
Zeo mulai melangkah di belakang Bara. Tiba-tiba dahinya menatap punggung Bara dan seketika langkahnya berhenti. Kenapa Bara tiba-tiba berhenti?
Zeo melangkah ke samping untuk melihat Bara. Namun, Dia malah melihat perempuan bekulit cokelat yang dia temui kemarin, berdiri di depan Bara.
“Kenapa perempuan itu bisa ada di sini?” Zeo keheranan sendiri.
Shira mengangkat tangannya dengan melukis senyum lebar di wajah. “Hai,” sapanya.
Zeo menoleh ke Bara. Suaminya hanya terdiam tanpa menjawab. Zeo pun berjalan beberapa langkah lagi sehingg berada tepat di depan Bara. Menjadi penghadang di antara Bara dan Shira.
Zeo ikut tersenyum. Tangan kanannya terangkat melambai. “Hai juga,” balasnya.
“Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini,” tutur Shira, “padahal baru kemarin kita bertemu.”
“Benarkah?” sahut Zeo.
“Apa kalian pernah mendengar kalau pertemuan ketiga adalah takdir?” tanya Shira.
Zeo mengernyitkan dahi. Bukannya itu dialog drama Korea?
“Kita udah ketemu dua kali. Di pertemuan ketiga kita, apa itu bisa disebut takdir?” Shira bertanya lagi.
Zeo benar-benar tidak nyaman dengan cara Shira berbicara. Apa lagi saat perempuan itu menyebut ‘kita’, tatapannya selalu mengarah ke Bara.
Memangnya sejak kapan Shira dan Bara pernah menjadi ‘kita’?
“Apa maksudmu?!” seru Zeo merasa tersinggung.
__ADS_1
Akhirnya Shira menurunkan tatapannya. Kini dia mengarakan pandangannya ke Zeo. Dia malah tersenyum. “Maksudku, kalau kita sampai bertemu lagi untuk ketiga kalinya, mungkin aja kita udah ditakdirin sebagai teman.”
Sebenarnya Zeo tidak yakin dengan penuturan Shira.
“Oh, ya. Kalian ngapain ke sini?” tanya Shira mengalihkan topik pembicaraan.
“Berbelanja oleh-oleh untuk keluarga,” jawab Zeo dengan nada suaranya yang menjadi dingin.
“Benarkah? Wah …. Padahal aku baru saja membelinya.” Shira mengangkat dua tas yang dia pegang dengan binar-binar memantul di kedua matanya.
“Lalu di mana barang-barang kalian?” tanya Shira. Sepertinya dia tidak menemukan barang apa pun selain ponsel di tangan Zeo dan topi telinga di kepala Zeo pula.
“Kami belum membelinya,” Zeo masih saja menyahuti. Meski dalam hati, dia ingin waktu berputar lebih cepat.
“Bagaimana kalau aku bantu mencari. Aku kenal banyak barang-barang yang dijual di sini. Kebetulan aku emang sering liburan ke Bali,” tutur Shira menawarkan diri.
“Sebenarnya kami mau pulang,” tutur Zeo.
Bara menoleh. Dia terkejut mendengar penuturan Zeo tiba-tiba.
“Tapi kenapa?” Shira menanyakan pertanyaan Bara yang hanya mampu disuarakan dalam hati.
“Kepalaku sedikit sakit. Jadi kami memutuskan pulang lebih dulu,” ujar Zeo berbohong.
“Kalau gitu, kami balik dulu, ya,” pamit Zeo. Kemudian mulai melangkah tanpa melepaskan tangan Bara. Sedangkan Bara menurut begitu saja.
-oOo-
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tanya Bara sesampainya di rumah.
Zeo sakit kepala?
Bara tidak yakin itu sama sekali.
Zeo yang tengah mengganti pakaiannya menoleh sedikit. “Apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Kenapa kamu mengajakku pulang tiba-tiba. Kita bahkan belum membeli satu pun oleh-oleh,” tutur Bara.
Meski baju sudah diganti, Zeo tetap tak menoleh. Dia tak berani menunjukkan wajahnya. “Tidak apa-apa,” jawabnya berbohong.
“Pasti ada apa-apa. Katakanlah!” seru Bara.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗