
Kalau aku update crazy, kira-kira ada yang mau kasih jempol, enggak, ya? 🤔🤔🤔
Cuz ....
💃💃💃
Pak Doki dan Bu Ani, kedua orang tua Zeo terperangah saat berdiri di depan rumah megah yang ditinggali Satria. Awalnya mereka terburu-buru ke kota untuk memarahi Zeo habis-habisan. Anak itu bahkan belum lulus sekolah, tetapi sudah mau menikah.
Pernikahan?
Memangnya mau jadi apa dia?
Sudah diperjuangkan mati-matian untuk membayar sekolahnya sampai menggadaikan tanah, malah langsung menikah. Lalu siapa yang akan membayar tagihannya?
Dasar anak durhaka!
__ADS_1
Semua makian itu menguap seketika saat kedua orang itu sampai di depan rumah Satria. Mereka malah terperangah bersamaan.
Siapa yang akan membayar tagihannya?
Dengan rumah sebesar itu, penghuninya tidak mungkin tidak mampu melunasinya: calon suami Zeo.
Kedua sudut bibir kedua orang itu bangun. Senyum mereka merekah seketika. Kemarahan yang mereka bawa dari kampung luntur digantikan restu sebesar-besarnya. Tentu saja masa depan Zeo pasti cerah sebagai nyonya muda di rumah mewah—ah, ini bukan rumah, tetapi istana.
Baru saja memasuki rumah itu, kedua orang tua Zeo langsung disambut oleh Andi, pamannya Satria. Laki-laki paruh baya itulah yang selama ini menjadi wali Satria. Menyayangi Satria seperti anaknya sendiri. Hanya saja, Satria yang tidak mau menjadi anaknya. Bagi Satria, sudah cukup dua anak di kediaman pamannya, tidak perlu ditambahkan anggota yang tidak mereka inginkan. Lagi pula, siapa yang akan merawat rumah peninggalan ibunya, nantinya?
Kedua orang tua Satria pun duduk di atas sofa yang begitu empuk. Mengalahkan spring bad yang mereka beli dari orang yang berkeliling dengan seharga dua ratus ribu rupiah. Zeo dan Satria juga sudah duduk di sana. Sama-sama menunduk, tidak berani melihat pihak orang tua.
“Enggak, Om. Aku maunya pernikahan ini segera digelar secara besar-besaran,” elak Satria. Dia kukuh pada pendiriannya.
“Atau jangan-jangan ….” Andi tidak berani menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Atau jangan-jangan kamu udah hamil?” sahut Doki menyelesaikan kalimat Andi.
“Kami harap bukan jawaban mengecewakan yang kami dengar. Kami enggak pernah ngajarin kamu sampai mempermalukan nama baik dua keluarga seperti ini,” tutur Ani.
Zeo tetap diam. Dia tak berani berkata-kata. Kebenarannya, dia memang sudah mempermalukan nama baik keluarga. Dia sangat menyesal untuk itu.
Akhirnya Satria yang menunduk. Dia memamerkan senyum lebarnya. Dia pun mengambil alih pembicaraan. “Enggak kok, Pak, Bu, Om. Kalian tenang aja. Karena selama ini aku hidup sendirian di rumah besar ini, jadi aku pengen seorang teman. Hanya itu,” tutur Satria berbohong.
“Kamu kan bisa tinggal sama Om,” saran Andi. Memang itu yang selalu dia inginkan dari dulu.
“Aku enggak mau ngerepotin keluarga Om. Lagian sampai kapan aku bakal ngerepotin Om mulu. Aku harus bisa mandiri, dong,” tegas Satria menolak saran Andi.
“Apa kamu bener-bener yakin dengan keputusanmu?” Andi masih ragu untuk itu.
“Iya, dong, Om. Kalo enggak, enggak mungkin aku sampai manggil ayah sama ibunya Zeo segala,” tutur Satria.
__ADS_1
Andi mengembuskan napasnya yang berat. Sama seperti biasa, dia takkan berhasil membujuk keponakannya. Meski usia Satria masih remaja, dia memang memiliki jiwa dewasa. Dia sangat pandai membedakan benar dan salah. Andi sangat percaya tentang itu.
-oOo-