
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Zeo memindahkan lirikannya ke arah Bara. “Sayang. Kayaknya kamu sendiri aja ya, yang temenin Joffy,” pinta Zeo.
“Dan kamu mau pacaran sama anak tirimu?” sindir Bara. Sebenarnya dia kecewa berat pada kebetulan ini.
Zeo mengembuskan napas beratnya. “Ayolah. Nanti kalau bisa, aku pasti nyusul, kok,” bela Zeo.
“Dan pastinya kamu enggak bakal bisa,” sindir Bara.
Zeo tak lagi menyahut. Ucapan Bara bisa jadi adalah benar.
Bara menoleh ke bawah. Kemudian mengangkat Joffy sehingga berada pada gendongannya. “Ayo, Joffy,” ajak Bara.
Mereka berdua pun pergi lebih dulu meninggalkan Zeo dan Satria yang hanya menundukkan kepala sedari tadi. Masih tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu Zeo.
“Masuklah,” kata Zeo mempersilakan.
Baru satu kali kaki Satria melangkah, dia langsung berhenti. “Tapi ….” Sesuatu membuat Satria tidak nyaman memasuki rumah itu.
“Bokap sama nyokap lagi pergi. Bang Hendri sakit soalnya,” jelas Zeo seolah mengerti ketidaknyaman di hati Satria.
__ADS_1
Satria mengembuskan napas lega. Kemudian berjalan mengikuti Zeo masuk ke rumah.
Setelah Satria duduk, Zeo tidak langsung turut begitu saja. Dia malah pergi ke dalam rumah. Tak lama, Zeo kembali dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh. Dia meletakkan nampan itu ke atas meja dan menyodorkan secangkir untuk Satria, sedangkan satunya untuk dirinya.
“Ada apa lagi?” tanya Zeo.
“Gue … gue habis lamar Tiwi.”
Ah, sial! Satria tak menyangka bisa mengakui hal ini. Sedangkan Zeo hanya melihat. Dia tidak terkejut. Akan tetapi, tindakan Satria masih asing baginya.
“Terus?” sahut Zeo.
“Gue ditolak,” aku Satria dengan menunduk lesu.
Zeo ingin tertawa. Akan tetapi, tertawa di atas penderitaan orang adalah dosa, kan?
Zeo yang tadinya mau meminum tehnya tidak jadi. Bisa-bisa dia tersedak. Dia pun meletakkan cangkir itu ke atas meja.
Satria membelalakkan matanya. Dia langsung menoleh ke Zeo dengan ekspresi wajah tak percaya.
“Enak aja lo ngomong gitu setelah apa yang lo lakuin ke gue!” pekik Satria.
“Emangnya apa yang udah gue lakuin?” Zeo malah bertingkah bodoh.
“Gara-gara lo … gara-gara lo gue jadi sadar kalau gue suka sama Tiwi,” jelas Satria.
“Gue, kan, enggak nyadarin lo buat ngelamar tuh janda perawan, Bambang,” elak Zeo.
__ADS_1
Satria mengaku ucapan Zeo adalah benar. Zeo menyadarkan perasaannya untuk membatasi perasaan itu, bukan malah bertingkah konyol seperti ini.
“Enggak tahu!” seru Satria tidak mau tahu, “pokoknya semua ini gara-gara lo, jadi lo harus bantu gue!”
“Bantu apaan?” tanya Zeo.
“Bantu nasehatin si Tiwi biar nerima lamaran gue,” jawab Satria.
“Lo yakin?”
“Iya. Keburu digebet abang lo lagi,” sindir Satria.
“Ya udah ya udah,” timpal Zeo akhirnya.
Satria tersenyum senang. Dia merasa puas dengan jawaban yang Zeo berikan.
-o O o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗