Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
88. Puzzle Yang Terlempar


__ADS_3

Ah, sudahlah. Bara lelah menunggu.


“Aku pergi dulu,” pamit Bara.


Zeo yang tengah tertarik pada sepasang pakaian, langsung menoleh.


“Tapi aku belum dapat,” protes Zeo.


“Kamu bisa terus memilih dan aku akan tetap menunggu. Aku cuma lelah aja berdiri. Jadi, aku akan menunggumu di rumah makan sebelah sana.” Bara menunjuk sebuah rumah makan yang tampak ramai.


Pandangan Zeo mengikuti arah telunjuk Bara. Setelah mengerti, dia mengangguk. “Ya udah. Nanti aku nyusul ke sana,” timpal Zeo setuju.


Kaki Bara terangkat. Akhirnya dia pergi dari toko pakaian itu. Perutnya sudah berteriak sedari tadi. Maklum saja: saking asyiknya bermain, mereka sampai lupa kalau tadi belum sarapan.


Sarapan dari mana coba?


Sesampainya di kamar, kemarin mereka terus bergelut satu sama lain. Mana punya waktu untuk belanja? Mereka, kan, memang tidak makan makanan, tapi kesenangan.


Sesampainya di rumah makan itu, Bara mengedarkan pandangannya ke segala arah. Saking ramainya tempat itu, Bara sampai kesulitan menemukan kursi kosong. Untung saja dia tidak menyerah dengan sekali pandangan. Akhirnya dia menemukan sebuah kursi kosong di tempat paling ujung.


Senyum semringah terukir di atas rahang Bara yang lebar. Dia pun bergegas ke sana.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi, kaki Bara berhenti. Tiba-tiba dia merasa lemas sampai tak kuat mengangkat sang kaki. Dia pun hanya mematung di tempat.

__ADS_1


Seorang perempuan berambut hitam kemerahan telah meraih tempat kosong di sana lebih dulu. Dia sibuk membenahi rambut panjang yang dengan berani menyembunyikan kecantikan dari kulit kecokelatannya, sampai tidak menyadari kalau seseorang sudah melihat tempat itu lebih dulu. Perempuan itu langsung duduk tanpa rasa bersalah.


Bara kebingungan di tempat. Antara pergi atau mencari tempat duduk lain. Kebingungannya telah memakan waktu sangat lama. Sampai-sampai perempuan itu menyadari kehadirannya.


“Bara,” sapa perempuan itu. Senyum turut terukir di wajahnya. Takdir macam apa ini? Rupanya sudah lama ….


“O-o-oh … hai,” balas Bara. Dia mengangkat tangannya yang kaku. Pertemuan ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


“Enggak nyangka. Udah lama, ya,” sambung perempuan itu.


“O-o-oh,” sahut Bara.


Meski perempuan itu sudah berusaha mencairkan keadaan, Bara tetap pada kekakuannya.


Meski benar, Bara tetap membisu.


Perempuan itu kembali tersenyum. Dia sadar benar akan kecanggungan yang tengah berada di sekelilingnya ini.


“Duduklah di sini. Lagian aku enggak nunggu orang juga,” tutur perempuan itu.


“E-enggak usah,” tolak Bara.


“Tenang aja. Aku enggak bakal nusuk kamu di sini,” ujar perempuan itu.

__ADS_1


Perempuan itu memang tidak menusuk Bara saat ini. Namun, dengan mengatakan itu, bekas luka tusukan di masa lalu kembali menyakiti Bara. Kalimat itu berhasil membangkitkan kenangan lama yang Bara kira telah ditimbun untuk selama-lamanya.


“Lagian enggak ada kursi lain di sini,” imbuh perempuan itu.


Bara memutar kepala. Kembali mengedarkan pandangan ke segala arah. Dengan sangat berharap bisa menemukan sebuah tempat kosong di sana. Sialnya, hari ini takdir tidak sedang berpihak kepadanya. Semua tempat penuh. Kalaupun ada kursi yang kosong, hanya ada satu saja. Lalu mau dia sisihkan ke mana si Zeo?


.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2