hidup kayak gitu. Lagi pula lo bukan siapa-siapa gue. Hubungan kita sebatas orang terdekat Zeo. Sekarang Zeo udah enggak dekat lagi sama lo. Jadi, gue bukan siapa-siapa lo lagi,” tutur Tiwi.


“Kalau gitu, jadi pelayan di rumah gue,” timpal Satria.


Tiwi tidak salah dengar, kan?


“Selama lo masih hamil sampai lo besarin anak lo, lo harus hidup tenang di sini. Tapi setelah anak lo berusia tiga tahun, lo harus bayar seluruh uang yang gue kasih ke lo dengan bekerja jadi pelayan di sini. Di sini gue enggak kasihani lo, tapi gue cari keuntungan dari lo. Karena dari apa yang gue utangin ke lo, gue bakal minta tambahan bunga setiap bulannya,” jelas Satria.


“Jadi, lo ngakalin gue, dong?” simpul Tiwi.


“Kan, lo sendiri yang enggak mau gue bantuin,” tukas Satria.


Ah, sial! Selalu saja Tiwi itu termakan omongannya sendiri. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Menerima tawaran Satria hanya akan menyiksa masa depannya. Namun, kalau dia menolak tawaran Satria, malah dia tengah membunuh diri sendiri!


“Gue lagi sibuk soalnya besok mau ada ujian. Jadi gue butuh jawaban lo secepatnya. Gue kasih lo waktu lima menit. Kalo dalam waktu lima menit lo belum jawab, gue bakal tetap nungguin lo, tapi bunganya bakal gue gandain setiap jamnya,” ancam Satria.

__ADS_1


Ah, sial! Apa-apaan Satria ini. Tiwi, kan, sebelas dua belas sama Zeo. Dalam waktu secepat itu, apa yang bisa Tiwi pikirkan dengan otak lambatnya?


“Tiga menit berlalu,” tutur Satria mengingatkan batas waktu yang tinggal sedikit lagi.


Apa-apaan ini? Masak sudah lewat tiga menit? Perasaan baru sebentar sejak Satria memberikan penawarannya tadi ….


… Tapi, kan, tiga menit juga sebentar!


“Oke,” celetuk Tiwi tanpa berpikir lebih panjang.


“Ya udah,” timpal Satria. Kemudian dia melewati Tiwi dan pergi dari kamar itu.


Kini tersisa Tiwi sendiri di kamar itu dengan mulut yang menganga.


Apa yang terjadi baru saja?


Apa tidak terjadi apa-apa?


Lalu kelanjutan kisahnya Tiwi bagaimana?


Satria bahkan tidak memberikan penjelasan apa pun!


-oOo-


Sisihkan waktu agar jempolmu menekan jempol 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2