
Tiwi malah tertawa. Dia pikir pelayan itu menggodanya. “Kalau aku emang punya suami, suruh dia ceraikan aku. Aku udah nyaman hidup berdua bersama anakku,” canda Tiwi.
Pelayan itu berdecak. Dia sudah sangat serius, tetapi Tiwi malah bercanda. Dia pun berdiri di samping Tiwi dan merebut piring itu.
“Aku beneran, Mbak!” seru pelayan itu berusaha meyakinkan.
“Aku juga beneran,” timpal Tiwi. Dia menadahkan tangannya meminta piring itu. Akan tetapi, pelayan itu malah menjauhkan piringnya dari Tiwi.
“Ini biar aku selesaiin. Sekarang Mbak temuin suami Mbak dulu,” tolak pelayan itu.
Ha? Jadi pelayan itu tidak bercanda?
Akan tetapi, siapa laki-laki yang mengaku-aku menjadi suami Tiwi?
“Ada di mana orangnya?” tanya Tiwi.
Pelayan itu menunjuk ke belakang. “Ada di halaman. Dia lagi duduk sambil nunggu Mbak di kursi,” jawab pelayan itu.
Tiwi menjadi semakin penasaran. Dia pun mengeringkan tangannya menggunakan kain, lalu bergegas pergi ke luar.
Sesampainya di halaman, Tiwi hanya melihat punggung seorang laki-laki. Akan tetapi, langkahnya langsung berhenti. Tidak perlu menoleh, Tiwi sudah tahu siapa laki-laki itu.
“Ngapain Mas Hendri ke sini?” gumam Tiwi keheranan.
… Dan ….
Berani sekali pelayan itu mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bagaimana kalau Hendri sampai tahu dan salah sangka lagi kepada Tiwi?
__ADS_1
Tiwi menguatkan dirinya. Sebenarnya dia muak menemui Hendri. Namun, Hendri bahkan sampai melangkahkan kakinya ke rumah ini. Kini Tiwi tidak bisa berdiam saja. Tiwi harus memberikan peringatan, lalu mengucapkan selamat tinggal.
Tiwi kembali melangkah dan menghentikannya di depan Hendri.
“Ngapain Abang ada di sini? Bukannya Abang udah ngucapin selamat tinggal?” tanya Tiwi.
Hedri tidak segera menyahut. Mendapat sambutan dari ketus pun, amarahnya tidak tertarik. Dia malah tersenyum ramah.
Tiwi tidak salah lihat, kan?
… Atau mungkin, mata Tiwi telah digigit tawon seperti Sayang Galaknya Meta?
“Ada yang harus kita bicarakan,” jawab Hendri.
“Bicarakan apa lagi? Bukannya semua udah—“
Seketika Tiwi mematung. Dia juga tidak salah dengar, kan?
… Atau mungkin dia salah berpikir?
“Putri Sartika … dia anakku, kan?” tanya Hendri lagi.
Rupanya dugaan Tiwi benar: pendengarannya masih baik dan pikirannya masih sehat. Akan tetapi, bagaimana Hendri bisa tahu?
Sejak kapan?
Tiwi tidak ingat pernah salah membicarakan itu.
__ADS_1
“Ayo kita pergi ke taman,” ajak Tiwi. Dia langsung berbalik dan mulai melangkah. Kalau sampai para pekerja lain mendengar apa yang Tiwi dan Hendri bicarakan, mungkin ini bisa menjadi gosip yang akan mereka bicarakan selama berbulan-bulan.
Hendri pun bangun. Dia berjalan di belakang Tiwi mengikuti. Sebenarnya dia membawa mobil. Akan tetapi, Tiwi menolak hanya berdua saja di dalam ruangan yang tertutup.
Entah sudah kali ke berapa mereka berdua duduk di atas kursi taman ini berdua.
… Dan entah kali ke berapa Tiwi harus merasakan luka saat Hendri beranjak dari kursi ini.
“Maafkan aku. Aku udah banyak berbuat kasar sama kamu. Aku enggak tahu soal itu,” tutur Hendri merasa menyesal.
“Aku tanya siapa yang kasih tahu kamu soal itu?” Suara Tiwi sampai menaik.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1