Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
73. Kedewasaan Tiwi 2


__ADS_3

Selalu like dan komentar 🤗


Cuz ....


💃💃💃


Tiwi langsung memeluk Putri. Menahan air matanya dengan dadanya. “Udah-udah. Emangnya anaknya pelayan enggak boleh jadi putri?” tutur Tiwi berusaha menenangkan.


“Tapi, kan, putri itu anaknya bangsawan, Bu,” sahut Putri.


“Ya, enggak papa. Kan, putri pelayan. Biar pun anaknya pelayan, yang penting, kan, putri,” timpal Tiwi.


Akhirnya Putri meringis. Dia puas dengan jawaban yang didapatkannya dari sang ibu. Dia pun melingkarkan tangannya ke tubuh ibunya dengan sangat erat. Meski tidak memiliki ayah, teman, atau istana, Putri sudah sangat puas meski hanya dengan ibunya saja.


Tiwi pun mengusap kepala bagian belakang Putri dengan penuh kasih sayang. Meski dia hanya menunjukkan senyuman di depan Putri, sebenarnya yang berada di dalamnya dadanya terasa sangat berat. Kehidupan ini tidak semudah kehidupannya yang dulu.


Semua ini karena cinta sialan itu! Kini, Tiwi sangat menyesali keputusannya. Dulunya dia pikir dia akan baik-baik saja dengan keputusan itu. Namun, bagaimana dia bisa baik-baik saja sedangkan buah hatinya tidak?


Kasihan sekali Putri. Sudah tidak memiliki ayah, masih harus diolok-olok karena memiliki ibu seorang pelayan.


-oOo-


“Pak, Bapak!” seseorang berteriak dari luar rumah.

__ADS_1


Pak Doki yang tengah mengangkat sebuah gelas berisi kopi, kembali menurunkan benda itu ke atas meja. Dia menoleh ke arah pintu. Tak lama, seorang perempuan paruh baya masuk dari luar rumah.


“Ada apa, Bu?” sambutnya kepada Bu Ani.


Bu Ani datang dengan senyum semringah, meski napasnya ngos-ngosan. Tangan kanannya mengangkat sebuah amplop berwarna cokelat.


Ah, amplop itu lagi ….


“Amplop apa itu, Bu? Bayar denda? Tapi aku udah bayar air kemarin siang,” tutur Pak Doki bersikap bodohn.


Bu Ani merubah ekspresi senangnya menjadi manyun. Wajah Pak Doki masih datar. Sangat jauh dari ekspresinya. Padahal Bu Ani tahu benar kalau Pak Doki bisa menebak apa isinya.


Bu Ani mendekati Pak Doki. Dia duduk di samping Pak Doki sembari menyerahkan benda itu.


“Hendri? Tapi, kan, dia udah ngirimin duit seminggu lalu.” Pak Doki masih bersikap bodoh.


“Dari putrimu,” jelas Bu Ani merasa lelah dengan gurauan ini. Sudah tidak lucu lagi.


“Putriku?” Alis kanan Pak Doki terangkat.


“Iya. Putrimu yang katanya sekarang tinggal di Rusia itu,” jelas Bu Ani.


Akhirnya Pak Doki menarik amplop itu dari tangan Bu Ani. Dia pun membuka amplop itu. Sebuah foto mengisinya: foto bergambar salju.

__ADS_1


Pak Doki membalikkan foto itu. Beberapa kata mengisi halaman polos itu.


Aku masih seperti biasa, Pak, Bu. Aku baik-baik aja.


Oh, ya. Aku masih enggak tahu kapan, tapi di tahun ini, aku pasti akan pulang: maksudku kembali ke Indonesia.


Anak sialanmu ….


Pak Doki masih tak merubah ekspresinya. Dia malah menyerahkan kembali foto itu kepada Bu Ani dengan wajah dinginnya.


“Terserah mau kembali apa enggak, itu bukan urusanku,” tutur Pak Doki.


Bu Ani mengernyitkan dahi sembari menerima foto itu. Apa benar begitu?


Pak Doki pun bangun. “Kalau gitu aku mau ke kamar dulu,” pamitnya. Kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju kamar.


Apa benar begitu?


Tentu saja tidak. Sudah terbaca dari senyum yang mengisi wajah Pak Doki, saat pandangan Bu Ani tak mampu mencapainya. Kabar dari Zeo adalah kabar terbaik dalam hidupnya. Sudah lama Pak Doki merindukan anak sialannya itu. Sejak Zeo pergi ke Rusia, tidak ada lagi anak bandel yang bisa diomelinya. Hendri sudah dewasa dan menikah. Tentu saja kasihan dia kalau sampai mendapat omelan di depan istrinya.


Ya …, memang begitulah hubungan anak dan orang tua seharusnya. Sejauh apa pun jarak mereka, selama berapa pun tak berjumpa, anak tetaplah anak dan orang tua tetaplah orang tua. Ada istilah mantan istri atau mantan suami, tetapi tidak ada mantan anak atau mantan orang tua. Status itu selalu abadi sepanjang masa. Begitu pun yang kerap Zeo katakan kepada Bara ….


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2