
Boleh bagi like sama komennya, kan 🤗
Terima kasih 😙
Cuz ....
💃💃💃
“Seperti biasa: kami berhasil menjaga Tuan Satria sampai pulang ke rumah, Mbak,” lapor perempuan itu. Meski dia lebih tua dari Tiwi, dia tetap memanggil Tiwi dengan sopan sebagai atasannya.
“Ya udah. Kalian udah bekerja keras untuk hari ini. Sekarang kalian boleh istirahat,” tutur Tiwi membubarkan mereka.
Tiwi, pun, berbalik lebih dulu dan mulai melangkahkan kakinya menjauhi mereka.
“Bu Endang,” panggil salah seorang laki-laki tadi kepada perempuan paruh baya itu, yang kerap disapa Endang.
Endang menoleh. “Ada apa?” sahutnya.
“Selain menjadi kepala pelayan, dia, kan, udah punya anak. Masak sama Bu Endang masih dipanggil Mbak?” tanya laki-laki tadi.
__ADS_1
“Ssst …. Apa kamu enggak tahu, kalau meski udah punya anak, dia belum pernah menikah?” sahut Endang dengan suara lebih rendah.
Kedua laki-laki tadi langsung diam. Mereka merasa tidak enak hati.
Tiwi mengembuskan napasnya dengan berat. Dia memang sudah melangkah, tetapi jarak yang dilaluinya belum jauh. Meski Endang sudah berbicara dengan suara rendah, Tiwi masih bisa mendengarnya. Pendengaran Tiwi memang sensitif. Untung saja selama tinggal di sini, dia berhasil melatih kesabarannya. Di depannya, orang-orang menghormatinya. Namun, di belakang mereka terus berbicara dan merendahkannya.
Mau bagaimana lagi? Tiwi hanya bisa diam dan tersenyum di depan mereka saja. Lagi pula dia yang salah. Kesalahan ini memang tidak patut dihargai.
Ini sudah malam. Para pekerja sudah berbubaran. Tiwi hanya menunggu ketiga bawahan dan Satria saja tadi. berstatus sebagai kepala pelayan di sini, tanggung jawab yang berada dalam genggamannya semakin besar saja.
Koneksi memang menakutkan. Padahal Tiwi baru setahun bekerja menjadi pelayan, tetapi Satria sudah memindahkan posisi kepala pelayan kepadanya. Satria menyuruhnya menggantikan Bu Tini yang mengundurkan diri dan ingin fokus ke dalam rumah tangganya.
Sebenarnya Tiwi sempat menolak. Namun, Satria malah memaksa dirinya dan tidak menerima penolakan.
Itu juga yang membuat Tiwi kerap dibicarakan di belakang oleh pekerjanya. Tiwi hanya menanggapi mereka dengan sikap tak acuh dan pura-pura tidak tahu. Terserah mereka saja. Lagi pula Tiwi tidak pernah melalaikan tugasnya. Kini dia telah menjadi perempuan dewasa. Rupanya waktu dan kesulitan berhasil merubahnya.
Tiwi memasuki kamarnya yang luas dan mewah. Ini adalah salah satu bagian milik Tiwi yang diirikan pekerja lainnya. Masak pembantu tinggalnya di rumah majikan? Di kamar pribadi lagi ….
Seorang anak perempuan yang hampir berusia enam tahun hanya duduk di atas ranjang. Rambut keriting sebahunya menjadi acak-acakan. Tiwi menjadi khawatir. Padahal tadi, anak itu sudah tidur. Kenapa tiba-tiba bangun di malam hari?
__ADS_1
Tiwi bergegas mendekati anaknya. Kemudian duduk di atas ranjang, di samping anak itu.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Tiwi perhatian.
Anak itu menoleh ke ibunya dengan sudut bibir yang turun ke bawah.
“Aku susah tidur, Bu,” jawab anak itu.
“Tapi kenapa?” tanya Tiwi khawatir.
“Tadi, anak-anak di sekolah pada ngejekin aku,” lapor anak itu.
“Emangnya kenapa lagi, Sayang?” tanya Tiwi.
“Mereka bilang, aku ini Putri palsu, Bu. Masak putri kok anaknya pelayan?” Kini, anak itu yang menyebut dirinya Putri mulai menangis.
.
.
__ADS_1
.
.