Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
27. Sang Pahlawan Angin


__ADS_3

Pelarian Zeo berhenti untuk terakhir kalinya di depan gerbang sekolah. Karena tidak memiliki teman atau tempat tujuan, akhirnya hanya tempat ini yang bisa Zeo pikirkan. Dia pun memanjat pagar sekolah, lalu duduk berjongkok di depan perpustakaan. Perpustakaan itu sudah terkunci. Kemudian dia menutup wajahnya di dalam lutut.


Di dalam kesendiriannya itu, Zeo menemukan air matanya yang terusir oleh pelariannya tadi. Hening mengulang-ulang perkataan Tiwi dan membayang-bayangi pikiran Zeo. Dengan tubuhnya yang bergetar itu, akhirnya kaki Zeo tak mampu menopang kepalanya. Wajah Zeo terlepas dan kakinya bersimpuh lemas. Akhirnya tangisan Zeo mengeluarkan teriakannya.


“Mau ikut saya ke tempat lebih baik?” tanya sebuah suara laki-laki.


Zeo mendongakkan kepalanya. Seorang laki-laki menyodorkan tangannya. Meski cahaya di sana remang-remang, Zeo masih bisa mengenali laki-laki itu. Dia adalah Bara.


“Apa dengan keadaan saya sekarang, saya bisa merasakan sesuatu yang baik?” balas Zeo sinis.


“Mari bertaruh,” tantang Bara.


Zeo membuang muka. “Saya tidak tertarik bercanda. Bapak pergi aja,” usir Zeo.


“Saya akan pergi, tapi denganmu.” Tiba-tiba Bara menggenggam tangan Zeo dan menariknya.


Zeo menolak keras tarikan itu, tetapi Bara menariknya sangat kuat sehingga Zeo terpaksa tertarik. Karena mendapatkan keringanan tiba-tiba, Bara tidak bisa menyeimbangkan diri. Dia pun terjatuh dengan Zeo menindihi dirinya.

__ADS_1


Zeo hanya diam. Dia tidak marah karena ulah Bara. Bara menjadi keheranan. Dia pun berniat membangunkan Zeo. Namun, Bara malah merasakan sesuatu yang basah merayap di atas dadanya. Itu adalah air mata Zeo. Perempuan itu menangis dalam kediaman. Akhirnya Bara menyerah. Tangannya bergerak mengusap kepala Zeo.


Setelah Zeo merasa lebih tenang, kedua orang itu pun bangun dan bersama-sama menaiki tangga menuju atap. Sesampainya di sana, Zeo terperangah dengan pemandangan yang ditemukannya. Dia tersenyum terpukau akan keindahan langit hitam dengan bintang yang jarang. Seakan-akan hanya terisi rembulan. Keindahan dalam kesederhanaan. Sedangkan angin-angin mencoba memegang tangan Zeo yang terbuka. Merayunya untuk menari dalam keheningan.


“WAAA ….” Zeo berteriak untuk menangkap rasa lega dengan mulutnya. Teriakan itu berhenti sampai Bara memegang pundaknya dari belakang.


“Berhenti berteriak atau orang-orang di sekitar daerah ini akan terganggu. Kalo kedengaran pihak keamanan, gimana?” kata Bara.


“Kan ada Bapak. Bapak kan enggak mungkin ke sini diam-diam kayak saya,” timpal Zeo yakin.


Tidak mungkin apanya? Mobil Bara bahkan terparkir di depan gerbang sekolah. Tadi di jalan Bara melihat Zeo dalam keadaan kacau. Itu membuatnya khawatir sehingga mengikuti Zeo dari belakang sampai turut memanjat pagar.


“Kita kok bisa ke sini ya, Pak? Saya aja enggak tahu kalau kita bisa ke sini?” tanya Zeo. Dia bahkan tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di sekolah.


Bara mendekatkan bibirnya ke telinga Zeo. “Sebenarnya saya udah duplikatin kuncinya,” bisiknya.


Zeo tertawa pelan. “Berati kita enggak boleh ke sini, dong?” tanya Zeo.

__ADS_1


“Kan ada saya kamu bilang?” Bara meniru kalimat Zeo.


“Maksudnya ke sekolah, bukan ke sininya,” kata Zeo mengoreksi.


“Ini kan juga sekolah. Apalagi ini adalah tempat yang paling saya sukai.”


“Wah, jadi Bapak udah sering ke sini?” Wajah Zeo berseri-seri.


“Saya bahkan punya dua kunci duplikat. Kamu mau satu?” Bara mengeluarkan kunci itu dari dalam saku dan menunjukkannya kepada Zeo.


.


.


.


Selalu like dan koment🤗

__ADS_1


__ADS_2