
“Kalo gitu bapak kamu.”
“Umur bapak saya juga enggak empat puluh tahun, tapi enam puluh tahun lebih empat bulan dua minggu lima hari.”
Guru itu berdesis sembari menekan cubitannya. Zeo terlalu pandai bicara sampai membuatnya kehabisan kata-kata.
“Jadi saya harus manggil kamu apa?” Zeo masih menanyakan itu. Entah dia memang berani atau dia memang bodoh.
“Tetap panggil Bapak. Kalo saya punya anak, dia sudah seusia kamu.”
Tak terasa, langkah mereka sudah berhenti di depan kelas. Guru itu memposisikan Zeo berdiri di depan dinding di samping pintu kelas. Dia pun melepaskan tangannya dari telinga Zeo.
“Karena kamu sudah terlambat sebelumnya, maka kamu enggak boleh ikutin pelajaran saya sampai selesai. Kamu berdiri di sini sampai pergantian pelajaran.”
__ADS_1
Ealah …. Rupanya guru ini malah lebih aneh dari guru biasanya. Kalau akhirnya seperti ini, kenapa dia malah bersusah payah mengejar Zeo? Apa guru itu seorang Pemberi Harapan Palsu? Laki-laki itu sudah memberikan dua plot twist dengan mengejar Zeo dari belakang dan hanya meninggalkan Zeo di depan pintu kelas—lebih tepatnya di depan dinding di samping pintu kelas.
Guru itu hendak kembali ke memasuki kelas, tetapi Zeo langsung menahannya, “Tunggu, Mas … eh, Pak!”
“Ada apa?”
“Apa Bapak udah nikah?”
“Udah. Dua puluh tahun yang lalu,” jawab guru itu sebelum benar-benar memasuki kelas.
Entah kenapa Zeo merasa sedih seketika setelah mendengarnya. Ah, memangnya apa yang Zeo harapkan dari pertemuan ini? Ciuman yang terjadi beberapa hari lalu bukanlah sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang istimewa hanya dilakukan secara istimewa kepada seseorang yang istimewa. Sedangkan ciuman itu terjadi begitu saja dan diberikan kepada orang yang masih asing.
Tunggu-tunggu ….
__ADS_1
Jika laki-laki itu sudah menikah, berarti Zeo sudah mencium suami orang. Bisa dimaklumi jika Zeo melakukan itu karena Zeo tidak tahu apa pun, tetapi laki-laki itu kan lebih tahu dari siapapun. Astaga! Apa ini yang sebenarnya terjadi? Siapa laki-laki itu? Apa dia seorang playboy?
Ah, sial, sial, sial! Setelah berhasil keluar dari sarang singa, kini Zeo malah berjumpa dengan buaya. Dia sudah melepaskan diri dari langit Satria, kini dia malah bertemu lagi dengan playboy itu. Sudah bertemu dengan laki-laki itu, tidak mungkin Zeo tidak akan berurusan dengannya. Apalagi setelah laki-laki itu berhasil mengenalinya. Apa jangan-jangan laki-laki itu sudah mengenalinya?
Zeo-Zeo-Zeo, kesialanmu tiada habis-habisnya. Apa yang sebenarnya telah kamu lakukan di kehidupanmu yang sebelumnya?
Saat laki-laki itu keluar dari kelasnya, Zeo langsung membalikkan badannya. Dia masih tidak berani menunjukkan wajahnya di depan laki-laki itu. Setelah laki-laki itu pergi, lekas Zeo memasuki kelasnya dan duduk menunduk sepanjang jam pelajaran. Dia masih berketar-ketar karena teroran pertanyaan yang belum didapatkannya jawaban.
Meski wajah Zeo tertutup topeng saat itu, dia dan laki-laki itu sudah berbicara cukup panjang. Laki-laki itu bahkan sudah menyentuh tubuhnya. Jika tidak dengan wajah, laki-laki itu akan mengenalinya dengan suaranya. Hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa mengenali Zeo. Semestinya laki-laki itu menjadi guru bukan karena kebodohannya.
Lagipula laki-laki itu mengatakan kalau dirinya adalah guru les Satria, tetapi kenapa laki-laki itu malah menjadi guru tetap di sekolah ini? Apa laki-laki itu membohonginya?
Zeo-Zeo-Zeo. Itu bukan yang paling penting untuk sekarang. Jika laki-laki itu sampai mengenali Zeo, kehidupan Zeo di sekolah pasti akan berubah. Bagaimana dia bisa belajar dari seseorang yang sudah menciumnya?
__ADS_1