Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
153. Masih Penasaran


__ADS_3

“Wi!” panggil Satria.


Tiwi yang tadinya hanya berjalan lurus, langsung menoleh. Melihat Satria berdiri di depan pintu kamar, Tiwi langsung berlari kecil.


“Iya, Tuan,” sambut Tiwi usai menghentikan langkahnya di depan Satria.


“Ada yang mau gue tanyain sama lo,” ujar Satria.


“Apa, Tuan?” sahut Tiwi.


Satria diam sejenak. Sebenarnya dia tidak merasa yakin akan pertanyaannya. Padahal dia sudah berusaha keras semalaman untuk memikirkannya.


“Tuan?” panggil Tiwi sekali lagi.


“Itu … gue cuma heran aja. Jadi, jangan menganggap pertanyaan gue secara berlebihan,” ujar Satria memberikan peringatan.


Alis kanan Tiwi terangkat. Peringatan Satria malah membuatnya merasa merinding.


“Emangnya ada apa, Tuan?” tanya Tiwi.


“Itu ….” Ah, sial! Menanyakan saja, kenapa susah sekali, sih?


“Itu … kemarin ada pekerja yang bilang ke gue … katanya habis dicariin suami lo …,” akhirnya Satria berhasil mengangkat langkat pertamanya.


Kini dahi Tiwi berkerut. “Suami?” Tiwi merasa asing dengan kata itu. Kemudian dia pun mengerti.


“Oh, itu … sebenarnya mereka cuma salah paham aja,” jelas Tiwi.

__ADS_1


“Emangnya siapa yang ngaku-ngaku jadi suami lo?” Satria bertingkah bodoh.


“Hendri … abangnya Zeo,” timpal Tiwi.


“Ngapain sih, lo mau ketemu sama cowok berengsek kayak dia?!” seru Satria.


“Dia yang datang ke sini sendiri,” jelas Tiwi.


“Dan lo dengan begitu senangnya menyambut pertemuan ini dan ikut cowok berengsek itu pergi gitu aja,” tuduh Satria.


“Ha?” Tiwi tidak mengerti apa yang sebenarnya Satria maksudkan.


“Lo bahkan berpelukan dengan mesranya dan bahkan lo mungkin menerima ajakan balikan dari dia.”


Dasar Satria! Saking terbawa suasana dia sampai keceplosan. Untung saja otak Tiwi tidak bisa berpikir dengan cepat. Sampai sekarang dia belum mengerti apa yang Satria maksudkan.


Perjalanan berpikir Tiwi berhenti saat melihat Zeo berdiri tak jauh darinya. Perempuan itu tersenyum dengan ramahnya, seolah tak pernah ada masalah yang terjadi di antara mereka bertiga. Zeo bahkan melambaikan tangannya dan menyapa, “Hai … Tiwi … hai … Satria ….”


Brak! Satria langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Sedangkan Tiwi malah berbalik dan berjalan untuk meninggalkan Zeo.


Zeo menjadi sedih. Dia sudah menduga akan seperti ini jadinya. Tadinya dia hanya memasang wajah ceria untuk menutupi penyesalannya.


Tidak, Zeo! Kamu tidak bisa menyerah begitu saja!


Zeo pun melangkah cepat dan bergegas mengejar Tiwi. Tiwi berjalan memasuki kamar. Saat Tiwi tengah menutup pintu, Zeo langsung mendorong sekuat tenaga sehingga pintu itu tidak jadi menutup.


Brak! Pintu itu pun membanting ke dinding.

__ADS_1


“Apaan, sih, lo!” pekik Tiwi.


Zeo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Merasa tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Putri, Zeo pun menutup pintu itu, menyisakan mereka berdua di dalam kamar.


“Wi …,” panggil Zeo.


“Bukannya lo marah sama gue? Udah sana! Ngapain nemuin gue?” Cecar Tiwi dengan ketusnya. Sepertinya dia tidak pernah bertingkah seperti ini kepada Zeo sebelumnya.


Zeo langsung memeluk Tiwi, tetapi Tiwi langsung melepaskan pelukan itu.


“Apaan, sih, lo!” pekik Tiwi.


“Maafin gue, Wi …,” pinta Zeo.


“Emangnya siapa gue bisa maafin lo? Selama ini, kan, gue yang selalu salah, gue yang selalu bikin siapapun kecewa!” tegas Tiwi.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2