
Hatchi! Hatchi! Tiba-tiba saja Zeo bersin.
Ada apa ini?
Padahal Zeo sedang berada dalam pesawat. Tadi dia juga tidak kehujanan?
Kenapa tiba-tiba?
-oOo-
Sunyi dan sepi, begitulah definisi rumah Bara saat ini. Tidak ada Zeo yang terus mengoceh atau Joffy yang menegur ini itu.
Bagaimana Bara bisa hidup sendiri dengan nyaman sebelum ini?
Baru sekarang Bara merasakan betapa tidak enaknya sendirian.
Tidak ada yang memasak dan tidak ada yang membersihkan rumah. Dia pun harus bekerja sendirian. Tidak ada yang menghiburnya di saat keringat memenuhi tubuhnya.
Akhirnya Bara memilih menghabiskan waktu untuk hibernasi. Ya …, dia hanya tidur saat tidak bekerja. Lagi pula tidak ada yang bisa dikerjakannya. Tanpa para pengacau itu, rumahnya selalu bersih dan berkilau.
Kemarin malam, Bara ingat betul kalau dia tidur sendirian seperti malam-malam biasanya. Namun, saat dia membuka mata di pagi hari, malah sosok lain sudah berada di sampingnya.
Tidak-tidak. Itu bukan kuntilanak, sundel bolong, atau makhluk halu selainnya. Bukannya tertawa, dia malah tersenyum.
“Zeo?” Bara menyebut nama itu dengan ekspresi wajah keheranan. Dia tidak salah lihat, kan?
… Atau Bara sedang bermimpi?
“Ngapain kamu ada di sini?” tanya Bara.
“Emangnya enggak boleh aku pulang ke rumahku sendiri?” timpal Zeo.
__ADS_1
“Bukannya kamu udah ninggalin aku?” sindir Bara.
“Makanya aku balik: untuk menjemputmu ikut bersamaku pergi,” bela Zeo.
“Buat nemuin anak sialanku itu?” tebak Bara. Dia langsung berbalik sehingga hanya punggungnya yang menyapa Zeo.
“Aku enggak tertarik,” gumam Bara.
Zeo langsung memeluk Bara dari belakang. Sedangkan kepalanya sedikit terangkat sehingga bibirnya menyamai posisi telinga Bara. “Kan, kamu yang nyesel. Berarti kamu yang salah.”
“Aku emang salah dan aku udah minta maaf. Tapi anak sialan itu aja yang sok jual mahal,” sindir Bara.
“Ya, kamu harus berusaha lagi, dong,” rayu Zeo.
“Aku udah berusaha selama bertahun-tahun. Dan semua itu enggak ada artinya sama sekali. Aku udah nyerah,” tegas Bara.
“Kalau kamu nyerah, gimana nasib anakmu?” tanya Zeo.
“Satria enggak baik-baik aja tanpa kamu, Sayang. Dia cuma benci kamu. Sebetulnya dia masih butuh kamu,” bela Zeo.
Telinga Bara semakin terasa panas saja. Zeo tidak henti-hentinya membela Satria. Dari pada menjadi istri, dia benar-benar seorang ibu.
Bara pun berbalik sehingga dirinya menghadap Zeo. Zeo masih tersenyum tanpa ekspresi wajah tak bersalah.
“Kamu kok belain dia terus, sih? Aku, kan, juga mau dibelain,” rengek Bara.
Hampi saja Zeo tertawa. Apa Bara tengah mengikrarkan kecemburuannya?
“Ya udah ya udah. Kita sudahi dulu aja sekarang. Lagian ada yang mau aku omongin juga,” tutur Zeo setuju.
“Ngomongin apa?” tanya Bara.
__ADS_1
“Ayo kita berbulan madu ke Bali,” ajak Zeo.
Bara mengernyitkan dahi. Bulan madu setelah enam tahun pernikahan?
Apa sebegitu membosankannya hidupnya Zep?
“Kamu kurang kerjaan, ya?” tutur Bara.
“Ayolah. Aku ingin sekali merasakan kehidupan sebagai pengantin baru. Kamu, kan, tahu sendiri, setelah pernikahan, aku harus sibuk mengurus anak,” rayu Zeo.
“Salahmu sendiri. Masih kecil sok-sok’an jadi dewasa. Harusnya kamu tahu umur kalau mau rayu aku,” ejek Bara.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1