
Sebenarnya ucapan Tiwi tidak ada yang salah. Dia hanya kurang dalam mengucapkannya. Ada sesuatu yang seharusnya dia katakan kepada Satria, malah terlupakan.
“Apa cewek itu enggak bisa gitu, bilang gue makasih?” tanya Satria kepada udara yang melayang di dalam kamarnya.
Ah, entahlah!
Percuma saja Satria mengharapkan itu. Bagaimana dia bisa lupa kalau Zeo dan Tiwi adalah manusia satu spesies?
… Manusia tak berotak.
-oOo-
Usai kepergian Tiwi dan Satria tadi, Zeo langsung menarik lengan kakaknya agar duduk di atas sofa.
“Bang Hendri ini apa-apaan, sih?” tegur Zeo.
Hendri diam dengan menunduk. Dia merasa bersalah karena sejenak kehilangan jalan berpikirnya. Apalagi saat melihat ke depan, dia malah melihat Joffy yang masih belum melepaskan kedua tangannya dari kedua mata. Anak kecil itu saja tahu mana yang benar atau tidak.
“Sebentar. Jangan ke mana-mana!” titah Zeo.
Zeo langsung bangun dan keluar dari rumah. Ke mana sebenarnya dia pergi malam-malam seperti ini?
Sebelum Hendri sempat bertanya, punggung Zeo sudah lenyap tertelan belokan.
Hendri kembali menghadap ke arah keponakannya. “Joffy,” panggilnya.
__ADS_1
Meski Hendri berasal dari kampung dan tidak secerdas Bara dan Satria, rupanya dia masih lebih baik dibanding mereka dalam menyebutkan nama anaknya Zeo.
Perlahan, Joffy menurunkan kedua tangannya.
“Nama kamu Joffy, kan?” tanya Hendri memastikan.
Joffy menganggukkan kepala.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Hendri.
“Lagi nungguin papa,” jawab Joffy.
“Papa?” Hendri mengernyitkan dahi. Sebenarnya kata itu terdengar asing di telinga. Kemudian dia memanggut-manggutkan kepala seolah mengerti. “Oh, ayah kamu …. Bukannya dia lagi di luar kota?” tanya Hendri. Sebenarnya Zeo sempat menceritakan tentang Bara kepadanya. Tentu saja hanya cerita yang baik-baik.
“Kata Mama iya. Tapi Papa kok enggak pulang-pulang, ya?” Joffy mengerucutkan bibir sedih.
“Papa kamu nanti pasti pulang. Jadi, Joffy tidur dulu aja,” timpal Hendri.
“Tapi Mama belum balik,” dalih Joffy.
“Oh, ya. Kebetulan masih ada yang mau kami bicarakan. Joffy tahu, kan, kalau anak kecil enggak boleh gabung sama pembicaraan orang dewasa? Nanti kayak tadi, lagi,” timpal Hendri.
Joffy mengangguk-angguk. Melihat acara pertengkaran tadi saja sudah membuatnya merasa sebal.
“Kalo gitu, anterin Joffy ke kamar ya, Om,” pinta Joffy.
__ADS_1
Akhirnya Hendri menerbitkan senyum di wajahnya.
“Ya udah. Ayo. Biar Om anterin,” balas Hendri setuju.
Hendri pun bangun. Dia mendekati Hendri lalu menggendong anak itu. Kemudian membawa anak itu masuk ke kamar ibunya. Setelah memperbaiki posisi tidur Joffy, barulah Hendri keluar dari kamar itu.
Saat kembali ke ruang tamu, Hendri sudah menemukan Zeo yang berdiri di samping pintu dengan ekspresi wajah kebingungan. Sedangkan di tangannya sudah menggenggam sebuah kantong plastik kecil berwarna hitam.
“Dari mana kamu?” tanya Hendri memecahkan keheningan.
Zeo menoleh. Dia bernapas lega melihat kakaknya masih berada di rumah ini. Dia pun mengangkat kantong plastik itu. “Beliin Abang plaster. Lihat, tuh, wajahnya jadi bonyok-bonyok.” Zeo melirik ke depan, menunjukkan wajah Hendri yang penuh lebam karena kepalan tangan Satria.
Hendri menyentuh wajahnya sendiri. Benar. Perih masih terasa. Dia tadi lupa karena saking sibuknya mengurus Joffy.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗