Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
12. Putus 2


__ADS_3

“Terus kenapa temen lo malah enggak tahu apa-apa.”


“Sebenarnya orang yang kecelakaan itu tantenya dia. Lo kan tahu sendiri kalo dia lagi hamil. Orang hamil kan enggak boleh kaget.” Lambat laun kebohongan itu menjadi dramatis. Sepertinya Zeo cukup berbakat untuk menulis naskah sinetron.


“Lo temenan sama tante-tante?”


Sial! Berurusan dengan orang pintar benar-benar kesialan bagi orang bodoh seperti Zeo.


“Tantenya temen gue itu adiknya nyokapnya temen gue. Neneknya temen gue itu hamilnya bareng nyokapnya temen gue. Jadi meskipun tante, umur mereka samaan,” jawab Zeo dengan cepat. “Aish!” Zeo benar-benar menjadi kesal. “Lo banyak tanya banget, sih! Kalo lo enggak percaya sama gue, terus lo mau percaya sama siapa?!” seru Zeo.

__ADS_1


“Gue percaya kok, sama lo. Gue cuma tanya,” balas Satria tetap tenang tanpa emosinya tertarik sedikit pun.


Ucapan Satria yang tetap tenang itu membuat Zeo mendesah kesal. Zeo sudah berusaha menyembunyikan semuanya sebaik mungkin, tetapi laki-laki itu malah tidak berpikir sama seperti yang Zeo khawatirkan.


Karena kekesalan itu, kecemasan Zeo terhadap Satria seketika menghilang. Dia menjadi lebih berani. Dia pun berbalik untuk membuka pintu dan meninggalkan Satria tanpa pamit. Tiba-tiba Satria malah mendorong pintu itu sehingga tertutup kembali. Satria hendak mencium kening Zeo seperti sebelumnya, tetapi Zeo malah mendorongnya.


“Apa yang mau lo lakuin?!” sentak Zeo.


“Kenapa gue harus setuju aja sama omongan lo?”

__ADS_1


“Karena bukan lo yang pegang nasib lo, tapi gue.”


“Cuma karena lo pegang nasib gue, bukan berarti gue juga enggak pegang nasib gue sendiri. Gue bakal tetap mutusin pilihan gue sendiri.” Tiba-tiba Zeo mendorong keras Satria sampai terjatuh. Buk!


“Oh, ya, gue udah punya pacar. Jadi terserah apa yang mau lo lakuin ke gue,” kata terakhir Zeo sebelum membuka pintu perpustakaan dan lari segera.


Entah dari mana semua keberanian yang datang dalam waktu satu menit itu berasal. Tiba-tiba Zeo merasa kesal terhadap sikap semena-mena Satria. Dengan sikap itu, Satria tidak akan pernah melepaskan Zeo. Laki-laki itu akan terus memenjara nasib Zeo dalam genggamannya.


Ah, pacar …. Zeo tidak tahu apakah ada seseorang yang bisa disebutnya begitu. Saat mengatakan kata itu kepada Satria, tiba-tiba Zeo teringat pada laki-laki yang berciuman dengannya di pinggir jalan. Mereka memang telah melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih, tetapi Zeo tidak yakin kalau laki-laki itu bisa disebutnya sebagai pacar. Dia bahkan tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Setelah malam itu pun, mereka tidak pernah bertemu lagi.

__ADS_1


Ah, sial! Seharusnya Zeo tidak terlahir secantik ini. Kecantikan yang seharusnya memberikan kenikmatan, malah memberikan kesialan. Zeo tidak pernah menggoda siapapun, Satrialah yang dengan sendirinya tertarik kepadanya. Cinta adalah anugerah dan mencintai seseorang memang tidak berdosa. Itulah kenapa Zeo tidak tahu harus berbuat apa saat Satria mencampuri kehidupannya dan merubah pagi bahagianya.


Dari awal melangkahkan kaki ke sekolah ini, Zeo tidak memiliki seorang teman pun, kenangan indah pun, dan hari yang menyenangkan pun. Tidak ada apa pun yang Zeo sukai. Namun, semua itu berubah setelah Zeo membuka pintu kelasnya. Akhirnya setelah sepekan berada di sekolah itu, Zeo menemukan apa yang disukainya dari sekolah ini.


__ADS_2