
Zeo terkejut melihat Bara mengunjungi rumah makan tempatnya bekerja. Beberapa hari bekerja di sini, tak sekalipun Bara pernah datang.
“Ba-bapak ngapain ada di sini?” tanya Zeo terkejut.
“Ya, makanlah. Saya enggak terlalu butuh uang sampai saya harus bekerja paruh waktu sepulang bekerja,” sindir Bara.
“Kenapa sih, Bapak nyindir saya mulu!” Zeo menjadi kesal.
“Kapan saya pernah nyindir kamu? Kan udah saya bilang, saya berterung terang.”
“Aduh!” jerit Zeo karena seseorang memukul pelan kepalanya dari belakang. Orang itu adalah Sari, perempuan tua pemilik rumah makan ini.
“Dia pelanggan tetap di sini. Jadi baik-baiklah dengannya,” tegur Sari.
Zeo melirik kesal, sedangkan Bara malah tertawa pelan.
“Dia murid saya, Bu. Saya tahu kalo dia sedikit rewel. Tapi tolong jaga dia dengan baik, ya.” Bara malah membela Zeo.
Lirikkan Zeo semakin tajam. Jika orang lain melihat sinar putih di sekeliling Bara, Zeo hanya menemukan kegelapan dan dua tanduk merah. Dasar Iblis berwajah malaikat, batin Zeo.
“Baiklah. Saya akan menjaganya dengan baik.” Sari menyetujui Bara dengan mudah. Kemudian tangannya menarik telinga Zeo sehingga berbalik dan menggeret. “Asal dia bekerja dengan baik,” tambah Sari.
“Aaah!” Zeo menjerit kesakitan.
Sesampainya di dapur, Sari pun melepaskan tangannya.
“Cepat lanjutin kerjaanmu!” titah Sari.
__ADS_1
“Sakit tahu, Bu! Ini bisa disebut kekerasan pada pekerja, lho,” protes Zeo sembari mengusap-usap telinganya. Sebenarnya Sari tidak menarik telingannya dengan keras. Zeo hanya melebih-lebihkan.
“Enggak papa. Laporin aja. Tapi jangan harap kamu bisa dapat gaji bulan ini,” ancam Sari sebelum pergi.
Zeo mendesah kesal. Semua orang menyudutkannya, tetapi Zeo tidak pernah bisa lepas.
Zeo kembali bekerja. Dia kembali mengantar pesanan-pesanan pengunjung. Berbeda dari biasanya yang penuh semangat, perhatian Zeo terus tertuju pada Bara. Sudah lama laki-laki itu duduk di tempatnya. Mau sampai kapan laki-laki itu akan pergi?
Akhirnya laki-laki itu bangun. Dia bersiap pergi. Bukan beberapa saat setelah itu, tetapi setelah jam kerja Zeo selesai.
“Ayo kuantar pulang,” tawar Bara.
“Enggak, ah, Pak. Saya bisa pulang sendiri,” tolak Zeo bersikap jual mahal.
Bara berdecak. Seketika dia menarik tangan Zeo dan membawanya ke tempat parkir.
“Mobil Bapak kok enggak ada?” tanya Zeo.
“Katanya kamu enggak mau?” sendiri Bara.
“Saya sih enggak mau. Kan Bapak sendiri yang narik tangan saya.” Setelah menyerah pun, Zeo masih bersikap jual mahal.
“Baiklah-baiklah. Terserah kamu menyebutnya apa.” Bara mengalah. Kemudian dia tertawa. Sifat menyebalkan Zeo itu terasa manis baginya. Tiba-tiba Bara mengacak-acak rambut Zeo.
“Pak!” seru Zeo.
Bukannya berhenti, Bara berganti menarik kedua pipi Zeo.
__ADS_1
“Pak …,” Zeo merengek.
Akhirnya Bara melepaskan tangannya dengan tawa. “Apa kamu selalu manis seperti itu sebelumnya?” tanya Bara menggoda.
Zeo tidak senang sama sekali. Dia malah melirik kesal sembari mengusap kedua pipinya yang kesakitan. “Untuk pertama kalinya gue dengar kata manis semenyebalkan ini rasanya,” gerutu Zeo.
Setelah menghentikan tawa, Bara memasangkan helm ke kepala Zeo tiba-tiba.
“Apa ini, Pak?” tanya Zeo. Dia meraba helm itu keheranan.
“Menurut lo ….” Bara mengatakan itu dengan wajah aneh.
Akhirnya Zeo ikut tertawa. Wajah Bara yang itu terlihat sangat jelek. Kedua orang itu pun tertawa bersama. Setelah tawa itu reda, mereka pun menaiki motor, lalu bersama-sama menyusuri jalan dan membelah angin. Mengisi malam dengan romantisme yang tak terasa.
“Apa Bapak orang kaya?” tanya Zeo penasaran. Sebenarnya dia ingin menanyakan itu sejak melihat motor itu tadi.
“Kenapa kamu mikir gitu?”
“Bapakkan udah punya mobil, masih punya motor sebagus ini. Belinya mahal, ngerawatnya juga mahal. Kalo guru-guru lain punya motor aja udah bersyukur.”
“Saya direktur sebelumnya. Lalu ngundurin diri buat jadi guru.”
“Hahahaha ….” Zeo tertawa terpingkal-pingkal. “Apa Bapak pikir saya bakal percaya? Dari direktur jadi guru? Pret ….”
Bara tidak mendebat. Dia hanya tersenyum. Dia sendiri tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
Beberapa saat kemudian, di antara Bara, Zeo, dan jalan hanya terisi keheningan. Tidak ada lagi suara selain angin yang terpontang-panting mengejar mereka. Hawa dingin mulai berani mencengkeram mereka berdua. Zeo kedinginan. Karena itu, tanpa berpikir, dengan beraninya tangannya memasuki ketiak Bara dan memeluknya. Pelan-pelan kepalanya ikut bersandar di atas punggung Bara. Dia pun memejamkan mata. Merasakan angin hanya dengan telinga.
__ADS_1
***