
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Satria menjadi lemas. Meski pamannya sempat menyembunyikan sesuatu, Andi tak pernah berbohong kepadanya. Sama seperti tadi.
Merasa tidak ada obrolan lagi yang diperlukan, Andi pun menata diri, lalu beranjak dari tempat ini, meninggalkan Satria sendiri.
Satria terpaku. Ia bingung harus bergerak bagaimana. Ia merasa lemas karena kehilangan jejak Tiwi.
Ponsel Satria berbunyi memecahkan lamunan laki-laki itu.
Satria mengambil ponselnya. Rupanya ada panggilan dari Zeo. Ia pun menerima panggilan itu.
“Ada apa?” sambutnya.
“Sepertinya aku tahu keberadaan Tiwi.”
Sepasang mata Satria hidup seketika.
“Apa maksud lo? Lo yakin, kan? Di mana?” Seolah seluruh pertanyaan yang memenuhi kepala Satria berloncatan keluar.
-oOo-
__ADS_1
Satria tergesa-gesa menuju rumah Zeo. Tidak peduli jika hari telah larut sesampainya dirinya di sana. Jika sampai pintu masih tertutup, Satria tidak akan mengorbankan waktunya dengan tidur di depan pintu sampai terbuka dengan sendirinya. Satria akan menggedor-gedor dan menciptakan kericuhan. Salah sendiri Zeo memberikan kabar tiba-tiba. Untung saja Zeo tidak tertidur. Ia terus berdiri di teras rumah sembari menunggu Satria.
“Dasar anak sialan itu! Kenapa dia kemari tanpa melihat waktu?” dumel Zeo.
“Jadi, di mana Tiwi?” Satria mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Barangkali menemukan Tiwi.
“Ayo masuk dulu.” Zeo menggerakkan kepala ke arah pintu.
Satria pun menutup mulutnya, berusaha bersabar. Kemudian berjalan mengikuti di belakang Zeo.
Satria pun duduk setelah Zeo mempersilakan.
“Kayaknya Tiwi ada di rumah Bang Hendri.”
Alis Satria tertarik kuat-kuat. Zeo tidak sedang bercanda, kan?
“Gue juga enggak percaya sebelumnya meski gue udah punya dugaan. Dengan hubungan memburuk di antara mereka, bagaimana itu mungkin?”
Satria menggeleng-gelengkan kepala. “Itu enggak mungkin. Emangnya lo tahu dari mana?”
“Gue bilang itu hanya dugaan. Tadi pagi aku dihubungi kakak ipar. Katanya, Bang Hendri bersikap aneh akhir-akhir ini. Dia makan lebih dari biasanya dan tanpa sepengetahuan kakak ipar. Dan kakak ipar sempat dengar suara cewek di kamar lain. Karena takut Bang Hendri benar-benar selingkuh, kakak ipar langsung hubungin gue. Untung aja gue berhasil nenangin dia untuk beberapa hari ke depan.”
“Jadi, kita harus gimana? Apa kita langsung ke rumah Hendri sekarang?” Tanpa memberikan aba-aba, Satria langsung mengangkat pantatnya.
“Eh ….” Zeo berusaha menahan langkah Satria.
Satria menoleh keheranan tanpa menghilangkan ekspresi paniknya.
__ADS_1
“Lo enggak usah ke sana,” tegas Zeo.
“Tapi ….”
“Cukup gue aja. Kedatangan lo enggak akan memperbaiki suasana. Dan gue butuh waktu berdua buat bujuk Tiwi.”
“Tapi, kan—“
“Gue harap lo bisa percaya sama gue.”
Satria mengembuskan napasnya. Jika Zeo memaksa, apa yang bisa dilakukannya?
Akhirnya Satria menganggukkan kepala. Ia hanya bisa pasrah dan percaya seperti yang Zeo inginkan.
-oO o-
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗