Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
114. Pergi Lagi


__ADS_3

“Apa lagi?!” seru Zeo.


“Lo mau ke mana?” tanya Satria.


“Terserah gue ke mana pun gue pergi. Lagian kalian udah enggak bisa dipercaya lagi,” sindir Zeo.


“Kasih tahu kita. Seenggaknya, kita enggak perlu khawatir tentang lo. Lagian laki-laki berengsek itu pasti paham soal ini,” bujuk Satria.


Zeo menghela napasnya berulang-ulang. Berusaha menangkan diri agar pikirannya menjadi jernih.


“Gue mau balik ke rumah orang tua gue,” tutur Zeo.


“Kalo gini, kita enggak bakal kepikiran banget soal lo,” timpal Satria. Dia pun melepaskan tangannya dari koper Zeo.


“Oh, ya. Joffy mana?” tanya Zeo.


“Kenapa?” timpal Tiwi.


“Ya, mau gue ajak pulang, lah. Dia, kan, anak gue,” tutur Zeo.


Seketika Satria dan Tiwi saling berhadapan. Masing-masing mata mereka membelalak.


Gawat! Begitulah hati mereka memekik.


“Jangan, Ze!” seru Satria dan Tiwi bersamaan.


Dahi Zeo mengernyit. Dia tidak mengerti apa rencana kedua orang ini.

__ADS_1


“Apanya?” sahut Zeo.


“Maksud kita, jangan bawa Joffy pulang ke rumah lo,” tutur Satria mengambil alih pembicaraan.


“Tapi, kenapa? Gue yakin bokap gue pasti seneng banget kalo gue bawa cucunya pulang,” ujar Zeo.


Satria dan Tiwi sama-sama terdiam. Mereka sama-sama saling berpikir. Sialnya, mereka tidak bisa berdiskusi dengan bahasa batin. Bagaimana kalau jawaban mereka sampai berbeda?


Tangan Tiwi bergerak memegang kepalanya. Tiba-tiba lututnya terasa lemas. Dia terjatuh ke samping. Dengan sigap Satria menangkapnya.


“Eh, Wi. Lo kenapa?” tanya Satria panik.


Zeo melepaskan kopernya. Dia turut merasa cemas. Dia pun berjongkok di depan Tiwi. Sedangkan Tiwi terlihat lemas meski wajahnya tidak pucat.


“Lo kenapa, Wi?” tanya Zeo. Tangannya bergerap menyentuh dahi Tiwi. Dahi Tiwi memang hangat. Namun, bukankah yang namanya manusia pasti merasa hangat?


“Ya udah. Lo ke rumah sakit aja sekarang, ya,” ajak Zeo.


“Enggak usah, Ze. Gue cuma butuh istirahat aja buat beberapa hari di kamar,” timpal Tiwi.


“Kalo lo makin sakit, gimana?” tanya Zeo.


“Lo tenang aja. Gue enggak kena virus corona, kok. Jadi, enggak bakal sekarat,” jawab Tiwi berusaha menenangkan.


“Ya udah. Kita masuk kamar dulu aja.” Zeo mengangkat tatapannya ke arah Satria. “Tolong lo gendong Tiwi dulu, ya,” pinta Zeo.


Meski sebenarnya enggan, Satria akhirnya menggendong Tiwi. Kemudian berjalan di depan Zeo.

__ADS_1


Rasa cemas Satria menghilang saat Tiwi mengedip-edipkan kelopak matanya. Memberikan isyarat kalau dirinya baik-baik saja dan hanya berakting.


Ah, sial! Satria malah kesal. Kalau tubuh Tiwi ringan, dia akan baik-baik saja dengan ini. Namun, tubuh Tiwi berat sekali.


Setelah Tiwi terbaring di atas ranjang, Zeo bertanya, “Apa yang lo butuhin?” tanya Zeo.


“Kalo lo mau ke rumah orang tua lo, enggak papa. Lo bisa pergi. Tapi tolong tinggalin anak lo di sini,” pinta Tiwi.


“Buat apa?” tanya Zeo. Permintaan ini terdengar aneh.


“Karena gue sakit, gue butuh seseorang buat jaga Putri di sekolah. Putri, kan, enggak akrab sama pekerja-pekerja di sini. Dan gue bakal ngerasa lebih aman kalo anak lo yang jaga Putri,” tutur Tiwi.


Zeo diam memikirkan. Sebenarnya dia sendiri rindu pada anaknya dan penasaran bagaimana ekspresi orang tuanya saat melihatnya bersama seorang anak, setelah bertahun-tahun tidak pulang. Namun, dengan keadaan Tiwi saat ini, Zeo jadi merasa tidak tega.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2